10 LAGU GOD BLESS PILIHAN

Yang sulit dari menulis daftar ini adalah mengubah mindset pribadi saya bahwa God Bless itu bukan hanya tentang album Cermin.

3
68
Formasi God Bless hari ini - Foto dok. godblessrocks.com.

GeMusik – Cermin adalah satu dari tiga album paling penting yang membuat saya tertarik pada genre bernama progressive rock ini. Dua lainnya adalah Fragile (Yes) dan Images & Words (Dream Theater). Sebegitu pentingnya ketiga album ini sampai pada suatu ketika saya pernah bermimpi menjadi seorang keyboardist handal seperti Abadi Soesman, Rick Wakeman, dan Jordan Rudess. Haha! Laugh at me now!

Tetapi saya juga sadar bahwa album semonumental Cermin tidak mungkin tercipta begitu saja. Butuh sebuah proses, perjalanan, darah dan keringat – bahkan nyawa – untuk membuat sebuah album seperti itu. Pun saat kita semua tahu fakta bahwa penjualan Cermin pada saat itu bisa dibilang jeblok, akan penting melihat ke mana arah musik mereka selanjutnya.

Di sinilah lalu saya menemukan alasan untuk meriset, mendengarkan dan mendalami album-album God Bless yang lain. Connecting the dots. Mendengarkan betapa “mentahnya” mereka di album debut self-titled yang jika dilihat dari sudut pandang sekarang seperti banyak melakukan ‘plagiasi’ terhadap lagu-lagu rock dari luar. Coba saja dengarkan “Rock Di Udara” lalu bandingkan dengan “Stormbringer” milik Deep Purple, atau kemiripan yang amat sangat dari “Balada Sejuta Wajah” dengan “In the Court of the Crimson King” milik King Crimson.

Belum lagi asingnya (industri musik) kita dengan isu “hak cipta”, propaganda majalah Aktuil (selaku propagandis rock barat), bongkar pasang personel God Bless, “meramahkan” musik mereka di album Semut Hitam, pergantian gitaris di Raksasa, hingga unifikasi ambisius Ian Antono dan Eet Syahranie di album Apa Kabar?, berikut drama-drama selanjutnya.

Dengan kata lain, demi menarik satu garis lurus perjalanan karir band rock paling survive di Indonesia ini dari sudut pandang saya selaku generasi sekarang yang tidak pernah hidup di zaman itu.

Tanpa perlu berlama-lama lagi, inilah 10 lagu God Bless pilihan menurut penilaian subjektif saya terhadap materi-materi mereka. List ini saya urutkan berdasarkan tahun rilis masing-masing lagu.

1. “Setan Tertawa” – dari album God Bless (1975)

Apakah Ahmad Albar dkk habis mendengarkan “Stairway to Heaven” (Led Zeppelin) dan “Siberian Khatru” (Yes) saat menulis lagu ini?!

Paradoks janji-janji pembangunan orde baru dan realita yang sedang terjadi mungkin merupakan sebuah kegelisahan tersendiri bagi God Bless kala itu. Satu contoh, saya rasa kita sama-sama mengamini bahwa terbukanya keran-keran politik dan kebudayaan Indonesia terhadap pengaruh asing saat Orde Baru membawa dilemanya tersendiri.

Di satu sisi ia memang “membebaskan” (kalau tidak, God Bless mungkin sudah main Lenso pada saat itu!), tapi di sisi lain ada pemikiran, ideologi, moral, hingga budaya bangsa yang tergerus olehnya. Serupa dengan kegelisahan yang nantinya dimanifestasikan dalam album fenomenal Guruh Gypsi beberapa tahun setelah lagu ini dirilis.

Ibu tertawa bagaikan orang gila

Anak dijual sangat murahnya

Harga diri dibuang asalkan harta

Setan tertawa gembira

Dalam empat baris lirik itu, saya menemukan: jati diri bangsa, ekonomi, budaya, dan… Freeport?!

2. “Musisi” – dari album Cermin (1980)

Kalau kamu bisa main ‘Musisi’, kamu bisa main lagu apapun,” begitu kata seorang teman, di tahun 2009.

Lagu ini yang selalu mengingatkan saya kepada saat-saat menjadi penonton rutin festival rock di masa SMP-SMA saya. “Musisi” selalu tertera menjadi lagu wajib di sana, kadang bersanding dengan lagu God Bless lainnya, “Kehidupan”.

