Di Antara Lengking Suara Sylvia Saartje

Konser spesial dari sosok legendaris yang menempatkan perempuan pada panggung musik yang penting. Sarat akan cinta kasih dan kebahagiaan.

3
105
Konser Emas Sylvia Saartje di UBTV Malang (15/09) - Foto dok. SMCK/GE.

GeMusik – Lampu utama tiba-tiba meredup. Hanya menyisakan suasana remang di atas panggung. Sekitar 20-an orang berjalan menuju posisinya masing-masing. Sekumpulan koor paduan suara dan pengisi strings session menempati ujung sisi kiri panggung. Sisanya dengan percaya diri melangkah menuju perangkat instrumennya masing-masing. Lima gitaris mulai mencangklong senjatanya dan menyalakan amplifier. Tiga bassist sudah siap di posisi. Dua drum set telah diduduki oleh sepasang penabuh. Dua keyboardist tampak siap di hadapan tuts-nya.

Konon, total ada 26 musisi pengiring dan 10 Aremanita yang berdiri di atas panggung tersebut. Yang paling menarik, mereka semuanya adalah perempuan.

Setelah aba-aba yang agak lirih, intro musik pun mulai mengalun. Beberapa detik kemudian, muncul seorang perempuan dari balik panggung. Berbusana gelap layaknya lady rocker dengan rambut kriwil yang tergerai bebas. Dia adalah ratunya malam itu, the one and only, Sylvia Saartje.

Komposisi musik rock dilepaskan dari tarikan suara Jipi, panggilan akrab Sylvia Saartje. Lagu pertama meluncur mulus, nyaris tanpa kendala. Judulnya adalah “Manusia”, tuturnya, di kala jeda. Liriknya cukup dalam dan menyentuh.

“Lagu ini bercerita soal pengalaman perempuan muda. Tentang seorang gadis penjaga bar…” katanya sembari menuturkan narasi yang cukup panjang tentang lagu itu. “Namanya ‘Susi’, tapi ini saya kasih judul ‘Susyek’ supaya perempuan lain yang [kebetulan] bernama Susi tidak lalu jadi gak enak hati…”

Komposisi musik “Susyek” terdengar seksi, bak lenggok gadis penjaga bar yang genit. Komplit dengan gestur menggoda yang juga diperagakan Jipi dari atas panggung. Penjiwaannya tampak kentara sekali. Sungguh all-out dalam pentas yang berkonsep rock orchestra itu.

Suasana yang nyaris mirip pun berlanjut di lagu ketiga, “Diobral”. Temanya masih berkutat pada nasib perempuan muda yang malang dan kerap jadi korban keadaan – akibat konflik keluarga, asmara, ekonomi, hingga prostitusi. Isu-isu seperti ini tampaknya jadi sorotan khusus Jipi di banyak lagunya. Banyak cerita, narasi dan pesan bagi perempuan yang ia sampaikan dari atas panggung.

Sampai di sini, mungkin banyak kepala yang perlu merenungkan kembali pentingnya tema feminisme atau perjuangan kaum perempuan – juga perihal isu seksisme, girl power atau riot grrrl yang suka dibahas anak muda. Sebab ternyata Jipi sudah sering menyinggung topik itu sejak beberapa dekade yang lalu. Dan tampaknya masih relevan hingga sekarang.

“Mereka semuanya adalah anak-anak Malang. Ada ibu-ibu yang harus bekerja, sampai yang muda-muda. Tapi mereka bisa ada di sini. Karena wanita juga bisa berkarya,” tutur Jipi ketika memperkenalkan deretan musisi perempuan yang mengiringinya malam itu.

Studio 2 UBTV malam itu, 15 September 2018, mulai menghangat. Deretan bangku berdesain teater tampak terisi penuh, tidak ada lagi kursi kosong yang tersisa. Sebagian penonton bahkan rela berdiri menonton hajatan spesial yang bertajuk Konser Emas Sylvia Saartje.

Baca juga: Jelang Konser Emas Sylvia Saartje

Pada tembang selanjutnya, “Karena Cinta”, Jipi mulai menyoroti pentingnya kasih sayang di antara sesama. Menurutnya, hanya cinta yang sejati dan akan selalu menguatkan. Dia sempat teringat masa lalunya dan merasa beruntung karena banyak orang-orang di sekitar yang menyayanginya. Mulai dari keluarga hingga sahabat-sahabatnya.

Dia menjadi lebih bahagia dan terharu lagi saat tahu orang-orang yang selalu menyayangi dan mendukungnya tersebut juga hadir pada konsernya malam itu. Ucapan syukur dan terima kasih berkali-kali dia ucapkan kepada mereka semua.

Di barisan meja undangan, tampak hadir para sahabat Jipi seperti Ratih Sanggarwati, Renny Djayusman, Ubiet, Log Zhelebour, hingga Nova Ruth.

Kegalauan seorang Jipi sempat muncul saat ia menyanyikan tembang “Kepada Siapa Aku Mengadu”. Bak pencerita yang ulung, ia mengisahkan dari mana inspirasi lagu tersebut muncul. Cukup dalam dan menyentuh. Dia mengaku percaya akan kekuatan Ilahi, bahwa tuhan yang maha pengasih akan terus melindunginya. Baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, hingga karinya sedari dulu.

Repertoir Jipi berlanjut pada tembang-tembang ciptaannya sendiri – seperti “Busyet” hingga “Pulauku” yang dipoles apik dan mendapat atensi hangat dari penonton.

