Forgotten – Kaliyuga

Unit death metal terbaik negeri ini menyodorkan lagu-lagu tajam yang dibikin dari puncak indeks kebahagiaan sekaligus tensi kemarahan tertinggi mereka.

0
218

Kaliyuga
FORGOTTEN
Sulung Extreme Musick

Selamat datang di Kaliyuga, sebuah fase evolusi peradaban manusia yang menjadi serigala bagi kaumnya sendiri. Anda sudah diperingatkan!

Pionir death metal asal kampung Ujungberung (Bandung) ini akhirnya kembali dengan album anyar yang musiknya seperti dibikin di neraka, namun liriknya justru dibikin di surga. Begitu kalau kita mau meyakini apa yang konon dikatakan vokalis Addy Gembel – saat mengaku susahnya menulis lirik yang sarat makian dan protes dari domisilinya yang tenang, nyaman dan asri di seberang lautan sana.

Tidak seperti album sebelumnya, kali ini Forgotten justru mulai meninggalkan nuansa etnik Sunda yang pernah dilekatkan pada Laras Perlaya. Gantinya, mereka sekarang lebih banyak memasukkan unsur string dan nuansa ‘goth’ pada Kaliyuga. Hasilnya cukup jitu. Komposisi musik Forgotten terdengar makin mewah dan megah. Membentuk atmosfir yang lebih mencekam pada seluruh bagian musiknya.

“Mentalitas Fasis” dipacu ngebut dengan selipan riff-riff gitar yang old school. Jelas, ini adalah anthem anti-fasis yang layak disemburkan tanpa ampun: “Mentalitas fasis, lobang anus nasionalis / Mentalitas fasis, khotbahmu sebar sipilis…”

Itu juga setipe dengan “Seiman Dalam Kelam” yang siap merongrong kaum fasis dan menolak fatwa global seperti bait: “Laga puputan Syria di bawah satu dunia / Satu agama Al Qaeda kloningan CIA / Indeks bursa senjata Taliban tanpa sorban / Menghitung Neraca korban…”

Addy Gembel dkk juga intens membangkang pada “Manufaktur Teror” yang megobarkan semangat anti centeng dan aparat. “Logika yang aman, di moncong senapan / Tolak ukur aman dengan jam malam / Lencana berkilau, dihampelas amarah / Petantang petenteng bermentalkan centeng…”

Stok lagu lawas, “Terlaknat”, terdengar semakin laknat saat deru drum dan solo bass mendominasi. Perang kelas diungkap dengan baik dalam “Berhala Kelas Kuasa” yang memiliki solo gitar yang syahdu di tengah lagu. Tembang berlirik Inggris, “Corporate Oligarchy”, dipacu agak lamban, dan sedikit mengingatkan pada gaya musik Obituary.

Basis old school death metal tentu masih dipertahankan, dengan rujukan musikal dari tepi pantai Florida (Malevolent Creation, Death, sampai Deicide) hingga ke sudut Skandinavia di Eropa sana (Hypocrisy sampai Grave). Progres yang paling besar tampak dari sisi sound yang ditata secara paripurna oleh gitaris Toteng – yang juga pernah menangani album milik Carnivored dan Death Vomit.

Lirik tajam yang sarat amarah meluncur deras saat Addy Gembel dkk menampar wajah para fasis, centeng dan aparat – juga menggugat topik-topik seputar kelas sosial, kultur barbar dan fatwa-fatwa yang dogmatis. Tak pelak, masih menempatkan Addy Gembel sebagai lirikus metal paling mumpuni di bidangnya.

Sejauh ini, album Kaliyuga menjadi puncak dari indeks kebahagiaan sekaligus tensi kemarahan tertinggi dari salah satu band death metal terbaik di negeri ini. Album bagus yang diproduksi dengan penuh suka cita, memang kadang sarat protes dan amarah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.