Mendengarkan “Musisi” seperti mendengarkan Tony Banks yang digabung dengan gaya Amerika-nya Kansas serta sedikit Gentle Giant dan The Nice di sana-sini.

Apakah lirik lagu ini adalah curhat Donny Fattah mengenai karirnya sebagai seorang musisi? Mungkin. Yang jelas beberapa saat setelah lagu ini dirilis, dia akhirnya sempat hijrah ke Amerika dan God Bless pun mengalami semacam “hiatus rilisan” hingga kembali pada akhir 80-an dengan merilis Semut Hitam yang meledak itu.

3. “Sodom Gomorah” – dari album Cermin (1980)

Liriknya bercerita tentang pemusnahan kaum Sodom dan Gomorah dalam kitab agama samawi. Mungkin saja God Bless ingin berdakwah melalui lagu ini dengan membawa kisah tersebut ke dalam sebuah konteks musikal.

Musically, permainan organ Abadi Soesman yang dominan disertai beat-beat rock yang cepat di dalam lagu ini menunjukkan ada influens dari grup prog rock seperti The Nice, ELP, hingga Kansas. Hei, jangan lupa ada solo talkbox dari Ian Antono!

4. “Anak Adam” – dari album Cermin (1980)

Fight me, but this is Indonesian’s best (prog) rock song ever!

Sebagai konklusi logis dari eksperimentasi perkawinan rock dan gamelan Bali yang dipopulerkan lebih dulu oleh grup seperti Guruh Gypsi, sulit untuk mengelak bahwa tembang ini merupakan salah satu lagu progresif terbaik di Indonesia, musically and lyrically.

Secara musik, dia benar-benar bejad beyond measure (Abadi Soesman Is God!). Secara lirik, ia adalah satu lagu “dakwah” yang tak terlihat pretensius untuk menggurui – satu dari beberapa hal yang paling saya suka dari lagu-lagu God Bless.

Pimpin dan ajar kami dari masa kebatilan ini

Hingga kami berdiri bagaikan tiang sang saka

Tanpa perlu melebih-lebihkan, saya rasa “Anak Adam” adalah “Close to the Edge”-nya God Bless. A masterpiece, indeed.

Konon penggalan lirik di atas pernah “menyelamatkan” seorang penggemar God Bless, Asriat Ginting, dari depresi dan keinginan bunuh diri di tahun 1998.

Eh, by the way, apakah God Bless pernah membawakan lagu ini dengan aransemen persis seperti di album Cermin? Saya kok lebih familiar dengan aransemen versi Gong 2000. Atau malah Elpamas yang pernah membawakan lagu ini seperti versi aslinya?!

5. “Tuan Tanah” – dari album Cermin (1980)

Arguably, ini adalah salah satu lagu protes paling underrated di Indonesia.

Siapa sangka lagu semenarik ini terkubur di balik kedigdayaan “Musisi”, “Anak Adam”, “Sodom Gomorah”, atau mellow-nya “Balada Sejuta Wajah”? Jika saja dia mendapatkan rekognisi sebesar lagu-lagu tersebut, saya rasa tembang ini sudah dinyanyikan secara khidmat dalam demo-demo masalah agraria sejak dulu.

Instrumentasi acapella ini memang terkesan aneh dan tidak biasa pada zamannya (Memangnya ada yang benar-benar biasadi album Cermin?). Mungkin saja mereka habis mendengarkan “Seaside Rendezvous”-nya Queen dan teracuni oleh “Knots”-nya Gentle Giant. Ya, bisa saja.

6. “Rumah Kita” – dari album Semut Hitam(1987)

Sulit untuk tidak memasukkan “Rumah Kita” pada daftar ini. Cerita-cerita kerinduan akan “rumah” baik sebagai sebuah bangunan (house) maupun “rasa” (home) memang selalu menjadi topik yang menarik untuk diangkat.

Tetapi tidak berhenti di situ. Lagu ini menjadi penting saat dihubungkan dengan fenomena urbanisasi, mimpi-mimpi kemapanan, dan janji-janji peradaban di kota – layaknya topik yang mereka angkat kembali di lagu “Balada Si Toha” pada album Apa Kabar?.

