Efek Rumah Kaca, Stars & Rabbit dan Kimokal Siap Menuju Ke SXSW 2018

Ketiga band Indonesia ini bakal manggung bersama ratusan musisi mancanegara lainnya pada festival musik SXSW di Austin, Texas, Amerika Serikat.

2
197

GeMusik News – Setelah mengumumkan daftar pengisi acaranya secara bertahap, salah satu festival ternama South by Southwest atau biasa dikenal SXSW yang berbasis di Austin, Texas, Amerika Serikat, akhirnya mengumumkan seluruh line-up nama musisi yang akan mengisi festival musik bergengsi tersebut untuk tahun 2018.

Seperti yang dilansir dari situs resmi SXSW, pada tahun ini total bakal ada sekitar 570 musisi dan seniman yang akan memanaskan berbagai panggung SXSW yang digelar tanggal 09 – 18 Maret 2018.

Dari sekian nama yang dirilis, ada tiga nama kelompok musik asal Indonesia yang terpilih berangkat ke salah satu festival musik terpenting di negeri Paman Sam itu.

Mereka adalah Efek Rumah Kaca, Stars & Rabbit dan Kimokal. Tentu saja ini merupakan kabar bahagia bagi kancah musik Indonesia. Pasalnya, selain dianggap salah satu festival musik terbesar mancanegara, SXSW juga kerap jadi batu loncatan bagi para musisi dalam merintis karir musiknya di blantika musik internasional.

Ini bukan pertama kalinya grup musik asal Indonesia menjadi bagian dari festival SXSW. Sebelumnya, unit pop Lightcraft pernah menjadi wakil Indonesia pada SXSW 2017. Kimokal sendiri tahun lalu juga sempat terpilih bersama Lightcraft, namun sayang mereka berhalangan hadir saat itu. Beruntung mereka bisa menebus kesempatan langka itu pada tahun ini.

Sebenarnya, apa sih festival SXSW itu?!

Semua berawal dari tahun 1986, ketika sekelompok kecil orang di Austin, Texas memulai serangkaian diskusi panjang tentang masa depan hiburan dan media. Pertemuan itu diadakan di kantor The Austin Chronicle.

Pendapat mendasar yang dimiliki oleh kelompok ini adalah bahwa komunitas kreatif dan musik lokal di Austin sama berbakatnya dengan komunitas kreatif di belahan lain planet ini. Namun mereka sadar jika gerak-gerik komunitas kreatif di sini begitu terbatas hingga kurang mendapat ekspos di luar Austin.

Sekelompok kecil ini percaya jika musik adalah faktor penyatuan. Solusi yang sedang dibahas adalah bagaimana sebuah acara yang digelar bisa membawa dunia luar ke Austin untuk melihat komunitas kreatif di sana dari jarak dekat.

Jadi bisa dibilang SXSW terinspirasi oleh niat dan mimpi keinginan itu; membuat mata dunia menengok dan menyaksikan scene musik Austin yang kreatif dan berbakat.

Akhirnya, pada bulan Oktober 1986, pengumuman South By Southwest pertama kali dirilis oleh penyelenggara.

Kekuatiran dan ketakutan tentu saja muncul dalam benak para penggagas SXSW. Seperti kisah awal gelaran festival musik kesohor bernama Woodstock pada film Taking Woodstock, para penggagas awalnya juga mengira akan ada protes dan perlawanan dari penduduk setempat. Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.

“Hampir semua orang malah ingin terlibat,” ujar salah satu penggagas SXSW, Roland Swenson.

Sampai kemudian SXSW resmi diadakan untuk pertama kalinya pada bulan Maret 1987. Ketika itu mereka memperkirakan hanya akan ada sekitar 150 penonton yang hadir. Tetapi kenyataannya, hampir 700 orang hadir pada hari pembukaan. Pada edisi perdananya, total ada sekitar 177 musisi dan seniman beraksi di atas panggung. Sampai tahun 1991, jumlah itu melonjak menjadi 512 penampil.

