God Bles formasi terakhir. (Foto : Evan Antono)
God Bles formasi terakhir. (Foto : Evan Antono)

GeMusik – Peluncuran album terakhir, Cermin 7, pada awal tahun 2017, seolah menjadi selebrasi perjalanan panjang dari mimpi sederhana sekelompok anak muda tentang kehidupan anak band. Dari semula bernama Crazy Wheel kemudian berubah menjadi God Bless setelah seorang personilnya menemukan kata tersebut pada selembar kartu ucapan. Nama God Bless diresmikan bertepatan dengan penampilan pertamanya pada 5 Mei 1973 bertempat di Taman Ismail Marzuki (TIM). Sebuah langkah telah diayun.

Dengan semangat ‘ingin tampil di atas panggung’, God Bless tumbuh menjadi bagian dari dinamika sejarah musik rock ‘n roll di Indonesia. Ketika semangat primordial didengung-dengungkan entah oleh siapa, God Bless yang lahir di Jakarta dianggap sebagai jawaban atas pamor AKA (Surabaya), Giant Step dan The Rollies (Bandung), Rawe Rontek (Banten), Ternchem (Solo) dan banyak lagi.

God Bless band yang sangat memperhatikan kostum panggung. Di antara puluhan band yang bermunculan, secara visual mereka terlihat paling modis. Namun jangan membayangkan keterlibatan perancang profesional. Semua kebutuhan dikerjakan sendiri, kadang dibantu oleh teman-teman. Salah satunya adalah Rinny Noor, perempuan mungil yang kelak menjadi istri Donny Fattah. Kreativitas ini memberi celah kepercayaan bagi promotor pertunjukan untuk menyandingkan mereka dengan Suzi Quatro dan Deep Purple, saat kedua super grup itu tampil di Jakarta pada 1975. Padahal sebagai band baru, God Bless belum pernah menghasilkan satu album pun.

Salah satu band rock paling modis. (Foto: Koleksi)
Salah satu band rock paling modis. (Foto: Koleksi)

Bicara God Bless adalah juga bicara tentang keteguhan. Cerita ketidakmunculannya pada hari pertama konser Deep Purple hanyalah salah satu contoh bagaimana seharusnya prinsip kesenimanan ditegakkan. Ketika itu mereka dijadwalkan tampil dua hari berturut-turut , namun baru pada hari kedua menampakkan diri di atas panggung. Spekulasi pun berkembang. Media massa menyimpulkan bahwa God Bless tak cukup bernyali untuk mendampingi super grup sebesar Deep Purple. Apa benar begitu?

Setelah berdiam cukup lama, para personilnya mereka angkat bicara. Menurut mereka, ketidakhadiran saat itu dikarenakan pihak promotor tidak menyediakan fasilitas peralatan yang sesuai dengan kesepakatan. Ketimbang tampil berantakan, mereka akhirnya menolak tampil. “Malam pertama itu kami semua hadir kok di GBK (Gelora Bung Karno),” tutur Donnyu Fattah. “Tapi karena pihak panitia tidak menaati kesepakatan, kami memilih tidak tampil.”

Formasi album Cermin. (Foto: Koleksi)
Formasi album Cermin. (Foto: Koleksi)

Ketegasan dalam bersikap juga diperlihatkan ketika, pada akhirnya, God Bless menyiapkan album pertama. Sejak awal mereka ogah tunduk pada tuntutan produser agar mereka menghasilkan lagu-lagu bertema cinta (istilah waktu itu, pop cengeng), trend yang memang sedang populer. Silakan putar ulang lagu “Rock Di Udara”, “Gadis Binal” atau “Setan Tertawa”. Wujud kekeraskepalaan God Bless mengkristal pada album Cermin yang berisikan lagu-lagu berirama progresif rock.

Di usia karirnya yang memasuki ke-44 tahun, God Bless tidak lepas dari gelombang pasang surut. Berbagai cobaan menghantam silih berganti. Mulai dari perbedaan paham yang berujung pada pertikaian, problem khas anak band, hingga pergantian personil. Hingga pernah suatu ketika dimana God Bless menampilkan formasi dobel gitar. Itu terjadi setelah Ian Antono mengundurkan diri dan digantikan oleh Eet Syahranie, akan tetapi beberapa tahun kemudian ia bergabung lagi. Formasi ini melahirkan album Apa Kabar ?(1997).

Formasi dobel gitar. Album Apa Kabar? (Foto: Koleksi)
Formasi dobel gitar. Album Apa Kabar? (Foto: Koleksi)

Seperti insan musik lainnya, God berkarya di tengah buruknya sistem industri rekaman Indonesia. Mereka tidak pernah menikmati royalti secara wajar. Ini dosa masa lalu.
Toh, semangat kreatif mereka serta merta menciut. Penggarapan album terakhir, Cermin 7, yang mengaransemen kembali seluruh materi lagu yang terdapat pada album Cermin, merupakan dari upaya untuk memiliki master sendiri. “Dengan memproduksi sendiri, kami sekarang memiliki master albumnya,” kata IanAntono.

Kini usia para personilnya rata-rata berkepala enam. Ketika banyak band seangkatannya sudah tinggal nama, God Bless sepertinya tak hendak menyerah pada sang waktu. Album baru telah dirilis. Tur Super Rawk bersama /rif dan Kotak masih dijalaninya. “Gua sudah mendengar lagu-lagu God Bless sejak masih SD. Sekarang mendapat kesempatan tampil sepanggung. Bingung rasanya bagaimana harus berkomentar. Asli gua speechless,” kata Cella, gitaris Kotak.

Debby Nasution (keyboard), Donny Fattah (bass), Keenan Nasution (drum), Achmad Albar (vokal), Odink Nasution (gitar)
Debby Nasution (keyboard), Donny Fattah (bass), Keenan Nasution (drum), Achmad Albar (vokal), Odink Nasution (gitar)

Mestinya kegigihan yang diperlihatkan God Bless dapat menginspirasi musisi generasi muda. Bagaimana sebuah idealisme dipeluk dan diperjuangkan agar sebuah band mampu bertahan lama. Selamat ulang tahun God Bless. (*)

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.