Cendana Has Fallen!

15 lagu yang tepat untuk mengingat momen runtuhnya rezim Soeharto dan Orde Baru.

0
97

“…Akhirnya esok paginya, 21 Mei ’98 tepat jam 9 pagi, Soeharto menyatakan berhenti jadi Presiden RI dan menyerahkan tampuk pimpinan kepada Wakil Presiden RI BJ Habibie. Saya yang nonton melalui TV layar besar di Gedung DPR saat itu sempat merasakan suasana hening sekejap saat Soeharto menyatakan mundur, dan setelah itu… ’BLAAAAR!’ Euforia pun meledak di seluruh gedung!”

Kalimat di atas diceritakan secara gamblang oleh Wendi Putranto dalam artikel “20 Tahun Reformasi: Kesaksian di Hari-hari Menjelang Runtuhnya Orde Baru Soeharto” di blog-nya. Penulis musik (pendiri Brainwashed zine dan editor Rolling Stone Indonesia) dan manajer Seringai itu memang seorang aktifis mahasiswa di zamannya. Dia kebetulan berhari-hari berada di gedung MPR pada momen yang sakral itu.

Hari ini, 21 Mei, adalah tepat 20 tahun mundurnya Soeharto dari kursi presiden Republik Indonesia. Ada banyak artikel, laporan dan cerita terkait periode Mei ‘98 yang kelam itu. Anda bisa cari di mana-mana. Sangat kami anjurkan untuk dibaca sebelum lanjut ke paragraf berikutnya.

Sudah?

Oke, sekarang di sini kita bicara soal musik saja.

Terlepas dari kontroversi apakah sebuah lagu tertentu layak disebut sebagai protest song, a song about current events, atau sekedar social commentary, musik memang tidak hadir di ruang-ruang yang kosong. Hal tersebut tentu selalu bisa diperdebatkan, dan mungkin tidak akan pernah selesai.

Menurut Taufiq Rahman (Jakarta Post, Elevation Records), musik akan selalu menjadi cermin dari masyarakat yang melingkupinya. Musik bisa menjadi alat protes sosial atau agen perubahan hanya ketika subyek pendengar memberinya makna dan menginginkannya menjadi musik protes sosial.

Disadari atau tidak, motif (penulisan) setiap musik atau lagu itu juga merupakan sebuah tindakan ‘politis’.

Antropolog berkebangsaan Amerika Serikat, Jeremy Wallach, pernah menulis esai “Goodbye My Blind Majesty” yang mengurai kiprah band-band underground-rock Indonesia era ‘90-an yang menggunakan lirik berbahasa Indonesia untuk membantu resistensi mereka terhadap Soeharto atau rezim Orde Baru.

By adapting Indonesian to suit their musical purposes, Indonesian underground musicians created a new voice to enunciate the existential condition of Indonesian youth during a time of social change and political uncertainty…” begitu menurut kesimpulan peneliti yang pernah mengkaji musik populer di Indonesia dan Asia Tenggara.

Sering dikatakan bahwa salah satu ‘blunder’ negara adalah ketika membiarkan rakyatnya, apalagi anak muda, untuk marah. Penguasa sepertinya tidak (mau) belajar dari The Clash yang pernah bilang, “Anger can be power…”

Ketika para aparat sibuk membubarkan demo dan kelompok diskusi, menggebuki para aktifis, dan melarang peredaran buku-buku yang berhaluan ‘kiri’, mereka mungkin abai kalau sebenarnya inspirasi perlawanan bisa lahir dari mana saja – termasuk dari lirik lagu dan liner notes rekaman musik yang dikonsumsi anak muda.

Melarang buku-buku Pramoedya Ananta Toer atau puisi Wiji Thukul tidak serta-merta bikin negara menjadi lebih stabil kalau ternyata mereka tetap meremehkan percik-percik api pada lagu atau lirik yang ‘menantang’ saat itu. Narasi-narasi ‘perlawanan’ itu bahkan menyalak lebih lantang di panggung, rekaman, hingga jalanan.

Diakui atau tidak, produk-produk budaya seperti itu pasti ada pengaruhnya pada anak-anak muda yang turut aktif dalam pergerakan dan turun ke jalan berupaya meruntuhkan rezim Orde Baru. Atau jika menyitir kalimat dari Ucok Homicide “…menambahkan nyali dan melatih adrenalin saat bergabung dengan ribuan lainnya berhadapan dengan aparat-aparat penjaga pilar kekuasaan rezim Soeharto.”

Berikut kami memilih lagu-lagu Indonesia yang ikut dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan merekam kondisi bangsa di era senjakala Orde Baru hingga detik-detik runtuhnya kursi Soeharto. Lewat nada dan syair, mereka seakan turut serta ‘menghantam’ rezim.

Oke, nyalakan!

