Go International

1
203
Stars and Rabbit
Dua anggota Stars and Rabbit (kiri ke kanan): Elda (vokal) dan Adi (gitar) (Dok. Stars and Rabbit)

GeMusik – Kini, go international bukan lagi hal yang langka. Begitu banyak artis Indonesia yang sudah mencicipi panggung internasional atau pun sekadar memasarkan album mereka di sana. Tapi, semua tentu tidak diperoleh dengan cara instan. Selain harus memiliki uang, mereka juga harus memiliki keberanian – baik dalam bertindak maupun berpikir – serta kemampuan membuat inovasi dalam hal berkarya. Untuk itu, kita tidak bisa menutup mata begitu saja akan pencapaian para artis ini. Karena bagaimana pun, mereka telah mengharumkan nama Indonesia. Berikut, beberapa nama musisi/band Indonesia yang berhasil menembus dunia internasional.

Burgerkill
Tiga personel Burgerkill (dari kiri-kenan): Agung ‘Hellfrog’ (gitar), Vicky Mono (vokal) dan Ebenz (gitar). (Sumber: Budi Susanto)

Kita mulai dari ranah metal. Para metalhead pasti mengenal nama Burgerkill, Noxa, Jasad, Deadsquad, Siksakubur, dan yang paling anyar Beside. Tapi kita tidak akan membahas semua band ini. Ambil satu contoh saja, Burgerkill. Sepanjang perjalanan karirnya, band yang bermarkas di Ujungberung, Bandung ini sudah pernah menginvasi “Soundwave Festival” dan “Big Day Out” di Australia serta hadir di acara “Golden Gods” yang digagas majalah asal Inggris, Metal Hammer setelah dinobatkan sebagai pemenang di kategori Metal As F*ck.

Tidak sampai di situ, pada akhir Juli hingga awal Agustus 2015, Burgerkill kembali menjejakkan kakinya di Tanah Eropa dengan bermain di “Bloodstock Festival” (Inggris) dan “Wacken Open Air” (Jerman). Mau tahu bagaimana akhirnya mereka bisa tampil di sana? Gitaris Agung ‘Hellfrog’ pernah menuturkan, “Untuk “Wacken” kami memang diundang (oleh pihak penyelenggara). Yang “Bloodstock” kami sengaja apply. Semua itu berawal dari link yang telah kami bangun. Kayak waktu “Golden Gods” itu, dari situ kami membangun koneksi dan itu menjadi poin tersendiri buat kami,” urainya.

FOS
Tiga personel Free On Saturday (dari kiri ke kanan): Pallo (bass), Aryo Wahab (vokal) dan Coki (gitar). (Sumber: Adi Wirantoko)

Dari kubu rock, ada Gugun Blues Shelter dan Free On Saturday (FOS) yang melenggang ke mancanegara melalui jalur kompetisi “Hard Rock Rising”. Ada pula Cupumanik, Navicula, Saint Loco dan tiga band metal Streetwalker, Rising The Fall dan Dark Legal Society yang terbang ke Kanada melalui rute “Planetrox, Envol de Macadam”. Sekarang, kita arahkan perhatian kepada FOS. Untuk mencapai “Hard Rock Stage 2012”, band yang diawaki vokalis Aryo Wahab ini juga harus lebih dulu melalui berbagai proses.

Setelah berhasil menjadi salah satu band yang masuk ke dalam 86 band pemenang kompetisi lokal di wilayah masing-masing, FOS akhirnya tembus ke babak 10 besar bersama band asal Bali, Superman Is Dead. Di babak penjurian internasional ini, FOS berhasil menempati posisi ketiga di bawah Hey Monea! dari Hard Rock Cafe Cleveland, Amerika Serikat dan Brass Wires Orchestra dari Hard Rock Cafe Lisbon, Portugal.

Aryo dkk pun berhak tampil di “Hard Rock Stage”, Hyde Park, London selama kurang lebih 25 menit membawakan enam lagu termasuk sejumlah hits yang dicomot dari EP self-titled perdana mereka yang dirilis tahun 2011 lalu. Mereka juga berbagi panggung dengan musisi-musisi dari negara-negara lain semisal Cocktail Slippers, Dive Bella Dive, Deap Vally, The Launderettes, Koo Koo Kitchen dan Maker dan bahkan tampil di hari yang sama dengan legenda grunge Seattle, Soundgarden.

Baru-baru ini, ranah rock juga diramaikan oleh berita tentang keberhasilan  Speaker First tampil di Woodstock festival. Band asal Bandung ini, bahkan menjadi satu-satunya band dari Asia yang mencicipi Woodstock, Polandia setelah menerima undangan langsung dari panitia. Willy Hidayat dari MyWill Entertainment sebagai manajer band pernah mengungkapkan dalam sebuah acara siaran pers, kehadiran Speaker First di Woodstock Festival bukanlah melalui proses audisi. “Mereka mendengar karya Speaker First yang sempat memimpin tangga lagu di sana,” ucapnya.

