45 Tahun God Bless

Selama lebih dari empat dekade band rock ini jatuh bangun atas nama dedikasi.

2
228
God Bless : Abadi Soesman (keyboard), Donny Fattah (bas), Achmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar). - Foto Dok. Istimewa

GeMusik – Beruntunglah warga Semarang yang hari ini tengah merayakan hari jadi kotanya yang ke-471. Malam nanti, bertempat di kantor Pemda ibu kota Jawa Tengah itu, mereka akan dapat menyaksikan penampilan God Bless tepat pada pukul 21.00.

Malam nanti juga akan menjadi momen langka dikarenakan bertepatan dengan kelahiran band rock tersebut. Seperti biasa, para musisi legendaris itu siap memberikan totalitasnya di atas panggung.

Hari kelahiran God Bless resminya jatuh pada 5 Mei, merujuk pada saat kemunculan mereka pertama kali di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki (TIM), 4 dan 5 Mei 1973. Formasinya saat itu Acmad Albar (vokal), Ludwig Lemans (gitar), Donny Fattah (bas), Yockie Suryo Prayogo (keyboard), Fuad Hasan (drum). ‘Baby Rock’ ini sukses memesona penonton dengan atraksi panggungnya meski tak satu pun membawakan lagu ciptaan sendiri. Publik pun meyakini itulah formasi pertama resmi God Bless.

Namun menurut Donny Fattah, formasi pertama God Bless sebenarnya adalah ketika pemain keyboard-nya digawangi oleh Deddy Dorres.

Hanya saja waktu itu Deddy Dorres masih tercatat sebagai personil Rhapsodia. Karena merangkap sebagai kerboardis God Bless, maka kerjaannya mondar-mandir Jakarta-Bandung. Kami jadi kesulitan mengatur jadwal latihan apalagi harus menghadapi persiapan konser di TIM. Akhirnya God Bless meminta tolong Yockie yang ketika itu menjadi pemain keyboard Giant Step dan tinggal di Bandung.”

Jika kemunculan pertamanya di hadapan publik dimaknai sebagai kelahiran resmi God Bless, masih menurut Donny Fattah, konser di TIM memang harus dilihat sebagai formasi pertama. “Akan tetapi sejarah tidak bisa dihapus bahwa Dorres-lah formasi pertama saat God Bless pertama kali terbentuk.”

Band baru ini cepat merebut perhatian. Mereka menjadi bintang di acara Summer 28 – akronim dari Suasana Meriah Menyambut Kemerdekaan RI ke-28 – yang berlangsung di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 16 Agustus 1973. Kali ini Deddy Dorres kembali ke posisinya karena Yockie Suryo Prayogo pun kembali bergabung dengan Giant Step. Berlangsung seharian, acara ini mengadopsi konsep Woodstock Festival hanya saja spirit-nya yang agak berbeda.

Pentas sehari suntuk itu digagas oleh A. Soegianto dari PT Intercine Studio, Nyoo Han Siang dari Bank Umum Nasional serta Wim Umboh dari P Aries Raya International. Nama terakhir inilah yang membawa God Bless, juga Koes Plus dan Bimbo, memasuki layar lebar lewat film Ambisi.

Sejak awal dibentuk God Bless tidak putus bongkar pasang pemain. Hal ini menjadikannya sebagai pilar utama perkembangan sejarah musik rock di tanah air dikarenakan selama selama puluhan tahun telah menjadi semacam terminal bagi sejumlah nama penting. Deddy Stanzah serta Nasution bersaudara (Keenan, Odink, Debby) termasuk di antaranya.

Untuk memberi gambaran yang lebih komprehensif, GeMusik secara spesial menghadirkan formasi lengkap God Bless dalam bentuk grafis atau family tree.

Family Tree / Imperium God Bless (1973 - sekarang) oleh Wendy P & Denny MR (GeMusik)
Family Tree / Imperium God Bless (1973 – sekarang) oleh Wendy P & Denny MR (GeMusik)

Kemampuan musikal para personelnya menjadi magnet para penyelenggara pertunjukan untuk menampilkan God Bless sebagai pendamping sejumlah supergr up dari mancanegara. Mulai Deep Purple, Suzi Quatro hingga Dream Theater (JogjaRockarta, Stadion Kridosono, Jogyakarta, 29 September 2017).

