Emdisi
Formasi Emdisi (kiri ke kanan): Dochol (gitar), Abeng (dram) dan Unay (gitar, vokal) (Sumber: Dok. Emdisi)

GeMusik – Setelah menunggu selama lima bulan sejak format audionya dirilis, band grunge berbasis di Bandung, Emdisi, akhirnya meluncurkan video musik dari single “Me You and Satan”. Video musik ini telah diunggah melalui channel YouTube resmi milik Unay (gitar, vokal), Dochol (gitar) dan Abeng (dram) sejak 23 September 2017 lalu.

Video musik berkonsep minimalis ini digarap di beberapa lokasi lewat sentuhan sutradara Riano dan editor Giguy. Di antaranya di studio Rebuilt 40.1.24 – yang konon bernama awal Reverse – milik penggebuk dram PAS Band, Richard Mutter dan di sekitaran flyover Antapani serta di rumah tua milik seorang seniman asal Bandung. Untuk modelnya, Emdisi mendaulat wanita bernama Cindy.

“Me You and Satan” adalah single pertama dari EP (album mini) kedua Emdisi yang akan diluncurkan dalam waktu dekat. Lagu ini mereka dedikasikan kepada para penderita HIV/AIDS yang berjuang untuk kesembuhan mereka, serta tetap bertahan memperjuangkan hak-haknya dalam melawan stigma negatif yang diciptakan oleh orang-orang konyol negeri ini.

“Lagu ini bercerita tentang bagaimana kerasnya perjuangan seseorang yang dipandang sebelah mata dan dicemooh oleh orang-orang yang merasa sok benar.  Ugie Baldy a.k.a Alias yang pernah terlibat dalam grup hiphop Jagal Sangkakala menyumbangkan dan memuntahkan lirik cadasnya,” ujar Unay kepada GeMusik.

Di bulan yang sama, Unay dkk juga merilis single kedua mereka, “Subversif” yang akan ditindaklanjuti dengan single ketiga, “Stigma Tak Bermata” pada November 2017 mendatang sebelum kemudian merilis album mini berisi lima trek – plus sebuah trek bonus bertajuk “Sad” yang sebelumnya dirilis pada November 2016 lalu.

Mengenai lagu “Subversif”, Unay menjelaskan. “Lagu ini banyak terinspirasi dari pergerakan para petani yang memertahankan lahan pertaniannya dari gempuran para pemodal yang dibekingi aparatur negara. Kebijakan mereka, sering tidak pro rakyat kecil.

Secara keseluruhan, vokalis yang juga berperan sebagai manajer band metal Murka ini menegaskan, konsep musik yang bersemayam di dalam EP yang belum mereka beri judul ini bakal berbeda dibandingkan dengan EP sebelumnya, Enigmatic, dimana muatan musiknya dikemas lebih luas  dengan meleburkan berbagai sub-genre musik rock.

“Kami bakal lebih mengeksplorasi dengan tidak menanggalkan identitas Emdisi. Ada yang bilang Emdisi itu band stoner rock. Karena memang di awal karir kami terbentuk kami mendengarkan berbagai jenis musik rock. Dan kami juga banyak terinspirasi oleh Deftones.”

Emdisi tampaknya ingin keluar dari bayang-bayang grunge heroes seperti Nirvana, Soundgarden, Pearl Jam dan Alice In Chains agar memiliki jangkauan pasar dan penggemar yang lebih luas. Hal ini terbukti dengan seringnya mereka diundang tampil di gelaran event musik berbasis metal. “Tahun lalu, saat menggelar tur Singapura-Malaysia kami bahkan bermain di komunitas hardcore/punk,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.