Akar Bambu (1): Kisah Nur Amin dan Biola

Kehidupannya serba mengalir, mengikuti kehendak alam yang memeluknya.

0
261
Akar Bambu (1) Kisah Nur Amin dan Biola
Akar Bambu : (Kiri ke kanan) Acoy (gitar, bas), Yusman (suling), Nur Amin (vokal, gitar, biola), Edu (keyboard), Dely Tambunan (drum). Foto : Dok. Akar Bambu

GeMusik – Di dunia musik, nama Muhammad Nur Amin bukanlah siapa-siapa. Menjadi musisi pun bukan cita-citanya. Terbukti ketika lulus dari SMU 1 Pati pada 2001, dia segera melanjutkan ke Fakultas Perikanan & Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Pada suatu hari cowok pria kelahiran Pati pada 30 Mei 1984 ini secara tak sengaja mendengarkan sebuah kompoissi klasik, “Meditasi on from Thais”. Nada lirih yang dihasilkan instrumen biola berhasil mengusik indra pendengarannya, sehingga Nur Amin tertarik untuk belajar memainkannya. Seiring dengan berjalannya waktu, ketertarikannya pada instrumen biola tidak lagi sebatas pada memainkan, tetapi juga mempelajari seluk beluk konstruksinya. Dipelajarinya jenis kayu, kelembaban dan sebagainya. Lelaki bersuara pelan ini ternyata mudah bergaul. Rasa ingin tahunya yang besar membawa Nur Amin  keluar masuk hutan milik Departemen kehutanan Bogor. Ia semakin dikenal di lingkungan departemen tersebut.

Berkat keuletannya, Nur Amin kemudian mampu membuat biola sendiri. Satu dua komposisi lagu pun berhasil diselesaikannya. Dalam menciptakan lagu, ia mencoba menerjemahkan hakikat manusia dilahirkan ke dunia.

“Saya yakin bahwa ketika manusia dilahirkan ke bumi dia mengemban tugas untuk menyampaikan kebaikan. Bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa melalui ilmu pengetahuan, kesenian dan sebagainya,” kata cowok berkacamata tersebut dengan nada datar. Melalui pemahaman inilah karyanya satu demi satu meluncur. Melalui lirik ia mengajak seluruh umat bersatu dalam keberagaman. Dibantu Wahono pada bas, ia menyewa studio rekaman untuk mendokumentasikan ciptaannya.  Suatu ketika Nur Amin beroleh kesempatan menampilkan lagu-lagunya. Karena tak memiliki kelompok musik, ia lantas berkolaborasi dengan grup kesenian Ki Jaka Sunda.

Usai ber-jam session, seorang personilnya, Yusmansyah, memperlihatkan ketertarikan dengan konsep bermusik Nur Amin yang menawarkan nuansa alam. Keduanya mulai sering terlibat diskui. “Ujung-ujungnya Yusman malah keluar dari Ki Jaka Sunda dan memilih aktif dengan saya, he-he-he!”

Sementara itu keasyikannya memproduksi biola terlanjut. Guna memasarkannya, ia membuat blog: Madani handmade violin. Pesanan pun datang antara lain dari Malaysia. Ia mengaku tidak mematok harga. “Terkadang kalau ada yang tertarik,  saya memberikannya begitu saja,” katanya enteng.

Pada suatu hari ia diminta pihak kampusnya untuk mempresentasikan biola ciptaannya di hadapan rombongan mahasiswa dari sebuah universitas di Jerman. Ia lantas membuat semacam blind test. Tanpa terlihat oleh para mahasiswa, Nur Amin memainkan biola ciptaannya dan sebuah biola buatan Jerman. Kemudian dimintanya para mahasiswa tersebut untuk menentukan biola mana yang produksi suaranya paling baik. Ternyata biola buatan Nur Aminlah dianggap yang terbaik. Salah seorang dari mereka menyatakan minatnya untuk memiliki biola tersebut. Merasa kehadirannya di ruang itu sekadar melakukan pendampingan, Nur Amin menyebutkan harga sekenanya: 13 juta. Di luar dugaan, si mahasiswa langsung menyanggupi.

Di tengah kasyikannya bermain musik dan membuat biola, Nur Amin berkutat menyelesaikan kuliahnya.  Gelar S1 yang dalam perhitungan waktu yang wajar ditempuh dalam waktu 4 – 5 tahun dikebutnya dalam kurun 3 tahun 5 bulan. Akan tetapi gelar S2 yang seharusnya dapat diraih dalam  2 tahun baru selesai setelah 6 tahun.

Pergaulannya dengan berbagai kalangan, antara lain dengan musisi Kota Bogor tempat dimana dia keluar masuk studio rekaman, mendorong keberaniannya untuk membentuk kelompok musik yang diberinya nama Akar Bambu, akronim dari Aliansi Kerakyatan Barisan Masyarakat Boedi  Oetomo. Personilnya terdiri Achoy (bass, aslinya gitaris band Rocker Kasarung), Edu (keyboard), Yusman (suling), dan Delly Tambunan (drum, mantan personel Cause).

Kenapa nama kelompoknya tidak bernuasa musikal dan haruskah debutnya di dunia rekaman ditandai dengan peluncuran dobel album? Semua akan kami bahas tuntas di GeMusik edisi Jumat depan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.