Sabtu 12 Mei 2018 mendatang, kembali mereka dipercaya sepanggung dengan Europe, band hair metal asal Swedia, dalam Volcano Rock Festival di Stadion Pandanarang, Boyolali, Jawa Tengah.

Setelah sempat meredup menyusul kegagalan penjualan album 36th, popularitas God Bless kembali terdongkrak berkat album Cermin 7 yang dirilis pada bulan Januari 2017.

Tidak hanya ditandai melalui serentetan pemunculan di atas panggung, antara lain lewat tur Super Rawk bareng Kotak dan /rif, tetapi juga melalui ajang penghargaan resmi. Pada 16 November 2017, Teater Garuda TMII, Jakarta Timur, menjadi saksi bahwa gerogotan usia tidak mampu menggerus kreativitas mereka.

Berkat album Cermin 7, Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards mengganjarnya dengan dua penghargaan sekaligus, yaitu kategori Kolaborasi Rock Terbaik serta Album Rock Terbaik. Bagi Achmad Albar dan kawan-kawan, penghargaan tersebut sekaligus layak didedikasikan kepada para penggemar loyal yang terus-menerus mendorong agar mereka tetap berkarya.

Fajar Satritama – Foto Dok. Istimewa.

Namun keberhasilan album tersebut sekaligus merupakan cermin buram masa lalu industri musik Indonesia. Bayangkan, setelah mengarungi karir berkarir selama 45 tahun, baru kali ini God Bless secara sah memiliki master rekaman sendiri. Artinya, sebanyak enam album sebelumnya, ditambah beberapa album kompilasi, berada di tangan pihak label – kecuali hak atas kepemilikan karya cipta lagu (mechanical right) tentunya. Kesadaran itu baru muncul belakangan.

Awalnya setiap bermain di daerah kami selalu mendapat desakan agar album Cermin dirilis ulang. Tentu saja God Bless nggak punya hak untuk mengedarkan sendiri. Akhirnya kami berembuk untuk merekam ulang seluruh materi di album tersebut,” tutur Achmad Albar tentang alasan mendaur-ulang materi album Cermin 7.

Sekadar mengingatkan kembali, Cermin merupakan album kedua rilisan tahun 1980 melalui label J.C. Record. Beberapa lagu bernuansa rock progresif seperti “Anak Adam”, “Selamat Pagi Indonesia”, “Cermin” maupun “Sodom Gomorah” berhasil mematrikan karismanya sebagai salah satu karya terbaik God Bless.

Selang beberapa tahun kemudian Log Zhelebour – melalui bendera Logiss Records miliknya – merilis ulang dalam format CD. Ada pun God Bless tidak ikut mencicipi royalti dikarenakan kontrak dengan J.C. Record ketika itu tidak mengatur secara rinci pasal yang mengatur hak dan kewajiban para pihak. Itulah yang mendasari pembuatan ulang album Cermin 7.

Sekarang God Bless punya master rekaman sendiri setelah puluhan tahun berkarir,” kata Ian Antono terkekeh.

Apa yang dialami God Bless merepresentasikan kondisi artis musik dekade ’70-an. Nama-nama tenar yang baik penyanyi solo maupun band umumnya mengaku tidak tahu menahu keberadaan master rekaman mereka. Tentu masih segar dalam ingatan bagaimana sengitnya perseteruan Bimbo dengan PT Remaco yang berusaha mendapatkan hak kepemilikan master album-album mereka. Apa boleh buat, Bimbo kalah di pengadilan.

Memetik pelajaran pahit cerita di atas, belakangan Ian Antono tengah giat mendata seluruh lagu ciptaannya yang berjumlah ratusan itu untuk didaftarkan ke sebuah publisher. Upaya melindungi karya kreatif juga telah lama dilakukan Yockie Suryo Prayogo yang diakui atau tidak telah melahirkan penyanyi rock cewek Mel Shandy – nama panggung Melinda Susilarini.

Kini di tengah kesibukan menyiapkan konser dalam rangka 45 tahun berkarir di panggung dan rekaman musik rock, God Bless juga sedang berancang-ancang untuk pembuatan album baru. (*)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.