- Advertisement -

Atim Suhendar, Jakarta
Karyawan di Uthafsskip, Iceland Company. Sebuah perusahaan pelayaran di Eropa.

Saya Atim asal Jakarta, bekerja di perusahaan pelayaran di Eropa. Saya mempunyai beberapa teman kapal dari berbagai negara seperti Rusia, Ukraina dll. Saya kaget ketika beberapa kawan dari Rusia dan Ukraina meminta tolong untuk mencarikan CD dan merchandise dari sebuah band yang bernama No Man’s Land. Saya sendiri tidak mengenal band ini sebelumnya. Kawan saya bilang mereka dari Indonesia. Mungkin karena saya dari negara yang sama lantas mereka pun meminta tolong pada saya.

Baca Juga: No Man’s Land Menapaki Jejak di Album Cover Story

Sergey Tretyakov dari Rusia dan Leonix dari Ukraina mencoba bercerita tentang No Man’s Land bahwa band ini sedang booming di negeranya. Mereka begitu antusias menceritanya bagaimana tentang band ini, sedang saya masih belum tahu band apa ini.

Bukan hanya di kedua negara itu, No Man’s Land juga digandrungi oleh kawan-kawan di negara-negara Eropa lainnya. Saya semakin penasaran untuk mencari tahu tentang No Man’s Land. Saya berjanji pada kawan-kawan kapal setelah kontrak kerja saya berakhir, saya akan mencari apa yang mereka pesan setibanya di Indonesia.

Akhirnya saya coba menghubungi lewat fanpage mereka dan tak lama kemudian pihak No Man’s Land pun merespon email saya.

Didit mewakili No Man’s Land dengan ramah menjawab email saya dan bersedia memberikan nomor HP-nya untuk bisa dihubungi.

Dalam email yang saya kirim, saya menulis tentang profil singkat saya dan menceritakan pengalaman yang saya alami sewaktu bekerja di kapal. Tak puas sampai di situ, saya pun mencoba menghubungi Didit lewat nomor yang diberikan pada saya. Kami berbicara panjang lebar guna menjawab rasa penasaran saya dan yang utama adalah mencari apa yang telah dipesan oleh kawan-kawan di Eropa.

Baca Juga: Piringan Hitam No Man’s Land Sudah Tersedia di Indonesia

Akhirnya saya order dari Didit beberapa merchandise No Man’s Land – seperti CD, kaset dan kaos. Saya pun menceritakan lewat email kalau saya sudah menghubungi No Man’s Land dan memesan sesuai apa yang mereka inginkan. Mereka pun sangat senang mendengarnya. Tak ingin melewatkan kesempatan saya mudik, mereka pun meminta saya agar para personel No Man’s Land menandatangani kaos yang mereka beli. Sampai segitunya.

Saya turut bangga terhadap No Man’s Land menjadi band lokal yang diperhitungkan di Eropa sana. Dan akan saya berikan oleh-oleh dari Indonesia ini sekembalinya saya bekerja di Eropa pada bulan Oktober 2018 mendatang.

Citta Tresnati, Yogyakarta
Mahasiswa jurusan Antropologi, Universitas Gadjah Mada.

Saya Citta, mahasiswa jurusan Antropologi di UGM. Pada bulan Juni 2017 saya melakukan riset di kota Freiburg, Jerman. Riset saya tentang skinhead non-fasis. Pada awalnya orang-orang sedikit shock dengan topik yang saya pilih, karena seperti yang diketahui skinhead selalu identik dengan gerakan rasis/fasis, sedang saya berasal dari Indonesia. Maka akan sangat mengkhawatirkan terhadap keselamatan saya.

Saya pun akhirnya bertemu dengan salah seorang skinhead yang aktif di kota itu. Dia aktif membuat gig dan menulis zine. Dia bercerita banyak tentang scene di Indonesia dan tertarik untuk mengenalnya lebih jauh namun sayangnya pengetahuan saya tentang scene skinhead di Indonesia tidak terlalu banyak.

Lantas mereka menyebut sebuah band asal Indonesia yang banyak dikenal di Freiburg dan kota-kota lain di Jerman. Band itu bernama No Man’s Land. Jujur saya belum tahu tentang band ini, malah mereka yang lebih mengenalnya dan saya baru mendengarnya ketika saya berada di Jerman.

Baca Juga: Tahun 2018, Akhir Dari Perjalanan No Man’s Land?!

Saya pun akhirnya mencoba menghubungi No Man’s Land. Saya menulis email tentang ketertarikan orang-orang di Freiburg pada No Man’s Land dan scene skinhead di Indonesia. Tak lama kemudian No Man’s Land pun menjawab email saya.

Salah satu personel mereka bernama Didit menjawab email dan sangat tertarik untuk berbagi dengan riset saya. Dan saya pun berjanji apabila riset saya berakhir, akan mengunjungi markas No Man’s Land di Malang. Sambil membawa titipan temen-temen di Freiburg untuk mereka.

Saya tak menyangka ternyata ada band lokal yang sangat dikenal oleh orang-orang di sini. Dan bahkan ketika saya bertemu dengan skinhead asal Perancis mereka pun menyebut nama No Man’s Land.

*tulisan di atas merupakan testimoni yang juga menjadi liner notes untuk album Singles Collection milik No Man’’s Land yang baru dirilis bertepatan dengan momen Cassette Store Day, 13 Oktober 2018.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.