The Beast dan Lagu-Lagu yang Berani

0
433
The Beast dan Lagu-lagu yang Berani
Cover Album The Beast

Oleh: Samack

Artis : Edane
Album : The Beast
Label : PT Aquarius Musikindo
Format : CD
Tahun Rilis : 1992

GeMusik – Semenjak debut album Edane yang bertajuk The Beast dirilis pada 10 Mei 1992, negeri ini seperti menemukan pahlawan rock yang baru. Di balik band ini berisi nama-nama yang tidak terlalu asing lagi bagi para penggemar musik rock. Di situ ada gitaris Eet Syahranie (eks Cynomadeus / Godbless), pencabik bass Iwan Xaverius (eks Jet Liar), drummer Fajar Satritama (eks Cynomadeus), serta vokalis Ecky Lamoh (eks AERO / Kharisma Indonesia).

Maka wajar jika Edane sempat disebut grup rock bertabur bintang jika melihat pada jam terbang dan reputasi seluruh personilnya. Bahkan konon kabarnya, nama Edane sendiri lahir dari frasa ‘E dan E’ yang merujuk pada inisial nama Ecky Lamoh dan Eet Syahranie sebagai pembentuk pondasi awal band ini.

Dengan desain sampul ikonik yang sederhana dan ‘berbatu’, materi musik The Beast disajikan dalam potensi yang besar. Album ini diawali oleh “Evolusi” yang bisa dianggap salah satu nomor instrumental rock terbaik di jamannya. Track yang diciptakan Iwan Madjid dan Eet Syahranie sejak tahun 1988 itu menyimpan solo gitar yang dahsyat.

Sudah tentu “Ikuti” selalu dikenal sebagai hits terbesar Edane sampai sekarang. Di sini Eet Syahranie dkk berhasil merangkum intro gitar yang gagah, nada-nada anthemik, serta refrain yang menggelora: “Mari sini ikuti aku / Nyanyikan lagu-lagu yang berani…” Lagu ini bahkan diganjar pada posisi 35 dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia.

Tembang bercorak balada juga mengambil porsi dalam album The Beast. “Masihkah Ada Senyum” dikemas dalam bait-bait yang terus mempertanyakan nurani, gairah dan keberanian di belahan dunia sana – yang sepertinya merujuk pada konflik global, khususnya di Timur Tengah. Sementara “Life” mengingatkan bahwa kehidupan kadang bisa berpihak atau melawan kita. Sembari menduga-duga siapa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘They’ pada lirik seperti “They throw your life away / Like there’s no other way…” atau “But when they know you are back / With the gold in your hands / They will kneel like a slave, at your feet”.

Menang atau Tergilas” digeber dalam tempo ngebut seakan memamerkan pengaruh genre speed/thrash pada kemampuan bermusik Eet Syahranie dkk. Lagu ini dengan garang membicarakan jurang yang lebar antara si kaya dan si miskin. Lalu kita bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Joe Satriani atau Steve Vai bertandem dengan Iron Maiden lewat nomor instrumentalia “Opus #13 (Ringkik Turangga)” yang terus mengumbar kecepatan dan presisi.

“Liarkan Rasa” memiliki hampir semua syarat untuk menjadi lagu kelas arena. Sesungguhnya ini adalah lagu terbaik di album The Beast. Dibalut deru riff-riff yang membakar ala Van Halen, sarat dengan koor vokal dan bagian-bagian yang sanggup mengundang sing-along di stadion: “Angkat tangan semua / Sambutlah kebebasan / Genggam tangan semua / Hempaskan duka lara…”

Pada “You Don’t Have To Tell Me Lies”, Edane justru seperti mencoba untuk tampil ‘nakal’. Liriknya cukup ‘glam’ bak Motley Crue atau Poison yang bercerita tentang perempuan. Namun tidak lalu terdengar cheesy, bahkan terlihat Edane agak menjaga wibawanya di lagu ini.