Dewa Budjana
Dewa Budjana (Sumber: Adi Wirantoko)

Dari area jazz ada nama-nama gitaris seperti Dewa Budjana, Tohpati, Tesla Manaf, Agam Hamzah, dan Reza Ryan yang karya-karyanya diapresisasi oleh Leonardo Pavkovic, pemilik label rekaman independen asal Amerika Serikat, MoonJune Records. Leonardo yang berteman dengan almarhum Riza Arshad – karena sangat menyukai materi musik SimakDialog dan berminat merilisnya via label rekaman miliknya – lantas berkenalan dengan gitaris SimakDialog, Tohpati dan merilis album-album milik pria yang akrab disapa Bontot itu.

Leonardo  kemudian bertemu Budjana di salah satu pertunjukan Allan Holdsworth di Singapura pada tahun 2006. Saking seringnya berkomunikasi dengan musisi-musisi Indonesia dan juga sering berkunjung ke negara kita, Leo – sapaannya – kemudian berkenalan dengan Agam Hamzah, Reza Ryan dan Tesla Manaf yang lantas ditindaklanjuti dengan perilisan album-album mereka. “Semuanya terkesan tidak disengaja dan terjadi begitu saja,” ungkap Leo.

Sandy Sondoro
Sandhy Sondoro (Sumber: Arcananta Idea Facilities)

Dari genre pop, Sandhy Sandoro adalah gambaran kejeniusan musisi Indonesia. Pertama kali datang ke Berlin, Jerman dia hanya berstatus sebagai anak kuliahan yang mencoba bertahan hidup dengan cara mengamen di bis dan kereta bawah tanah. Namun berkat kecintaan yang tinggi terhadap musik serta kelebihan dalam hal bergaul, ia memiliki banyak teman dari berbagai negara hingga akhirnya bisa melakukan sebuah hal prestisius yang bahkan tidak mampu dilakukan oleh orang Jerman sekali pun.

Menduduki peringkat lima besar “TV Total 2007” – sebuah ajang pencarian bakat yang dibuat sebagai jawaban atas “German Idol 2007” – dan mencapai singgasana “New Wave 2009” bukanlah perkara mudah. Sejak itu, sepak terjangnya tidak hanya mengangkasa di langit Jerman dan negara kelahirannya, Indonesia. Tapi menyebar ke seantero Eropa.

Memasuki tahun 2017, Sandhy Sondoro juga mengikuti festival musik internasional, “White Nights of St. Petersburg” di Rusia, tepatnya pada 8-10 Juli lalu yang lagi-lagi terpilih sebagai juara pertama mengalahkan 12 peserta lain dari berbagai negara.

Bukan hanya Sandhy Sondoro, musisi pop asal Bandung, Dhira Bongs juga tampil di Kyoto Music Expo yang dihelat di Kyoto Umekoji Park Lawn Square pada  23 September 2017. Kesempatan itu datang setelah peniup trumpet band asal Jepang, Quruli, Fan Fan mengatakan bahwa Dhira adalah penyanyi idolanya. Nao, manajer Quruli yang juga penyelenggara Kyoto Music Expo kemudian mengundang Dhira untuk tampil di sana. Dhira pun memutuskan untuk menambah jadwal kunjungannya di Jepang dengan menggelar konser mini bertajuk “Open Suitcase Journey” sebelum event Kyoto Music Expo digelar.

Rhoma Irama
Rhoma Irama (Sumber: Ramdansyah)

Berbicara tentang go international, tidak lengkap rasanya jika kita tidak menyinggung pencapaian internasional yang telah digoreskan ‘The King of Dangdut” Rhoma Irama. Menurut peneliti musik dangdut dari Universitas Pittsburg, Amerika Serikat, Prof Andrew Weintraub, lagu-lagu karya Rhoma telah dipelajari di sejumlah universitas di Amerika. Lagu-lagu tersebut menjadi salah satu mata kuliah wajib yang dicatat dalam enam buah buku berhalaman tebal.

Dalam bukunya yang berjudul “Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia” (KPG 2012), Andrew menuliskan, selain karena keragaman sumber musiknya, Rhoma Irama menjadikan dangdut sebagai wahana gagasan tentang moral dan politik rakyat. Dalam buku tersebut, Andrew juga menganalisa pesan 307 lagu yang telah dirilis Rhoma. Salah satu lagunya, “Stop” bahkan dianggap sebagai lagu pop terkaya di dunia. Terkaya dalam hal imajinasi, kreativitas, dan aransemennya.

Tidak sampai di situ. Dalam sebuah sesi rehearsal festival lagu terpopuler negara-negara Asean di Filipina yang pernah diikutinya. Rhoma sempat bersitegang dengan salah satu juri yang mengatakan, lagu “Kerudung Putih” dan “Haram” yang akan dibawakannya harus diaransemen ulang lantaran partiturnya tidak bisa ditulis sesuai ketentuan ilmu musik. Jika tidak, lanjut juri itu, Rhoma akan didiskualifikasi dari kompetisi tersebut. Tapi Rhoma ‘cuek’ saja.

