10 Lagu Terbaik Dream Theater
10 Lagu Terbaik Dream Theater
Faisal The Miracle
Faisal, gitaris The Miracle, band yang sering mengcover lagu-lagu Dream Theater. Foto : Dok. Faisal

GeMusik – Kedatangan dedengkot progressive metal Dream Theater ke Indonesia untuk kali ketiga benar-benar menyedot perhatian banyak orang. Tidak terkecuali gitaris band The Miracle, Faisal. Pria yang bersama band-nya kerap membawakan lagu-lagu Dream Theater ini mengaku cukup antusias menyambut konser John Petrucci dkk ke Stadion Kridosono, Yogyakarta pada 29 dan 30 September 2017 mendatang. Apalagi dengan tajuk Dream Theater in Concert – Images, Words & Beyond, band asal Amerika Serikat itu dipastikan membawakan sekujur lagu yang bersemayam di dalam album Images and Words. Salah satu album yang digandrungi Faisal.

Baca Juga: JogjaROCKarta Dipastikan Berlangsung Dua Hari

Selain lagu-lagu di dalam album Images and Words, Faisal memiliki lagu-lagu favorit lainnya. Ini dia daftar lengkap berikut alasannya.

10The Killing Hand (Live at the Marquee, 1993)

Lagu ini aslinya ada di album When Dream and Day United (1989). Tapi gue lebih pilih vesi live karena di versi ini vokalnya udah diisi sama James Labrie, bukan Charlie Dominici lagi. Di sini beda banget hasilnya dibanding sebelumnya. Secara vokal lebih eksplor, dari komposisi musik sebenernya nggak terlalu jauh berubah tapi touch-nya jadi kayak kebawa sama Labrie. Awal lagunya dari pelan dulu, lebih halus dan LaBrie juga bisa mengeksekusi vokal yang halus juga. Intonasi musik mulai naik sampai ke belakang sampai akhirnya makin kenceng. LaBrie juga bisa mengeksekusi vokal yang ada scream-nya, jadi lebih keluar. Lagu ini seolah-olah jadi keluar dari aslinya. Mungkin output yang diinginin Dream Theater memang sebenarnya kayak ini dibandingin yang ada di album When Dream and Day Unite yang vokalisnya masih Dominici. Lagu ini nuansa progresif-nya juga terasa, nggak standar, nggak biasa lah bagan lagunya. Ada unsur power metal-nya juga selain nuansa progresifnya. Ada unisound khas Dream Theater.

9Pull Me Under (Images And Words, 1992)

Mungkin ini lagu pertama yang bikin gue terpikat buat bikin band cover version Dream Theater. Soalnya sekali denger, langsung suka. Nggak cuma buat gue tapi juga ketika gue mainain lagu ini di panggung, di kampus Trisaksi waktu awal-awal The Miracle jadi band cover Dream Theater di tahun 1996, banyak audiens yang sebenernya belum ngerti lagu Dream Theater tapi rata-rata tertarik untuk nonton band gue dan mengapresiasi sampai lagu kelar. Menurut gue, lagu ini punya daya tarik tersendiri. Yang pasti, lagu ini heavy, secara ritmik juga mengentak, banyak harmonisasi yang cukup kompleks tapi lagu ini bisa melodius terutama part refrainnya yang bisa dinyanyiin bareng-bareng. Kalau buat gue sendiri lagu ini seperti lagu wajib kalau mainin lagu-lagu Dream Theater. Lagu ini nggak bisa nggak  dimainin dan sering jadi lagu pamungkas.

8A Mind Beside Itself: I. Erotomania (Awake, 1994)

Menurut gue, ini adalah salah satu lagu instrumental Dream Theter terbaik. Lumayan guitar oriented banget, berbeda dengan lagu-lagu lain kayak “Dance of Eternity” misalnya, yang porsi pembagian isiannya sama kibord itu seimbang. Musiknya itu nggak umum. Nada-nadanya banyak menggunakan unsur kromatik, ada unsur neo-classical juga, ada melodi yang bernyanyi juga, ada yang mengumbar speed dan shred juga. Belum lagi unisound-unisound yang cukup kompleks dan menantang buat dibawaian. Meski kibordnya nggak dominan, tapi cukup ngasih nuansa yang berbeda. Agak ngawang dan dark.

7Scarred (Awake, 1994)

Dulu, waktu gue pertama punya kaset album Awake ternyata ada satu lagu yang nggak disertakan di album ini. Gue dapet info ini dari temen, dia bilang lagu “Scarred” cuma ada di versi CD. Abis itu gue cari temen yang punya CD itu, kebetulan tahun ’96an CD album ini agak susah di Jakarta. Begitu gue nemu dan gue denger ternyata lagu ini keren banget. Secara dinamika keren banget, dimulai dari tension yang masih low, John Petruci juga mainnya bluesy gitu, tapi dengan background nuansa yang cukup kuat, abis itu naik dengan ritem mengentak yang cukup bikin headbang juga. Secara dinamika lagu ini keren banget tapi tetep punya nuansa yang khas dari Awake. Mungkin karena waktu itu terpengaruh sama sound kibordnya Kevin Moore. Meskipun nggak banyak part solo dan isian akrobat tapi dia cukup berhasil dalam mencari isian yang bernuansa.

