GeMusik News – Persahabatan memang kunci kebersamaan, bila diambil dari konteks sebuah grup band ini jelas sangat diperlukan. Hanya saja, perlu diingat, bila musik dijadikan sebuah pekerjaan, maka aturan main yang akan berbicara. Karena persahabatan akan hilang bagitu saja bila aturan main yang sudah jelas dilabrak seenaknya. Dalam hal ini, hitam di atas putih akan ketentuan dalam band harus sangat dipegang.

Banyak sekali band yang mengalami perpecahan karena personelnya tidak bisa memegang aturan main yang telah ditetapkan oleh manajemen band. Atau bisa juga sebaliknya. Karena menganggap band sebagai keluarga kedua, akhirnya mereka tidak mengindahkan nilai-nilai profesionalisme dan lebih memegang falsafah gentleman agreement. Akibatnya, salah paham yang berujung pada perpecahan hingga pemecatan atau pengunduran diri personel kerap terjadi.

Banyak sekali contoh seperti ini. Tapi karena saya mengenal langsung band-band yang akan saya ceritakan di sini, demi kenyamanan bersama saya memilih untuk tidak menyebutkan baik nama band ataupun personel yang dimaksud. Tulisan ini semata-mata hanya untuk menekankan pentingnya arti profesionalisme dalam sebuah band. Bukan untuk menyudutkan salah satu pihak.

Baca Juga: 13 Video Musik Indonesia Favorit 2017

Yang pertama adalah kejadian yang pernah dialami salah satu band rock  Indonesia yang memiliki basis massa cukup masif. Sekitar delapan tahun lalu, band ini mengalami sepi job. Salah satu personelnya lantas ‘melacurkan diri’ menjadi bintang film layar lebar demi – yang katanya – menyambung hidup. Sementara teman-temannya, tetap bertahan di zona ‘merah’ itu dengan tidak melakukan apa-apa. Akibatnya, dia menerima ancaman pemecatan.

Menurut pentolan band ini, mencari job sendiri meskipun di bidang yang berbeda merupakan sebuah upaya ‘cari selamat’ yang tidak bisa dibenarkan. “Lo itu kayak nemu setetes air di padang pasir dan air itu lo minum sendiri. Sementara kita nggak lo kasih. Itu egois!” demikian kata-kata yang dikeluarkan pentolan band ini seperti ditirukan ‘si pemain film dadakan’ kepada saya, suatu ketika.

Puasa bicara antar personel lantas menjadi solusi sementara. Dan ini sering terjadi, layaknya pasangan yang melangsungkan pernikahan. Tapi, adanya sebuah mimpi yang sama membuat mereka keep coming back. Band ini pun kembali solid. Tapi sampai kapan? Tidak ada yang tahu.

Lalu ada band metal Indonesia yang bisa dikategorikan besar dan memiliki jadwal show seabrek. Manajemen yang tidak sehat dan aturan main yang tidak transparan membuat salah satu personelnya mundur lantaran hanya dibayar seperti tukang angkut ampli berapa pun nilai kontrak yang diterima manajer band dari event organizer yang mengundang mereka. Dengan kata lain, dia dan player lainnya hanya mendapatkan bayaran berupa pengelap keringat yang nilainya jauh di bawah upah yang diterima manajer dan pentolan band.

Karena merasa band yang dihuninya sebagai rumah kedua dan menganggap pentolan band sebagai sahabat, personel yang cabut ini merasa sebuah aturan main yang baku tidaklah penting. Akibatnya dia jadi gampang ‘dibego-begoin’ oleh tuannya. Sementara tuannya, karena merasa sebagai pemilik band, bebas melakukan apa saja kepada para personel yang dianggapnya ‘bau kencur’.

Cerita lainnya. Beberapa bulan lalu saya pernah mendampingi salah satu band pop Indonesia melakukan tur tiga titik di kawasan Semenanjung Iberia. Tidak seperti terlihat di luaran, grup ini ternyata merupakan proyek solo vokalisnya yang hanya memposisikan para personel lain sebagai pegawai kontrak. Menurut ‘curhatan’ si drummer kepada saya, ia dikontrak per tahun dengan sistem bayaran persentase dari setiap job manggung plus menerima uang Rp.250 ribu untuk setiap vlog dan sampling lagu yang dibuatnya.

Gue udah pengen cabut dari dulu, tapi gue terikat kontrak. Gue mau jalan sendiri saja daripada gabung sama band ini. Tapi susahnya, kontrak gue dengan mereka belum habis. Gue berani jamin. Karena gue yang buat musik, band ini nggak akan jalan kalau gue pergi,” keluhnya.

Beberapa  minggu kemudian, si drummer pun memutuskan keluar begitu kontrak kerjanya berakhir. Dan si band pun mati ide.

Bukan tanpa alasan jika si drummer hengkang dari band yang dihuninya. Selain honor yang (lagi-lagi) minim, suasana nyaman dalam tubuh band ini juga nyaris tidak tampak. Perbedaan strata antara pentolan sekaligus pemilik band dengan para personel lain terlihat jelas di mana kata-kata kasar kerap terlontar dari mulut ‘si majikan’  begitu para ‘pesuruhnya’ melakukan sedikit kesalahan.

Bahkan, ketika para personel lain harus berjalan kaki menuju lokasi manggung karena bujet yang pas-pasan, dia akan memesan taksi seorang diri demi mendapatkan kenyamanan pribadi. Saya sampai menggeleng-gelengkan kepala dengan kelakuan ‘si bos’. Pasalnya, saya termasuk di antara personel band yang jalan kaki itu. Berkilo-kilo bray! Sambil membawa perlengkapan manggung pula, lantaran tidak membawa satu pun crew.

Baca Juga: Awas Leher Cidera, Berikut Tips Headbang dengan Baik

Intinya, menyatukan isi empat atau lima kepala agar sejalan tidaklah gampang. Banyak hal internal yang membuat mereka up and down. Toleransi dan proporsi masing-masing personel jadi ketahuan seiring berjalannya waktu. Apa yang dilakukan personel band rock yang mencari job tanpa sepengetahuan band-nya tentu tidak bisa dibenarkan. Tindakan yang dilakukan pentolan band metal yang seenaknya juga merupakan kesalahan. Pun dengan kelakuan bossy si pemilik band pop.

Jadi, memegang teguh aturan main sangatlah penting. Dan ini berlaku untuk semua personel, tidak terkecuali pentolan atau pun leader band. Tapi jika tingkat kenyamanan sudah berada di titik nadir, musyawarah untuk mufakat adalah sebuah solusi tepat meski akhirnya ada personel yang harus dikorbankan demi kepentingan bersama. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.