burung phoenix
Photo by Denny MR

GeMusik – John Lennon ditembak pada Desember 80, kematiannya secara simbolis telah menutup era flower generation. Walau bisa dibilang berhentinya gerakan kaum hipies tersebut ditandai dengan mundurnya Amrik dari perang Vietnam tahun 75. Maka hiruk pikuk psychadelic, spiritual timur, mariyuana, Woodstock dan segala pernak perniknya pun surut. Anak-anak bunga itu pun kembali ke bangku sekolah dan ruang kerja. Membawa cerita tentang kebebasan, perdamaian,  gaya hidup, persamaan dan kebersamaan.
Sebagai catatan, musik melakukan pencapaian fenomenal dan menjadi lokomotif semua pergerakan itu. Jimi Hendrix, Janis Joplin, Jim Morison, telah menjadi ikon sepanjang masa, sekaligus duta untuk memberikan laporan kepada yang maha kuasa.

Aroma dan influence pemberontakan anak muda di Barat itu terus terjulur panjang, menembus sekat negara dan berimbas keseluruh dunia. By the way,
mereka melakukan aksinya di tengah kemajuan ekonomi dan kemakmuran. Hworang kaya.. !

Jadi selow aja kalo pada giting, have sex, ngeband, keluyuran dan males2an, dipilih sebagai bentuk protes melawan kengerian perang, anti kemapanan dan memecah kebekuan doktrin. Sementara ironis buat sebagian bumi lain. Sebagian Asia, Afrika dan amerika latin. Yang sedang perih2nya didera kekurangan. Ribet konflik internal dan sedang susah payah mencapai kemapanan. Miskin maksudnya..

Kita waktu itu kena getarannya. Lalu membendung pengaruhnya dengan kacamata negatif. Soekarno sampai memenjarakan Koes Bersaudara atas nama anti Beatles dan kontra revolusi. Atau Lee Kwan Yew yg memangkas rambut warganya atas nama disiplin dan etos kerja. Tapi fenomena Flowers Generation benar-benar mewakili semangat jaman itu. Mau kaya mau miskin; Suara tentang kebebasan, Perdamaian,  persamaan. Terus saja mengalir mewarnai jaman setelahnya.

Dan musik melakukan lagi fungsinya dengan baik. Selepas itu, lagu “Imagine”, “One” – U2, Stones, Marley.. selalu mengoreksi dan mengingatkan kita untuk membentuk one Love, one hart, one dream. Demi membangun sebuah dunia yang satu, dan kita bebas mau berekspresi disana. Karena dalam satu dunia tanpa kelas dan perbedaan, kita bisa meminimalisir berbagai konflik.

Sejalan dengan itu, dunia sedang mengalami perang dingin. Musik dan film adalah komoditi terbaik untuk menggoyang tembok Berlin, Kremlin dan Beijing. Memanfaatkan itu, mereka mempromosikan semangat itu seluas-luasnya. Dan kembali dunia musik mengalami masa keemasannya.

John Lennon sang superstar barat itu dikremasi seperti cara pemakaman di Dunia Timur. Kutup dan sekat saling bertukar. Tembok-tembok pun runtuh, dan membuka dunia yg selama ini terisolasi. Dan yg telak, keberadaan Internet yang secara revolusioner menjembatani perbedaan jarak dan waktu. Ketimpangan memang tetap ada. Tapi sampai sejauh ini,  dunia sepertinya akan lebur dan membaur menjadi satu..

Tapi ternyata.. kita di Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika, malah kembali mundur jauh kebelakang. Disini orang kembali masuk ke dalam tembok dan mengkotak-kotakan dirinya. Mengikatkan diri lagi pada belitan doktrin !. Ini kan yg sedang jadi masalah kita disini..

Sepanjang sejarahnya, musik adalah dunia yang mendapatkan berkah dari Tuhan. Segala perubahan yang mewarnai dunia ini, selalu di pelopori, dihidupkan serta dikawal oleh lagu-lagu dari para musisi. Kenapa kita disini tidak menyadari dan memupuknya. Bukan malah membiarkan mereka terabaikan dan terlunta-lunta digilas perubahan jaman. Atau, yang lalu biar berlalu dan biarkan para tunas muda bersemi. Ok fine, tapi kalo sistem dan penghargaannya tidak mengalami perbaikan (seperti diluar), bagaimana mereka bisa berbuat banyak untuk memberikan kontribusi sosial disini?

Jaman sedang berubah lagi.. ya setuju. Dan Kalo mengaitkan kematian Lennon dengan legenda burung phoenix. Burung Indah yang mati terbakar, dan dari abunya lahir burung baru yg tak kalah indah, sebagai tanda pergantian jaman. Jadi, mestinya ada yang mati dulu ni secara tragis, tokoh legend dan inspiratif yg mewakili eranya. Jangan berubah begitu aja dong tanpa ada momentum. Tapi jangan dari musik lagi lah. Orang politik gimana ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.