Rachun
Formasi Rachun (kiri ke kanan): Ode (drum), Firas (bass dan vokal) dan Yudhis (gitar dan vokal) Sumber: Dok. Rachun

GeMusik – Potlot, markas Slank di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan,  memang tidak pernah kehabisan talenta berbakat. Komunitas musik yang telah melahirkan nama-nama besar seperti Slank, Imanez, The Flowers, BIP dan The Sidhartas ini terus melahirkan barisan musisi yang menggugah selera. Yang paling anyar adalah Rachun, power trio rock yang terbentuk sejak 2007 ini telah meluncurkan album mini perdana, Pra-Karya, di bawah naungan label rekaman independen, Rekaman Pots.

Baca Juga: Slank Masuk Pesantren

Band yang diawaki Yudhis (gitar/vokal), Firas (bass/vokal), dan Ode (drum) ini baru saja merilis versi digital dari EP perdana mereka tersebut setelah rilisan fisiknya diluncurkan pada 24 Maret 2017 lalu. Album yang direkam dengan konsep live recording ini diproduseri oleh Bayu Perkasa dan juga telah melahirkan satu video musik, “Baling-Baling Bambu” hasil garapan Sinema Pinggiran yang telah diluncurkan melalui channel YouTube. rumah produksi tersebut sejak 20 Mei 2017.”Album ini bisa diibaratkan gambaran sebuah kejujuran. Karena Pra-Karya direkam secara live dengan overdub vokal dan kami juga melarang Bayu untuk mengedit dan menggunakan teknologi yang manipulatif pada saat proses mixing. Untuk dapet hasil yang memuaskan, kami nggak terlalu banyak melakukan take ulang. Mungkin hanya sekitar tiga sampai lima kali take. Karena dari sebulan sebelum rekaman kami memang fokus melatih materi yang mau direkam, “ungkap Yudhis kepada GeMusik.com

Karena berdiri di atas pondasi kejujuran, sebuah kesalahan yang mereka lakukan di album ini dibiarkan apa adanya. Yakni munculnya bunyi ‘tik’ di salah satu fill in drum sebelum reff lagu “Rekreasi” yang diakibatkan berbenturannya dua stik drum milik Ode. “Kami baru tahu setelah proses mixing selesai. Terus Bayu nanya apa suara itu mau coba dihilangin, dibiarin, atau cari waktu untuk direkam ulang? Waktu itu sempet kepikir untuk ngerekam ulang. Tapi akhirnya dibiarin aja. Toh kesempurnaan cuma milik Tuhan,” Yudhis melanjutkan.

Selera musik ketiga personel Rachun sendiri tergurat dari masa pertumbuhan yang mereka lewati di kawasan Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Kendati demikian, di awal karirnya, saat masih bernama People’s Scorn, Rachun justru lebih sering memainkan lagu-lagu dari The S.I.G.I.T. yang mereka anggap sebagai pahlawan bagi semua anak laki-laki sesusia mereka yang menyukai musik rock. “Pada dasarnya, kami bertiga dengerin The S.I.G.I.T sih. Tapi pada akhirnya semua orang dengerin Slank, kan? hahaha….” Firas, keponakan Bimbim menimpali.

Baca Juga: Gerakan Slankers Malang, Komunitas yang Peduli Sosial

Kendati mengaku lebih sering memainkan lagu-lagu milik The S.I.G.I.T di awal karirnya, tapi begitu mereka memiliki lagu sendiri, barisan lirik yang bersemayam di dalamnya jelas sekali terpengaruh band-band kawakan Potlot. Dengan tema lagu yang bercerita tentang nasihat akan pentingnya menjalani kuliah, imbauan agar tidak terlalu banyak gaya, hingga berempati terhadap sesama dituturkan dengan gaya blak-blakan dan ‘slengean’.

“Memahami tidak adanya urgensi untuk berbelit-belit, kami berbicara langsung kepada lawan bicara yang dituju. Menjadi estetika musik yang kami tawarkan memiliki unsur-unsur distingtif dari generasi awal Potlot,” jelas Yudhis.

Meski begitu, tidak satu pun personel Slank yang campur tangan di album ini. Menurut Yudhis, Bimbim bahkan baru tahu Rachun bakal merilis album mini perdananya ini setelah pihak manajemen band menyelesaikan proses duplikasi CD. Tapi, untuk urusan mastering, Rachun tetap menyerahkan sepenuhnya kepada mahaguru mastering yang juga mantan keyboardis Slank di Formasi 13,  Indra Q. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.