Pengamat musik asal Jepang yang juga berada di sana saat itu malah mengijinkan Rhoma untuk terus berpartisipasi. Ia membela Rhoma dengan mengatakan, “Manusia harus tunduk kepada jiwanya bukan kepada hukum-hukum musik. Juri lah yang harus menyesuaikan dan harus bisa menulis not balok lagu-lagu itu. Jangan paksa Rhoma menyesuaikan dengan keinginan juri”. Rhoma pun tidak jadi didiskualifikai. “Itulah kenapa saya nggak mau belajar musik. Inilah soul yang saya miliki,” tandasnya.

Oke. Keberanian punya, kemampuan membuat inovasi dalam hal berkarya juga ada. Tapi, dana untuk memenuhi kebutuhan transportasi dan akomodasi ke luar negeri tidak mencukupi. Padahal – misalnya – mereka mendapatkan undangan khusus dari salah satu penyelenggara acara di luar negeri. Melewatkan peluang emas begitu saja tentunya sangat disayangkan. Apalagi, kesempatan biasanya tidak datang dua kali. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Mungkin, mereka bisa belajar kepada grup funk pop asal Bogor, Tokyolite. Pada awal Mei 2016 lalu, gitaris sekaligus vokalis Stevan Arianto dan bassis Alexander Bramono menerima undangan untuk tampil di sebuah festival dan konferensi musik internasional di Osaka, Jepang, “Kansai Music Conference”, yang digelar pada 16 hingga 18 September 2016. Dan Tokyolite menjadi satu-satunya band perwakilan Indonesia.

Menyadari untuk bisa berangkat ke Negeri Sakura memerlukan dana yang tidak sedikit, mereka menggalang dana melalui situs kitabisa.com dimana untuk ikut berpartisipasi di penggalangan dana ini, Tokyolite menyediakan empat opsi plus penghargaan yang diberikan oleh mereka. Dimulai dari pendonasi terkecil senilai Rp 250 ribu yang akan mendapatkan album terbaru bertajuk Avenue hingga angka sebesar Rp 2,5 juta yang akan mendapatkan konser mini pribadi di area Jabodetabek.

“Kansai Music Conference” sendiri bukanlah penampilan perdana Tokyolite di Jepang. Pada tahun 2013, mereka pernah tampil di kontes “Asia Versuk” yang diadakan Fuji TV setelah sebelumnya single Never Want berhasil meloloskan mereka ke babak final melawan band Jepang, Earls Court. Terpilih sebagai runner up, Tokyolite mendapatkan puja-puji dari salah satu juri yang juga musisi tersohor Jepang, GACKT.

Atau bisa juga mengambil contoh dari gitaris Tesla Manaf yang juga pernah tampil di Jepang. Tepatnya,  menggelar tur konser keliling Jepang pada 12 Maret 2016 lalu. Pria yang pernah masuk dalam nominasi “Anugerah Musik Indonesia” (AMI) 2015 untuk kategori Album Jazz Terbaik berkat album It’s All Yours ini menggelar enam pertunjukan di empat kota di Jepang dalam waktu 10 hari. Untuk bisa tampil di Negeri Sakura, Tesla pun  melakukan berbagai cara untuk mengumpulkan dana. Mulai dari menjual pemutar piringan hitam miliknya, menjual vinyl band Mocca yang sudah ditandatangani para personel band tersebut hingga menggalang dana melalui situs kitabisa.com.

Seperti halnya Tokyolite, Tesla  juga memberikan lima opsi donasi yang masing-masing mendapatkan penghargaan berbeda-beda. Donasi dimulai dari angka Rp 125 ribu dengan penghargaan berupa sebuah CD A Man’s Relationship With His Fragile Area, hingga yang paling tinggi dipatok seharga Rp 10.025.000 dengan reward berupa CD dan format digital album A Man’s Relationship With His Fragile Area, e-book tur Jepang, unduh gratis video dokumentasi tur Jepang, dan satu album mini yang berisi dialog personal pendonasi.

Stars and Rabbit
Dua anggota Stars and Rabbit (kiri ke kanan): Elda (vokal) dan Adi (gitar) (Dok. Stars and Rabbit)

Daftar band dan musisi yang dijabarkan di atas tentu saja hanya sebagian. Belum termasuk biduan Anggun, Dira Sugandi, The S.I.G.I.T, White Shoes and the Couple Company, Stars & Rabbit, J-Rocks dan /rif yang pernah mencicipi rekaman di studio Abbey Raad, Inggris, pianis Joey Alexander atau bahkan vokalis senior Vina Panduwinata yang tanpa diketahui banyak orang justru memulai karir musiknya dengan merilis single  “Java/Singles Bar” via label rekaman Jerman, RCA di tahun 1978. (*)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.