Danilla – Lintasan Waktu

Antologi kemurungan Danilla dengan pencapaian musikal yang luar biasa, dan memang patut untuk dirayakan.

0
132

Artist : Danilla
Album : Lintasan Waktu
Label : demajors (2017)

Sejak tembang pertama, “Laguland”, Danilla sudah menggaransi kemurungan. Lagu tersebut dipacu dalam tempo lamban. Di baliknya, sayup-sayup terdengar melodi gitar yang jinak. Dipadu dengan suara synth yang mengawang. Magical. “Entah Ingin Ke Mana” berbalut irama swing yang tipis. Di situ ada porsi dominan Sigit Agung Pramudita (Tigapagi) yang turut membangun atmosfir lagu ini. Judulnya sudah mengisyaratkan perasaan tersesat, namun tetap terus berjalan. Uniknya, lagu ini justru cocok dinikmati sambil berjalan kaki. Ya, sudah dicoba dan terbukti.

Selepas menyimak “Kalapuna”, terdengar warisan nada dari album Telisik. Hanya saja didorong menuju lorong yang lebih gelap lagi. Itu mungkin akibat tuah dari piano dan synth yang didesain bersuara haunting. Nomor terbaik di album ini bisa jadi adalah “Meramu” di mana kekuatan vokal Danilla yang lebih banyak berbicara. Mungkin itu tutur paling jujur yang pernah ia lakoni.

“Ikatan Waktu Lampau” memberi ruang yang lebar bagi pendengar untuk bernostalgia. Merangkai kenangan yang melankoli. Oya, satu catatan khusus, sabetan violin di lagu ini benar-benar ‘biadab’. Singel “AAA” yang sudah dilepas duluan memang istimewa. Jarang sekali sekedar desahan bisa ‘berbicara’ sekuat itu. Anda perlu simak juga solo gitarnya yang bahaya di tengah lagu.

Warisan Telisik juga masih terdengar pada lagu “Dari Sebuah Mimpi Buruk”. Berawal tenang, kemudian komposisinya bisa belok dan berubah drastis. Tentu, pola itu agak ke luar dari pakem, dan bakal sulit dihapal khalayak. “Usang” sebenarnya merupakan lagu yang paling ‘biasa’ di album ini. Meski begitu, tetap terdengar nyaman apalagi saat denting pianonya berbunyi seksi dan menggoda.

“Ini Dan Itu” digeber panjang dan gloomy. Agak mengingatkan kuping pada pola musik Radiohead pasca OK Computer atau segala playlist triphop yang berdurasi lama. Dan akhirnya, “Lintasan Waktu” bak konklusi dari seluruh isi album ini. Tembang yang sangat menjebak ini sanggup membekukan waktu. Terus terang, lagu ini jadi sebuah closing yang tepat. Cerdas.

Materi album Lintasan Waktu bukanlah tipikal lagu-lagu panggung yang nyaman untuk dinyanyikan bersama. Bahkan album ini cenderung sebagai sajian yang soliter – yang lebih pas dinikmati dalam perjalanan atau ketika sendirian di kamar. Sebaiknya disantap dalam sesi perenungan personal atau demi kepuasan ego. Selaras dengan motif Danilla ketika menulis materi album ini – yang konon diangkat dari sisi lain yang lebih personal darinya, atau itu justru sisi Danilla yang sebenarnya.

Menariknya, tidak kemudian lagu-lagu ‘murung’ tadi menjadi cengeng atau cheesy. Sama sekali tidak. Memang sarat dengan kesedihan, namun Danilla tidak berniat menjadi ‘duta kesedihan’ seperti Adele, misalnya. Pada album yang bak novel atau antologi kemurungan ini, Danilla tampak optimis saat menulis: “…kesedihan pun layak mendapat ruang untuk diceritakan…”

Secara musikal album ini malah terdengar lebih kompleks dibanding Telisik. Sebagian juga bilang komposisinya makin rumit. Yang pasti, pola aransemennya semakin kaya sekaligus serius. Memang auranya minor, tapi tetap bisa terdengar ‘pop’ di telinga.

Produksi album ini terbilang matang sekaligus mewah. Memang benar kalau ada saran sebaiknya Lintasan Waktu kudu diputar pada stereo set atau speaker yang apik. Karena di sana tertimbun banyak layer dan detil-detil kecil yang penting.

Oke, mungkin hanya satu hal yang kurang dari album versi CD ini: tidak ada lyrics sheet-nya. Ck, sayang sekali. Padahal ia telah menulis kalimat-kalimat yang baik dan mengiris, serta bisa memantik interpretasi penggemarnya.

Oya, mendengar suara vokal Danilla di album ini tampaknya ia bisa jadi rebutan band-band shoegaze yang doyan kesenduan itu. Tapi sepertinya Danilla tak akan mau dipaksa untuk menatap sepatu. Saya yakin ia bakal tetap menatap langsung pada setiap mata penonton.

Kejutan yang paling menggembirakan dari Lintasan Waktu adalah Danilla bisa bernyanyi, menulis musik dan lirik, serta memainkan instrumen dengan sama baiknya. Derajat itu yang bisa membedakan Danilla dengan barisan solois perempuan lainnya.

Memang di balik semua itu tetap ada peran dan dukungan dari sekumpulan musisi terbaik dan paling paham dengan karakter Danilla. Seperti misalnya si partner-in-crime, Lafa Pratomo, yang ikut memproduseri album ini. Hasilnya, Lintasan Waktu menjadi sebuah pencapaian artistik yang luar biasa.

Lintasan Waktu juga semakin relevan ketika dirilis jelang akhir tahun dengan tensi hujan yang cukup tinggi seperti sekarang. Tidak perlu heran kalau album ini kemudian (akan) banyak mengisi daftar album Indonesia favorit atau terbaik 2017 di berbagai media musik Indonesia. Mungkin itu sudah takdirnya.

Kesedihan pun menjadi layak untuk dirayakan kalau seperti ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here