GeMusik Ketika pertama kali membentuk grup band, setiap orang pasti punya tujuan yang berbeda-beda. Ada yang sekadar menyalurkan hobi, ada yang cuma ingin mengikuti gaya idolanya, ada pula yang memang bertekad menjadi anak band terkenal. Nah, untuk tujuan yang saya sebutkan terakhir, setiap anak band tentu harus siap menghadapi segala situasi. Karena jika permainan band itu bagus, berprestasi dan memiliki karya, ujung-ujungnya pasti jadi bahan pembicaraan banyak pihak. Bahkan, bukan tidak mungkin akan menjadi incaran para pencari berita. Situasi ini tentu harus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya sebuah ‘kesadaran publikasi’.

Kita tidak sedang membicarakan sebuah band yang diincar label rekaman besar, tampil di televisi nasional atau bahkan menjual ribuan kopi album fisik. Sekarang sudah bukan jamannya lagi. Karena untuk mencapai popularitas dan kepuasan tertentu, setiap band bisa melakukannya dengan cara lain. Karya, penampilan panggung, skill para personelnya, atau bahkan merchandise yang akan mereka jual bisa dipasarkan melalui dunia maya dengan status tanpa batas.

Yang akan saya bicarakan di sini adalah band yang bergerak di jalur bawah tanah, yang tanpa mereka sadari mengundang decak kagum para pendengarnya sekaligus para pencari berita. Tapi sayangnya, sebagian besar dari band-band ini masih ada yang kurang menyadarai pentingnya mempersiapkan dokumen pelengkap dan pendukung publikasi lain, yang akhirnya membuat band-band tersebut kalang kabut ketika awak media seperti saya ingin mempublikasikan mereka.

Yang sering saya temui, sepanjang menjalani karir di dunia jurnalisme, adalah ketidakmampuan para personel band dalam memberikan jawaban akan pertanyaan yang dilontarkan. Baik itu melalui wawancara langsung, melalui telepon, melaui e-mail, atau pesan WhatsApp. Ketika saya memberikan pertanyaan yang detail dengan harapan si narasumber memahami apa yang saya maksud, ternyata dia hanya menjawab singkat: “Oh, iya begitu mas.”  atau “pokoknya kita sih rock and roll aja mas.” Hmm…apa sih maksudnya?

Bahkan di satu waktu, ada band yang jelas-jelas minta dipublikasikan di media tempat saya bekerja beberapa tahun lalu tapi ketika saya kirimkan daftar pertanyaan wawancara melalui email, di salah satu pertanyaan tersebut mereka hanya memberikan jawaban yang sangat pelit. “Yoi.., ” itu jawaban mereka. Saya sampai menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal sambil sesekali mengernyitkan dahi seraya menyeringai.

Tidak sampai di situ. Ternyata banyak juga band yang tidak memiliki foto profil standar promosi untuk melengkapi profil wawancara mereka yang akan dipublikasikan. Kadang-kadang mereka cuma mengirimkan foto seadanya hasil jepretan kamera telepon genggam, bahkan ada pula yang memohon dengan sangat agar saya melakukan editing pada foto mereka dengan mengatakan:

“Mas, tolong akal-akalin saja fotonya ya karena kami tidak punya foto yang bagus.” Hmm… udah minta dipublikasikan, sekarang minta saya ngedit foto juga? Lucu banget deh kalian.

Ada juga yang ketika diundang untuk melakukan sesi foto di kantor redaksi, ternyata para personelnya tidak bisa mendandani diri. Maksudnya, anak band tapi gayanya tidak anak band banget dan hanya berpakaian ala kadarnya. Bukan..bukan..saya tidak berbicara tentang personel yang dari sisi ekonomi tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi wardrobe mereka. Tidak bisa dandan dengan tidak punya uang itu beda loh. Lihat Kurt Cobain, dengan gaya kucel, rambut awut-awutan, kemeja flanel belel, jeans bolong… apakah termasuk kategori tidak bisa dandan? Oh tidak! Ini adalah ciri anak band yang tahu benar arti publikasi.

Selain tiga faktor tadi, hal-hal lain yang juga penting dimiliki dan dilakukan sebuah band adalah mencantumkan nomor telepon aktif di media sosialnya. Jangan pernah mencantumkan nomor kadaluarsa atau nomor aktif yang jarang kalian lihat hapenya. Kalau band yang sudah established sih saya masih maklum. Karena biasanya, mereka berada di bawah naungan manajemen yang terorganisir. Sehingga ada proses birokrasi yang berbelit-belit untuk melakukan wawancara dengan mereka. Kalau band-band independen, ya bukan berarti harus cuek juga kan?

Satu lagi. Masih banyak pula band yang jarang mengecek e-mail mereka padahal alamat surat elektronik tersebut dijadikan sebagai penampung segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan band. Akibatnya, ketika saya mengirimkan pesan yang isinya meminta jadwal wawancara, mereka baru membalasnya sekitar seminggu, dua minggu atau bahkan sebulan kemudian ketika momentum berita yang akan saya publikasikan sudah tenggelam ditelan isu-isu politis yang mengotori dinding lini masa media sosial dan media-media online Tanah Air.

Jadi, anak band itu haruslah sadar publikasi. Karena meski niatnya hanya ngeband iseng, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Apa yang kita semai itu yang kita petik loh. Mulai sekarang, siapkan foto profil standar promosi dengan resolusi tinggi, berlatih berbicara dan menjawab pertanyaan wawancara, berdandanlah layaknya anak band terkenal, cantumkan nomor telepon aktif di media sosial dan sering-seringlah mengecek e-mail kamu. Support selalu musisi Indonesia!  (*)

2 KOMENTAR

  1. Oк,? Lee said and then he stopped and thought.
    ?The perfect factoг about God is ??? hmmmm?????..?
    He puzzled because he had so many things that weгe nice
    about God however he wished to select tһe very beѕt one so he
    would win the game. ?Ꭲhat hе knows everything. That?s actually ϲool.
    Which means he may also help me with my homework.?
    Larry concluded with a proud expression on his face.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.