Hampir semua lagu disenandungkan komplit dengan cerita menarik seputar ide, gagasan atau inspirasi di balik proses kreatifnya saat mengerjakan tembang tersebut. Di sini Jipi terlihat sangat mampu menyandera perhatian dan memainkan emosi penonton supaya larut akan karyanya. Suatu hal yang tidak gampang dan butuh jam terbang tinggi.

“Lagu ini yang bikin saya bisa keliling tur ke mana-mana. Gak cuma di Indonesia, tapi juga sampai ke negara-negara lain…” ujar Jipi yang sudah berganti dress berwarna emas dengan raut wajah bahagia dan intonasi yang cukup humble.

Penonton langsung terbuai saat Jipi membawakan “Biarawati”, salah satu hits terbesarnya yang diciptakan oleh Ian Antono (God Bless). Latar belakang panggung berganti foto-foto Jipi di masa mudanya, disertai sampul album Biarawati (1978) plus teks lirik lagu yang seakan jadi layar karaoke masal.

Penonton mulai ikut bernyanyi. Mereka tampaknya cukup akrab dengan bait demi bait lagu tersebut. Wajar, lagu klasik berirama rock gospel itu juga mendapat rotasi yang cukup tinggi di saluran YouTube.

Baca juga: Ketangguhan Sylvia Saartje

“Jakarta Blue Jean-ku” menjadi suguhan berikutnya. Nomor ini juga pernah jadi hits Jipi di era ‘80-an. Penciptanya adalah (alm) Farid Hardja dan termuat di album yang bertajuk sama di tahun 1984. Sebagian penonton mungkin sempat memiliki rekaman kaset atau piringan hitamnya – yang sekarang sudah langka ditemui di pasaran.

Ratusan kepala di lokasi pertunjukan malam itu memang didominasi oleh orang-orang usia paruh baya, dengan rentang umur 30-an ke atas. Mereka kemungkinan besar pernah tumbuh serta cukup paham soal sepak terjang dan karir musik Sylvia Saartje.

Sayang sekali tidak terlalu banyak anak muda yang hadir, khususnya khalayak perempuan, di malam itu. Padahal sesungguhnya mereka bisa dapat banyak hal dan pelajaran penting dari konser sang legenda lady rocker pertama di Indonesia.

Beruntung malam itu masih ada musisi-musisi muda penuh bakat seperti Nova Ruth atau Christabel Annora yang sengaja datang dengan antusias tinggi menonton aksi ‘tante’ mereka. Ditambah dengan kehadiran para perempuan muda di area pertunjukan, harapannya semoga semangat Jipi bakal tertular ke benak mereka semua.

Sebab, konser seperti ini yang tampaknya bisa membantah klaim bahwa perempuan itu hanya sekedar ‘pemanis’ di panggung musik (populer). Apalagi, semua musisi pengiring di sekeliling Jipi malam itu kesemuanya adalah perempuan, sementara laki-laki (maaf) hanya menjadi penonton dan bekerja di belakang layar saja.

Di ujung set-nya, Jipi membawakan satu-satunya tembang berlirik bahasa Inggris “Love is the Answer”. Dengan sepenuh jiwa dan hati, Jipi menegaskan kembali pentingnya cinta kasih di antara sesama. Lagu itu mengalun dengan solid dan tanpa ada kesan menye-menye. Tidak diragukan lagi, nomor pamungkas tersebut berhasil menutup sesi konser Jipi dengan optimal.

Selepas kalimat perpisahan dan standing ovation yang panjang dari penonton, kejutan masih berlanjut dengan sepotong kue ulang tahun yang tiba-tiba disodorkan oleh keluarga besar Jipi ke atas panggung. Hari itu memang tepat tanggal ulang tahun Sylvia Saartje yang ke-62. Suasana jadi semakin haru dan emosional. Parade senyum, tawa dan air mata bercampur menjadi satu kebahagiaan.

Konser Emas Sylvia Saartje kemarin berjalan cukup mengkilap dan mengesankan. Dalam durasi hampir dua jam, seorang Jipi mampu memamerkan kapasitasnya yang paling maksimal. Begitu pol dan all-out. Segala detil tampak diperhatikan sekali – mulai dari kostum, susunan lagu, hingga topik-topik yang disampaikan.

Di usia yang tidak muda lagi, Jipi ternyata masih sanggup menghadirkan api semangat yang menyala. Lengking dan jeritnya tetap prima, tidak terkikis oleh waktu.

Kemampuannya dalam beraksi bak lady rocker dan bernarasi ala storyteller di sepanjang konser telah membuktikan pengalamannya sekian lama tumbuh di atas panggung. Itu sebenar-benarnya suguhan live performance yang tangguh dan memikat.

Malam itu, kita seperti menonton perpaduan titisan Janis Joplin dan Tina Turner dalam satu tubuh milik Sylvia Saartje di kota Malang. Sekaligus membuktikan kalau musik rock itu bukan hanya dominasi kaum laki-laki.

Semangat itu masih tampak membara.

Selamat datang kembali ke arena, Mbak Jipi!

3 KOMENTAR

  1. If you are the kind of one that is less than thrilled
    with the prospect of worҝіng in the identical office, day aftеr day, elіminating this
    form of routine is likely one of the most important highlights which ʏou can obtain from freelancing.
    When you hire your self ᧐ut as a freelancer, every job assignment
    thɑt you tackle wiⅼl likely be a new adventure.
    Not only wiⅼl the work atmosphere range, however you wіll alѕo have the chance to meet many
    more interesting peоple. This issue alone іs among the
    principal the reason why many paralegals want freelancing over committing themselves
    to one specific workplace.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.