Hari Moekti Si Pendekar

Mantan rocker serta da’i kondang itu meninggal akibat serangan jantung dalam usia 61 tahun.

0
161

Beberapa jam sebelum mengembuskan nafas terakhir, Hari rupanya sudah mempunyai firasat bahwa hidupnya tidak lama lagi. “Abi berpesan kepada Umi agar dirinya dikebumikan di Cikretek, Pasirkuda, Ciawi, Bogor,” kata Fakih Zulfikar Hariwibowo (24 tahun), putera sulung Hari Moekti dari istri pertamanya, Julia Agustina. Abi yang dimaksud adalah panggilan untuk Hari Moekti. Sementara yang dimaksud Umi merupakan panggilan Siti Nurjanah, istri keduanya.

Menurut Kiki, panggilan Fakih, sudah lama ayahnya mengidap penyakit jantung koroner dan sudah pernah menjalani operasi ring sekitar bulan April 2018. Menurut rencana, Senin pagi ini Hari dijadwalkan memberikan dakwah di masjid besar ABRI, jalan Gatot Subroto, Cimahi, Jawa Barat. Namun Tuhan berkehendak lain. Ia meninggal pukul 20.49 (Minggu, 24/6/2018) di Rumah Sakit Yudistira, Cimahi, Jawa Barat. Beberapa tahun belakangan ia memang sangat aktif melakukan syiar Islam ke berbagai kota di pelosok tanah air.

Terlahir di Cimahi, Jawa Barat, 23 Maret 1957, pria bernama asli Hariadi Wibowo ini menyelesaikan SMA-nya di Cimahi dan Bandung. Setela itu Hari hijrah ke Semarang mengikuti orang tuanya yang bertugas sebagai tentara. Di sinilah ia berkenalan dengan dunia keras. Setahun setelah menjalani pekerjaan sebagai room boy Hotel Patra Jasa, ia mulai dikenal di kalangan preman Semarang dan sering terlibat dalam berbagai perkelahian.  Guna mempertahankan hidup, Hari mengaku membekali dirinya dengan ilmu kebal tubuh.

“Kalau nggak gitu bisa ‘lewat’ saya,” ceritanya suatu hari. Di kalangan teman-temannya Hari Moekti juga kerap dipanggil Pendekar, singkatan dari Pendek dan Kekar.

Toh, sekali pun mengaku tidak mempan dibacok, lama-kelamaan Hari merasa hidupnya tidak tenang. Setelah ayahnya meninggal, ia pun kemudian pindah ke Bandung dan mulai menekuni dunia musik. Sempat bergonta-ganti band, antara lain Orbit, Primas dan New Bloody, Hari Moekti kemudian pindah ke Jakarta dan bergabung dengan Makara pada 1982. Band art metal yang menampilkan dua vokalis yaitu Hari dan Kadri Mohamad. Personel lainnya adalah Agus Anhar (gitar), Januar Irawan (bas), Adi Adrian (keyboard) dan Andy Julias (drum). Tahun 1984 label Pro Sound mengontrak mereka untuk merilis album Laron-Laron. Makara mulai tampil di berbagai kota Jawa Barat.

Makara : Kadri Mohammad (vokal), Agus Anhar (gitar), Hari Moekti (vokal), Andy Julias (drum), Yanuar Irawan (bas), Adi Adrian (keyboard).
Makara : Kadri Mohammad (vokal), Agus Anhar (gitar), Hari Moekti (vokal), Andy Julias (drum), Yanuar Irawan (bas), Adi Adrian (keyboard).

Tahun 1987 saya ikut dalam rombongan mereka menuju Jogyakarta memenuhi panggilan mentas. Saat itu Hari sudah mulai menunjukkan minatnya untuk memperdalam agama. Ia selalu menjadi imam setiap kami salat kami berjamaah. Ternyata, itulah penampilan terakhir Makara. Adri Adrian kemudian mendirikan Kla Project, sedangkan Kadri Mohammad sukses menjadi pengacara dan belakangan muncul kembali dengan bendera The Kadri Jimmo. Hari sendiri melanjutkan karirnya dan sukses sebagai penyanyi solo antara lain lewat hit “Lintas Melawai”, “Ada Kamu”, dan  “Aku Suka Kamu Suka”.

Hari Moekti pun bergabung dengan Krakatau meski tak sampai ikut dapur rekaman – seperti diketahui, posisinya kemudian digantikan oleh Trie Utami hingga sekarang. Lepas dari band fusion ini namanya kembali meroket saat mendirkkan kelompok Adegan bareng Donny Suhendra (gitar), Indra Lesmana (keyboard), Mates (bas) dan Gilang Ramadhan (drum). Album kedua, Selangkah Di Depan, berhasil mencetak hit “Satu Kata”.

Sebagai musikus Hari Moekti sebenarnya terbilang sukses. Pembawaannya yang ramah, aksi panggung yang atraktif disertai vokal full power merupakan modal utamanya untuk menembus persaingan ketat hingga berhasil menempati posisi sebagai salah seorang vokalis rock penting pada era 1980-an. Akan pada justru titik inilah pandangannya terhadap nilai kesuksesan berubah.

“Setiap berdiri di atas panggung, di hadapan ribuan penonton yang mengelu-elukan, saya melihat sebagian dari mereka memegang botol minuman keras. Saya begitu merasa bersalah, untuk itukah saya menekuni profesi selama ini?” kisahnya. Hari-hari selanjutnya ia dilanda kegelisahan sampai akhirnya berbulat tekad untuk meninggalkan segala gemerlap dunia musik yang telah membesarkan namanya. Ia terjun sebagai pendakwah. Gaya ceramahnya yang berapi-api penuh semangat kerap diartikan sebagai ustaz beraliran keras.

Beberapa tahun lalu, usai dia berceramah di sebuah tablig akbar, saya sengaja menemuinya untuk mencari tahu tentang isu yang mengatakan bahwa da’i kondang tersebut telah menyatakan bermain musik itu haram. Pembawaannya tidak berubah. Tetap ramah. Seramah penjelasannya tentang isu tersebut. Menurutnya, ada sebagian pernyataannya yang dipelintir oleh wartawan yang pernah mewawancarinya sehingga seolah-olah dirinya mengharamkan musik.

“Sampai sekarang saya tetap dengerin musik kok. Koleksi kaset Rolling Stones saya masih tersimpan rapih di rumah. Intinya, kabar yang mengatakan saya mengharamkan musik itu nggak benar.”

Kini lelaki ekspresif itu telah menghadap Sang Khalik. Kita hanya dapat mengenangnya melalui suara lantangnya yang terdokumentasikan dalam tujuh cakram album. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.