Secara keseluruhan, The Beast telah menunjukkan produksi sound yang megah, kuat, dan gagah. Seperti ingin mengatakan “begini loh musik rock yang benar” bagi telinga publik Indonesia. Tentu saja album ini memberi porsi yang lebih besar pada sektor gitar. Layaknya album cadas yang guitar-oriented dalam balutan musik hard rock warisan Van Halen, ACDC, atau Def Leppard.

Tahun 1992 memang seperti tahun yang menantang bagi progres musik keras di negeri ini. Selain muncul The Beast, juga lahir debut album dari Rotor “Behind The 8th Ball” dan Roxx “Roxx” yang semuanya telah mencapai status rekaman klasik di mata penggemar musik cadas Indonesia.

The Beast pertama kali dirilis dalam format kaset oleh label AIRO pada tahun 1992. Lalu dirilis ulang dalam bentuk CD oleh label Aquarius Musikindo pada tahun 2006. Konon proses penggarapan album The Beast dikerjakan sekitar tujuh bulan, mulai Oktober 1991 sampai April 1992. Album yang diproduseri oleh Setiawan Djody dan Jimmy Doto itu direkam di Prosound Studio dan Triple M Studio (Jakarta) dengan arahan empat sound engineer sekaligus; Herman, Harry, Yadi dan Ronald. Proses mixing-nya sendiri ditangani oleh Danny Lisapaly di Musica Studio, Jakarta.

Album yang dihasilkan oleh formasi terbaik Edane itu juga melibatkan musisi-musisi kesohor seperti Iwan Madjid (Abbhama / WOW / Cynomadeus) yang mengisi keyboard pada “Evolusi”, serta Musya Yoenoes pada “Masihkah Ada Senyum” dan “Life”. Selain itu juga ada peran Sawung Jabo (Swami) yang membantu dalam penulisan lirik lagu “The Beast”.

Ali Akbar, yang memegang kendali manajemen Edane saat itu, menulis sebuah introduksi atau liner notes yang cukup apik pada album The Beast. Di situ ia menulis, “Edane hanya ingin menjadikan rock sesuai kodratnya, dengan eksplorasi-eksplorasi aktual dari dunia rock itu sendiri…”

Di album ini Edane memang memainkan musik rock yang ‘macho’. Seirama dengan artwork bergambar setan pada sleeve cover, serta tagline “Pria Punya Selera” dari brand rokok yang menjadi sponsor karya rekaman mereka. Simbol-simbol yang maskulin cukup bertebaran pada The Beast, sehingga mungkin sulit menemukan perempuan yang bisa menggemari album ini.

The Beast memang langsung melesatkan nama Edane ke deretan band rock papan atas di negeri ini. Konon penjualan album itu cukup bagus di pasaran. Respon publik dan media massa pun lumayan positif. Edane bahkan kemudian dipercaya sebagai band pembuka dalam konser Sepultura di Jakarta, tahun 1992.

Pada tahun 2007, Rolling Stone Indonesia menempatkan The Beast pada posisi 89 dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa. Di situ editor Ricky Siahaan mengatakan, “Album The Beast ini adalah bukti bahwa teknologi rekaman Indonesia awal 90-an telah mencapai puncaknya via rilisan ini. Produksi suara dilakukan dengan kesadaran penuh oleh sang gitaris mengenai bagaimana mencapai sound rock yang tebal, baik dan benar…” Selaku jurnalis sekaligus gitaris band cadas, Ricky juga cukup paham serta menyadari betapa besar dampak yang diberikan Edane dan The Beast bagi kancah musik rock di Indonesia.

Setelah 25 tahun, The Beast yang berisi lagu-lagu yang berani ini masih saja sanggup membebaskan beban dan menjadi teman suara batin para penikmat rock Indonesia. Album segarang ini tampaknya bakal terus kuat menapak bumi dan menjulang tinggi. (*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.