6A Change Of Seasons (A Change Of Seasons, 1995)

Meskipun lagu ini aslinya udah dibikin pas pembuatan album Images and Words, tapi gue vote versi di EP (album mini) self-titled rilisan 1995. Ini dikenal sebagai lagu Dream Theater yang cukup panjang sampai tahun 2000-an karena setelah itu mereka sering bikin lagu yang lebih panjang lagi. Lagu berdurasi 24 menit ini komposisi musiknya kompleks. Dari memainkan intonasi lagu yang low, terus keras, terus turun lagi,  keras lagi. Ada part yang menggunakan vokal dan gitar akustik doang, ada ritemnya yang sampai bikin headbang dan segala macam. Kompleks banget tapi didengernya enak banget.

5The Spirit Carries On (Metropolis Pt. 2: Scenes from a Memory, 1999)

Ini mungkin jadi lagu ballad Dream Theater yang paling sukses dari segi popularitas. Sebenarnya lagu ballad lain ada yang lebih bagus secara subjektif, tapi secara umum ini lagu yang paling lumayan banyak dikenal sama orang awam sekali pun. Dan kalau misalnya band gue tampil, lagu ini hampir pasti diminta penonton. Nggak tau kenapa. Kami aja bosen, apa lagi Dream Theater ya… nggak kebayang bosennya. Lagu ini ballad tapi nggak cengeng. Punya unsur-unsur gereget, kayak backing vokal yang agak seriosa yang bikin lagu ini jadi lebih kuat. Terus pastinya, solo gitarnya keren banget. John Petrucci bisa bikin komposisi solo yang menarik.

4The Glass Prison (Six Degrees of Inner Turbulence, 2002)

Sepanjang Dream Theater berkarya, mungkin lagu ini paling full energi. Mungkin lagu ini bener-bener ngabisin tenaga Dream Theater. Ada santai sedikit memang, tapi  abis itu langsung digeber dari depan sampai belakang. Pengalaman gue bawain lagu ini, capek dan nguras tenaga banget. Kalau misalnya kami bikin dua sesi acara yang masing-masing dibagi menjadi satu jam. Kami pasti masukin lagu ini di sesi pertama, karena kalau di sesi kedua tenaga udah nggak ada lagi.  Serunya, lagu ini selain full energi ada beberapa bagian yang menarik juga. John Petruci mainin solo arpeggio di intronya. Itu kreatif banget bikin komposisinya, pengulangan tapi bisa kedengaran nggak monoton. Ritem-ritem lagu ini bisa dibilang saat itu ngikutin jaman. Nuansanya terdengar modern dan nggak terkesan kayak nuansa era ’90an. Dan lagi-lagi ada Jordan Rudess yang bisa mengisi kibord yang nge-shred secara komposisi dan pastinya kompleks. Dari awal sampai akhir lagu ini kan metal banget, jadi menurut gue ini salah satu lagu metal terbaik.

3The Best Of Times (Black Clouds & Silver Linings, 2009)

Lagu ini punya pesan yang cukup kuat. Ini menceritakan tentang Mike Portnoy (eks dramer Dream Theater) dengan almarhum bokapnya. Bagaimana kesan Portnoy sejak kecil sampai bapaknya wafat. Ada sentuhan biolanya, juga solo gitar dengan akustik yang manis di intronya yang terkesan ballad tapi nggak cengeng. Begitu masuk full musiknya, banyak yang bilang mirip dengan tipikal musik Rush. Memang band ini salah satu influens Dream Theater juga tapi di sini sangat terasa. Dinamika lagunya juga variatif dan yang paling penting adalah di bagian endingnya, solo gitar Petrucci sangat terkonsep. Dengan durasi yang tidak sebentar tapi dia bisa bikin melodi yang nggak monoton. Nggak cuma sekadar main shredding tapi bener-bener nyanyi. Dibilang gampang nggak, karena ada bobotnya, tapi dibilang main cepet juga ada melodi yang sangat jelas. Pilihan nadanya juga cerdas sekali.

2Octavarium (Octavarium, 2005)

Ini salah satu lagu Dream Thetaer yang berdurasi cukup panjang. Di sini mereka agak tampil beda dibandingin sebelumnya, nuansanya lebih art rock era Yes dan Genesis. Komposisi lagunya kompleks, tapi meski panjang nggak terasa lama karena setiap part terdengar menarik.

1Metropolis—Part I: ‘The Miracle and the Sleeper’ (Images and Words, 1991)

Menurut gue ini akar dari semua lagunya Dream Theater. Kayaknya semua style musik Dream Theater tertuang di lagu ini. Baik dari sisi heavy-nya, teknikal-nya, progresif-nya, maupun variasi-nya. Lagu ini menggunakan tempo yang berubah-ubah. Dengan durasi yang nggak terlalu lama tapi padat banget kompleksitasnya. Bagi gue ini lagu Dream Theater yang paling komplit. Band gue selalu menggunakan lagu ini untuk mengaudisi kandidat personel. Karena kalau bisa bawain lagu ini biasanya lagu-lagu Dream Theater yang lain pasti bisa juga. Secara nilai, poinnya tingi banget. Udah jadi kayak standar lagu Dream Theater. Pokoknya, ini lagu wajib! (*)

Baca Juga: Mike Portnoy Berharap Gabung Lagi Dengan Dream Theater

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here