Dogma” – Pas Band

Pada tahun 1993, Pas merilis mini album 4 Through The Sap yang kerap disebut-sebut sebagai tonggak awal album independen di Indonesia. Di situ ada satu lagu yang judulnya “Dogma”. Penggalan liriknya seperti ini: “Kita hidup terpaku dogmatis-dogmatis usang yang janggal / Tanpa pernah dapat penjelasan kenapa jadi sebuah peraturan / Kita selalu jawab iya / Kita tercetak jadi penjilat…”

“Surat Buat Wakil Rakyat” – Iwan Fals

Liriknya sudah cukup jelas. Masih butuh penjelasan?!…

“May 98” – No Man’s Land

Band punk rock asal Malang ini pernah merekam tragedi Mei ’98 dengan lugas dan straight-to-the-point. Sekaligus mengenang mereka yang jadi korban di masa itu.

“Kesaksian” – Kantata Takwa

Unit supergrup musisi plus seniman ini pernah bersaksi: “Banyak orang hilang nafkahnya / Aku bernyanyi menjadi saksi / Banyak orang dirampas haknya / Aku bernyanyi menjadi saksi…”

“Hey Bung!” – Slank

Kita sudah cukup paham siapa saja yang pantas dipanggil ‘Bung’ oleh Kaka dkk di lagu ini.

Distorsi” – Ahmad Band

Di zaman Ahmad Dhani masih ‘waras’ dan tidak seperti sekarang, dia pernah membentuk grup musik yang serius dan paten. Dengan sedikit meminjam semangat dari arwah Soekarno dan John Lennon, ia mampu menulis bait yang cukup menohok: “Yang muda mabuk, yang tua korup / Korup terus, mabuk terus / Jayalah negeri ini, jayalah negeri ini / Merdeka!…”

“Aspirasi Putih” – Dewa19

Sudah dibilang, Dewa19 dulu itu keren – pas Ahmad Dhani masih cerdas-cerdasnya. Lagu ini contohnya; lirik kritis bisa menyelip dengan indah di antara nada-nada pop. “Beri kami satu ruang / Tuk katakan yang benar / Kuburkan yang salah / Biarkan kami tumpahkan / Aspirasi putih kami…”

Pak Tua” – Elpamas

Nomor balada ini cukup vokal dan kritis. Tidak lama kemudian terpaksa dicekal karena dianggap menyindir, siapa lagi, sang Bapak Pembangunan negeri ini.

Mentari” – Iwan Abdurrahman

Pernah menjadi mars yang dinyanyikan secara khidmat di tengah aksi mahasiswa di Bandung. “Lirik lagunya tidak secara langsung menyerukan protes,” kenang Ucok Homicide. “Namun memiliki kombinasi nada dan lirik yang berpotensi menginjeksi nyali dan nyaris melenyapkan rasa takut.”

Darah Juang” – John Tobing

Lagu favorit para aktifis di zamannya. Tembang ini bahkan sering menjadi mars yang khidmat di setiap aksi massa menentang Orde Baru. Pernah dikover juga oleh banyak musisi – seperti Teknoshit atau Marjinal.

Sistem” – Puppen

Ketika Puppen menulis “Mungkin kita… / Masih terjajah dalam bentuk baru / Figur-figur yang tertekan / Terhempas tanpa harapan / Terkendali bagai mainan…”, Arian Arifin dkk seperti sedang berusaha mengetuk kesadaran pendengarnya. Lantas tanpa kompromi langsung menuding muka dan menyemburkan kalimat: “Sistem yang kau dukung / Sistem yang kamu benci!…”

Coup D’Etat” – Forgotten

Addy Gembel dkk sudah teriak-teriak soal kudeta pada debut albumnya, Future Syndrome, yang dirilis di tahun 1997. Sebuah pertanda…

“Asasi” – God Bless

Di album kelima Apa Kabar? (1997), God Bless dibantu Ali Akbar menulis lirik yang kuat seperti bait lagu ini: “Hak asasi terus dicari setiap nurani / Hak asasi jadi panji hidup insani…”

“98” – Netral

Dirilis setahun selepas Soeharto runtuh, lagu ini ada di album Paten yang memang paten. Bagus dkk menyanyi dengan jenaka komplit dengan gitar yang catchy dan deru drum enerjik: “1998 tahun gila, tahunnya macan / Pamer taring tancapkan kukunya / Ekonomi diterkam, dicabik cabik / Tinggal kepala separuh badan…”

Bongkar” – Swami

Lagu “Bongkar” (dan juga “Bento”) bahkan sering ‘dibawa’ ke jalan dalam setiap aksi massa menentang rezim Orde Baru. Konon bait “Ternyata kita harus ke jalan / Robohkan setan yang berdiri mengangkang…” tidak pernah gagal membakar semangat para demonstran untuk menerobos barikade aparat.

(Mungkin) Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.