Festival SXSW terus tumbuh dan berkembang dari segi jumlah penonton, konsep acara dan minat para pelaku musik papan atas di seluruh dunia. Pada gelaran SXSW tahun 1994, Johnny Cash didapuk menjadi salah satu penampil. Penyelenggara juga mengenalkan dua program baru di SXSW, yaitu sesi interaktif dan pemutaran film.

“Itu akan menandai perubahan mendasar tentang bagaimana dunia melihat SXSW.” kata Roland Swenson selaku Managing Director SXSW.

Sampai 27 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2014, pada sesi festival film SXSW diadakan pemutaran perdana film Neighbourhood, Veronica Mars, Cosmos: A Spacetime Odyssey, dan Grand Budapest Hotel.

Berkat SXSW, kota Austin yang dulunya terisolasi itu kemudian berhasil masuk ke arus utama industri seni (musik) dan kreatif. Kota itu bahkan mendapatkan julukan “Live Music Capital of the World.”

Sampai saat ini, SXSW semakin berkembang dan bervariasi programnya seperti hiburan live music, pameran dan eksebisi, workshop, hingga pemutaran film.

Selain memanjakan penonton dengan beragam hiburan, SXSW juga menjadi media baru bagi para insan kreatif untuk menemukan inspirasi, menjaring koneksi, dan mencapai impian mereka.

Selama bertahun-tahun, SXSW terus konsisten dalam memberikan wadah bagi musisi dan seniman yang belum cukup dikenal atau luput dari radar industri.

Semisal John Mayer. Pada akhir 1990-an, gitaris sekaligus penyanyi handal itu sedang berada di tahap awal karirnya. Namun setelah tampil di SXSW pada tahun 2000, John Mayer kemudian menjalin kesepakatan dengan label rekaman pertamanya. Selanjutnya, karir musiknya melesat jauh hingga seperti sekarang.

Beberapa musisi dan seniman ternama yang pernah terlibat dan merasakan atmosfir SXSW antara lain; James Blunt, Hanson, Katy Perry, The White Stripes, Feist, Lana Del Rey, Mastodon, The Drums, Amy Winehouse, Lady Gaga, Blondie, Neil Young. dan masih banyak lainnya.

“Acara ini telah berubah dengan cara yang mengejutkan dan bermakna sejak tahun 1987. Namun pada intinya, SXSW tetap menjadi alat bagi orang-orang kreatif untuk mengembangkan karir mereka dengan mengumpulkan orang-orang dari seluruh dunia untuk bertemu, belajar dan berbagi gagasan,” ungkap Roland Swenson.

Sampai terakhir kali digelar, SXSW sukses menarik perhatian lebih dari 51.000 peserta dalam setahun. Festival seperti ini terus dipercaya bakal jadi momen penting bagi dunia untuk melihat bakat-bakat seni masa depan. Kesempatan tampil di SXSW kerap jadi gerbang pembuka bagi para musisi yang ingin meniti karir di blantika musik internasional.

Hal itu juga bisa terjadi pada ketiga band Indonesia yang akan terbang ke SXSW 2018; Efek Rumah Kaca, Stars and Rabbit, dan Kimokal.

Pada gelaran SXSW 2018 nanti, Efek Rumah Kaca, Stars and Rabbit dan Kimokal akan berbagi panggung dengan sejumlah musisi mancanegara seperti Low, Flasher, Superorganism, U.S. Girls, Ought, Anna Burch, Girl Ray, A Place To Bury Strangers, Smokepurpp, Sunflower Bean, Strawberry Runners, dan ratusan nama lainnya.

“Mengawali 2018 dengan sebuah kabar gembira,” tulis ERK pada akun Instagram-nya. “Efek Rumah Kaca menjadi salah satu band yang akan mewakili Indonesia pada festival SXSW 2018 di Austin, Texas, Amerika Serikat. Mohon doanya agar semuanya lancar.”

“Alhamdulillah gusti Allah, akhirnya dikunjungi keluargaku tercintahhh. Semoga lancar urusan pervisaan dan perduitan keberangkatan… Amiin. Gelar karpet merah dan masak2 nih kita…” ungkap Cholil Mahmud melalui akun Instagram-nya. Vokalis/gitaris Efek Rumah Kaca itu memang sedang berdomisili di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. (*)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.