Abah Anton Janji Akan Membangun Gedung Malang Art Center

0
121
Abah Anton Janji Akan Membangun Gedung Malang Art Center (gemusik/suga)
- Advertisement -
Abah anton saat memberikan sambutan di acara Festival Mbois (gemusik/suga)

GeMusik News – Festival Mbois! Sebuah tema acara yang digagas dan dieksekusi kolaborasi antara Disperindag Kota Malang, Malang Creative Fusion (MCF) dan Musisi Malang Bersatu (MMB) komunitas serta penggiat musik kota Malang.

Acara ini berlangsung selama 3 hari, tepatnya tanggal 7,8,9 November 2016 bertempat di Digital Lounge, Jalan Basuki Rachmad 7-9 Malang. Kegiatan utamanya adalah workshop musik, pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja bagi masyarakat melalui aplikasi program IT khususnya pada industri rekaman dan musik.

Hari pertama kemarin menghadirkan pemateri Yobbi Ananta, Pemilik Grim studio ini membuka kembali wawasan tentang sifat dasar serta pola pemasaran, musik dan kategori, keterkaitan dalam produk, hak cipta, masalah yang terjadi dari musisi di dalam masyarakat, fenomena pemasaran digital, fenomena tuntutan pasar, yang lebih ditekankan lagi oleh Yobbi waktu itu adalah adanya keterhubungan antara pelaku musik dengan wadah resmi industri musik tingkat daerah dan nasional.

Diskusi masalah musik memang menarik untuk diperbincangkan (gemusik/suga)

Bahwa karya dari para musisi itu adalah produk, dan produk ini harus terdaftar, agar bisa terapresiasi dengan wujud royalti yang layak, serta sebagai antisipasi ketika hak cipta ini nantinya ada yang menyalah gunakan, musisi sebagai pencipta atau pemilik karya tersebut mempunyai paying hukum yang kuat untuk menuntut dan meminta ganti rugi.

Mengacu pada Peraturan Pemerintah no.44 tentang kemitraan, direktur hak cipta dan desain industry direktorat Jenderal kekayaan intelektual Kementrian Hukum dan HAM, Erni Widhyastari mengatakan, penetapan tarif royalti ini merupakan amanat undang-undang (UU) No.28 tahun 2014 tentang hak cipta.

Pemateri berikutnya adalah Ook Pemilik Confuse Records dan Sinergi Nation Shop ini menceritakan awal dia membuat label serta sistim distribusi konvensional yang dikerjakan di tahun 2000an. Ook menggelar lapak setiap acara music yang digelar baik didalam kota ataupun luar kota.

Rilisan fisik berbentuk kaset masih sangat booming waktu itu. Ook bertutur, meskipun era sekarang bergeser ke arah digital namun rilisan fisik sangatlah penting. Karena rilisan fisik baik itu berupa kaset, cd ataupun vinyl adalah bukti otentik sebuah karya, gak mungkin kan ketika ada orang bertanya tentang karya kita, lalu hanya kita tunjukkan melalui gadget yang wujudnya mp3.

Berkembang juga fenomena merchandise band laku terjual banyak sedangkan belum pernah sama sekali band tersebut merilis karya lagunya. Dari segi strategi promosi, itu bisa dibilang bagus namun tidak akan berlangsung lama ketika merchandise mulai usang dan pembeli mulai enggan memakainya, bandingkan dengan rilisan fisik, sampai kapanpun wujudnya akan tetap bertahan lama, bisa diputar berulang-ulang, bahkan punya nilai jual yang tinggi dikemudian hari, jika kondisinya bagus dan terawat.

Tetap harus terbuka dengan perkembangan IT saat ini, tapi juga tidak boleh meninggalkan pola dasar dalam memproduksi dan merilis sebuah karya, yaitu rilisan fisik, pungkas Ook.

Yang menarik dari acara ini adalah hadirnya Walikota Malang, Abah Anton, dalam sambutan singkatnya beliau berharap terjadinya sinergitas yang cukup baik antara seniman kota Malang dengan pemerintah guna menunjang berjalannya program industri kreatif ini.

Ada pertanyaan serta keluh kesah terlontar dari peserta yang hadir mewakili seniman dan musisi kota Malang, bahwa kota Malang harus punya acara musik tahunan berskala nasional bahkan internasional, dan juga ketersediaan lahan atau gedung khusus sebagai tempat berapresiasi musisi dan seniman dengan tidak terbebani biaya sewa yang mahal.

“Kembalikan gor pulosari” teriak salah satu peserta lain. Abah Anton mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada wacana untuk dibangun Malang Art Center.

Nantinya tempat tersebut memang akan digunakan sebagai tempat untuk berapresiasi seluruh pelaku seni dan musik kota Malang. Kabar yang cukup menggembirakan, bukan rencana dan janji yang main-main pastinya, semoga terealisasi dan membawa dampak positif bagi perkembangan musik kota Malang khususnya.

Kidnep (Vokalis band Flanela)

Disesi terakhir, acara ini menghadirkan Flanella Salah satu aset musik  kota Malang, yang baru saja meluncurkan album barunya bertajuk “SURFRESH”, dimana band ini sekarang bergerak secara independen, tidak lagi berada dibawah naungan mayor label.

Kidnep sang vokalis juga sempat menceritakan sedikit pengalaman saat proses penggarapan album baru Flanella, yang intinya semua butuh proses, penyesuaian, dan komunikasi antar personil harus terjaga dengan baik. Sukses buat Flanella dan album barunya.

“Perbanyak koneksi, jangan ragu untuk berkolaborasi, karena aset dari silaturahmi itu dampaknya sangat positif dan luar biasa manfaatnya”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.