God Bless
God Bless Mengganjar ‘pengorbanan’ penonton dengan penampilan all out selama hampir dua jam tanpa jeda. Foto : Evan Antono

GeMusik – Ungkapan jadul bahwa makin tua makin menjadi memang harus disandang oleh God Bless, saat tampil hampir dua jam tanpa jeda di Sahid International Convention Centre Dupan Square, Pekalongan, Kamis 21 Desember 2017. Klop dengan judul pagelarannya, Rise of The Legend.

Hujan yang mengguyur sejak sore tidak mampu menghalangi penggemar musik keras untuk datang menyaksikan penampilan jago-jago tua tersebut. Sebagian bahkan berasal dari kota-kota di sekitarnya, termasuk Cirebon dan Semarang. Padahal, di tengah kecenderungan tidak sehat penggratisan hiburan musik, harga karcisnya tak bisa dibilang murah yaitu Rp.400.000, Rp.300.000, Rp.200.000, Rp.100.000 dan Rp.60.000.

Baca Juga: Banjar Membara

Tidak sia-sia, ‘pengorbanan’ mereka pun diganjar oleh suguhan all out dari Achmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bass), Abadi Soesman (keyboard) dan Fajar Satritama (drum). Jika mau bersikap adil, apresiasi haruslah diberikan kepada stamina mereka. Achmad Albar, misalnya. Di usianya yang memasuki ke-72 tahun, masih sanggup berlarian di antara kedua side wing panggung, mengajak penonton menyanyi bareng, lengkap dengan teriakannya yang mengguntur. Padahal sebagian repertoar malam itu rata-rata bertempo upbeat: “Musisi”, “Bis Kota”, “Kepada Perang”, termasuk judul yang jarang dibawakan: “Sodom Gomorah”.

Baca Juga: Taring God Bless

God Bless
Donny Fattah (bass), Achmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar)/ Trio tak terpisahkan. Foto : Evan Antono

Menarik mengamati bahwa di antara deretan lagu hingar-bingar, God Bless menyelipkan pula beberapa lagu bernafaskan rock progresif. Contohnya “Selamat Pagi Indonesia” dan “Bukan Mimpi Bukan Ilusi” yang aransemennya penuh jebakan sinkop yang pada situasi tertentu berpotensi ‘mengganggu’ dinamika pertunjukan. Siapa pun penyusunnya, saya seperti menangkap sebuah ajakan dari personel God Bless agar penggemar mereka terbiasa menyimak karya-karya yang dibangun di atas aransemen rumit dan memerlukan kordinasi – hingga kini salah satu satu band rock tertua ini tetap rajin berlatih secara rutin setiap hari Rabu di daerah Cibubur, Jawa Barat. Jika pun dibutuhkan semacam penyeimbang, itu biasanya diisi dengan mengetengahkan nomor akustik “Syair Kehidupan”.

God Bless band berulang kali mengalami pasang surut dalam karir. Album terbarunya, Cermin 7, berhasil mengembalikan pamor mereka sebagai kelompok yang karismatik. Prinsip kekeluargaan menjadi salah satu resep awet band berusia 44 tahun ini. Perhatikan saat lagu “Menjilat Matahari”, ciptaan Yockie Suryo Prayogo, akan dibawakan. Sejak mantan personel God Bless tersebut mengalami sakit yang serius, Achmad Albar tidak pernah lupa mengajak penonton untuk terlebih dulu bersama-sama mendoakan kesembuhannya.

Baca Juga: Yockie “Menjilat Matahari”

“Lagu ini adalah ciptaan sahabat kami Yockie Suryo Prayogo yang sekarang sedang terbaring sakit. Saya ingin mengajak Anda semua untuk mendoakan kesembuhannya. Semoga Yockie dapat segera aktif berkarya lagi,” katanya dengan tubuh banjir keringat.

Pertunjukan yang sejak awal mendapat respons gegap gempita tersebut diakhiri oleh“Semut Hitam”, ciptaan Donny Fattah dan, juga, Yockie Suryo Prayogo. (*)

- Happy Anniversary -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here