Band Daerah Cepat Tenggelam?!

Sayang jika sebagian band-band daerah yang bagus itu tidak mampu bertahan lama, atau malah rontok di tengah jalan. Ini tentang apa saja yang jadi penyebab cepat rontoknya band-band di daerah...

0
116
band daerah
source: cartoonstock.com.

GeMusikSejak zaman Orde Lama, band-band daerah sudah banyak yang bagus. Apalagi sekarang, di saat teknologi makin memudahkan para pelakunya untuk mencari referensi dan edukasi dalam bermusik.

Dari berbagai pulau di Indonesia yang pernah saya kunjungi selama sepuluh tahun menjalani profesi sebagai jurnalis musik, saya sudah bertemu banyak band yang namanya tidak terdengar oleh sebagian besar pegiat musik di Jakarta (yang sering dianggap sebagai kiblat industri musik), tapi ternyata memiliki basis massa yang masif dan jumlah panggung yang ‘bejibun’. Bahkan, skill para personelnya pun bisa dibilang di atas rata-rata. Tidak kalah jika dibandingkan dengan deretan musisi asal ibukota.

Sayangnya, sebagian besar dari band-band tersebut tidak mampu bertahan lama – khususnya yang meluncur di jalur pop dan variannya. Belum juga merilis karya (singel atau album) – atau bahkan hijrah ke Jakarta seperti yang mereka mimpikan – mereka sudah rontok di tengah jalan.

Berdasarkan obrolan warung kopi dengan sejumlah tokoh musik lokal di beberapa daerah yang pernah saya kunjungi – ditambah investigasi yang saya lakukan di kota kelahiran saya, Bogor – selama bertahun-tahun, saya mendapatkan kesimpulan tentang apa saja yang jadi penyebab cepat rontoknya band-band daerah.

1. Tidak Konsisten

Hanya melakukan latihan begitu ada jadwal manggung membuat sebuah band jadi seperti wahana pengisi waktu belaka. Biasanya, hal ini disebabkan karena ada personel band yang harus memilih antara studi, pekerjaan atau bermain musik. Komitmen band yang tidak erat dengan adanya salah satu personel yang kutu loncat dengan berpindah dari satu band ke yang lain juga menyebabkan band yang mereka bangun tidak memiliki pondasi yang kuat. Akibatnya, eksistensi mereka timbul tenggelam.

2. Cepat Bosan

Passion personelnya tidak sepenuhnya berada di ranah musik. Ketika merasa bermain musik tidak menghasilkan uang dan dianggap membuang-buang waktu, maka mereka akan dengan segera mencari lahan yang dianggap lebih menghasilkan pundi-pundi rupiah. Padahal, ada banyak cara yang bisa dilakukan agar musik dan band menghasilkan uang. Selain bisa dengan bermain di acara-cara hajatan atau kafé, menjadi instruktur musik, atau menjual merchandise band. Mencari pekerjaan utama di luar musik juga bisa dijadikan cara.

3. Minim Jaringan

Keterbatasan atau membatasi diri dalam bergaul kerap membuat band sulit berkembang. Hal ini disebabkan karena dua faktor; gengsi atau malu. Band yang sudah merasa superstar ‘daerah’ biasanya cenderung mengeksklusifkan diri yang tidak jarang menganggap remeh kemampuan jaringan orang-orang di sekitarnya. Sementara, mereka sendiri tidak memiliki link yang cukup luas untuk mencapai sasaran yang dituju. Ada juga band yang ‘minderan’ dengan terus menunggu keajaiban datang sambil memegang falsafah “tidak harus mengemis kepada orang lain”.

4. Ekspektasi Berlebihan

Banyak sekali band yang memiliki harapan besar untuk menjadi terkenal. Tapi begitu mimpi-mimpinya tidak tercapai, mereka kecewa. Akibatnya, musik tidak lagi dijadikan pilihan hidup. Untuk itu, jalanilah bermain musik dengan santai dan tanpa target neko-neko. Seperti halnya para metalhead yang lebih memilih berkarya tanpa pamrih. Tapi jika karyanya diapresiasi dan menghasilkan uang, maka itu adalah sebuah reward yang tak ternilai.

5. Tidak Punya Uang

Mengharapkan hoki dan keajaiban datang tidaklah cukup. Bermodalkan skill dan jaringan luas juga belum jadi jaminan kesuksesan. Band juga harus memiliki uang agar bisa membuat demo rekaman dengan kualitas tata suara yang mumpuni. Apalagi saat ini, banyak sekali software yang bisa memproduksi musik sebagus rekaman ‘beneran’. Selain itu, uang bisa menjadi modal utama ketika band banyak mengambil kesempatan manggung gratisan dengan alasan menambah jam terbang. Uang bukanlah segalanya, tapi segalanya memang butuh uang. Dan itu bukanlah isapan jempol belaka.

6. Masih Berkiblat ke Jakarta

Menjadikan Jakarta sebagai kiblat bermusik memang ada benarnya. Banyaknya panggung musik dan musisi tenar di ibu kota adalah magnet yang membuat para musisi menjadikan Jakarta sebagai destinasi perjalanan musikal mereka. Tapi, jika masih berpikiran digaet label rekaman besar Jakarta sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan, itu salah besar! Saat ini, teknologi sudah memudahkan kita untuk bisa memproduksi dan memasarkan karya tanpa harus terikat dengan label rekaman. Manfaatkan teknologi sebaik-baiknya, kelola media sosial semaksimal mungkin, buatlah karya sebagus mungkin dari semua aspek, dan bangunlah sebuah fanbase yang kuat. Maka, Jakarta yang akan mendatangi kita!… (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.