7. “Ogut Suping” – dari album Semut Hitam (1987)

Salah satu lagu yang “ringan” dari God Bless. Sebuah satir tentang fenomena bahasa prokem yang konon awalnya adalah kode-kode lisan bagi kalangan preman dan berubah menjadi “gaul” dieksekusi God Bless lewat lagu hard rock dengan lirik yang cukup ringan namun tetap nyentil.

Uhm, masih ada debat masalah “Lo-Gue” di hari-hari ini?!

8. “Menjilat Matahari” – dari album Raksasa (1989)

Diawali oleh intro paling “membunuh” dalam jagad rock Indonesia, “Mengejar Matahari” lalu berevolusi menjadi sebuah tembang hard rock dengan influensi Van Halen.

Saya sudah pernah menulis bahwa lagu ini adalah satu dari beberapa lagu God Bless dengan (alm) Yockie Suryoprayogo favorit saya.

9. “Asasi” – dari album Apa Kabar?(1997)

Sesungguhnya saya kurang memperhatikan album Apa Kabar?. Ya, jika tidak karena tulisan ini, saya mungkin hanya menganggap album ini sebagai ambisi God Bless mengikuti formula Yes dalam Union, dan sedikit banyak mempengaruhi persepsi saya tentang lagu-lagu di dalamnya.

Tetapi ternyata saya salah. Ada banyak materi menarik di dalam album ini.

Salah satunya lagu ini, dengan lirik subtil tentang isu hak asasi yang sepertinya menggambarkan penghilangan hak-hak secara paksa, demo-demo mahasiswa, dan tuntutan reformasi pada tahun-tahun tersebut. Dipadu dengan petikan gitar yang basah dan chorus yang anthemik, tembang ini langsung menjadi favorit saya bahkan waktu pertama kali mendengarkannya.

10. “Balada Si Toha” – dari album Apa Kabar? (1997)

Seperti yang telah saya sebut sebelumnya, “Balada Si Toha” menyentil fenomena urbanisasi dan janji-janji kemapanan kota. Jika “Rumah Kita” memberikan gambaran yang cenderung halus, track ini memberikan sebuah fenomena kasus riil: yaitu saat seorang pemuda rantau meninggalkan daerah asalnya dan menjual harta benda demi mimpi-mimpi peradaban. Lantas ia dihadapkan dengan kerasnya kehidupan, jatuh miskin, gila, dan terlunta-lunta di pinggiran kota.

Tetapi di sisi lain, mungkin saja peristiwa “Si Toha” ini hanyalah sebuah simbol. Mungkin saja bahasa-bahasa yang terlihat literal di dalam lirik lagu ini hanyalah secuil pesan dari sesuatu yang lebih besar yang bisa didapat dari peristiwa “merantau” itu sendiri.

Lebih dari sekadar hilangnya benda-benda materiil seperti uang dan harta benda, “merantau” bisa diartikan sebagai benturan nilai-nilai mapan dalam diri manusia versus hal-hal baru yang akan ditemukan di tempat asing tersebut. Ranah yang jauh lebih dalam dari sekedar aspek-aspek fisik material: Ide, nilai-nilai, norma-norma, dan etika budaya. Sekecil berubahnya “kowe” menjadi “koen”, enigma “Lo-Gue”, hingga sekonyol perdebatan ranah etika dan moral seperti “etis tidaknya menyapa seseorang yang tidak dikenal di warung kopi”. Mungkin.

Pada akhirnya saya mengamini statemen Baron Wisnumurti dari Remissa yang punya lagu berjudul “Rantau”. Dia pernah bilang, “Rantau tidak hanya tentang kamu pindah secara fisik, tetapi juga secara pikiran, mental, dan spiritual. Pertikaian antara ‘Apa yang seharusnya’ melawan ‘Apa yang sebenarnya terjadi’ adalah sebuah proses perjalanan dari jati diri manusia yang memang selalu dan terus ‘merantau’ ini.”

Oya, hati-hati, solo gitar di lagu “Balada Si Toha” ini bangsat!

3 KOMENTAR

  1. Rivara says including the crop will diversify her business and likewise assist
    the atmosphere in Long Island Sound by serving to reduce the high levels of nitrogen within the water, primarily
    attributable to coastal septic techniques.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.