Iksan Skuter – Gulali

Masih menampilkan sosok Iksan Skuter yang kritis namun dengan sisi musik yang lebih manis.

0
304

Artist : Iksan Skuter
Album : Gulali
Label : Srawung Records (2017)

Menjadi seorang pemilik warung kopi sekaligus musisi folk dengan jam terbang tinggi sepertinya membuat Iksan Skuter mengantongi banyak cerita untuk diluapkan dalam album musiknya. Seperti itulah album barunya berjudul Gulali yang memuat banyak kisah di dalamnya. Menjadi semacam ode kehidupan dari kacamata pria bernama Iksan Skuter – mulai dari topik kelas pekerja, kehidupan, keluarga, konflik agraria, dan, tentu saja, soal penguasa dan negara.

Iksan Skuter kembali menunjukkan kelebihannya dalam bertutur lewat lirik yang bergaya bahasa obrolan warung kopi. Begitu santai dan terdengar apa adanya. Di situlah letak kelebihannya. Dengan tema sosial yang diusung, maka tidak perlu waktu lama bagi pendengar untuk mencerna apa yang ingin disampaikan Iksan Skuter. Ia adalah salah satu musisi yang mampu menampik alasan jika menggunakan lirik bahasa Indonesia sesulit yang dibayangkan.

Layaknya gulali, Iksan Skuter juga menyajikan albumnya ini dengan balutan musik-musik yang manis, namun tidak akan sampai bikin pendengarnya menderita diabetes. Mulai dari sedikit sentuhan jazz, blues, hingga reggae, serta kentalnya alunan folk ala Bob Dylan hingga Iwan Fals yang masih menyelimuti hampir seisi Gulali dalam takaran yang pas.

Kadar rasa manis pada musik Iksan Skuter akan bertolak belakang dengan lirik yang disampaikan. Jika liriknya diibaratkan sebuah makanan, maka menu yang Iksan Skuter sajikan adalah makanan pahit, pedas, dan asin.

Gulali memang menawarkan pendengarnya untuk memilih melahap sisi manis atau sisi lain rasa pada album ini, tapi Iksan tentu berharap pendengar melahap semuanya. Tentu itu terserah para pendengar, tapi bagaimana bisa kita merasakan nikmatnya manis jika tak merasakan rasa pahit, pedas maupun asin?

Melalui Gulali, Iksan Skuter juga menunjukkan kehangatannya lewat musik. Ia tak banyak memainkan isian gitar yang magis, malah memperbanyak petikan gitar akustik yang romantis.

Gulali sepertinya cocok untuk dinikmati di pagi hari dengan segelas kopi atau sebagai bahan merenung saat malam hari, atau apa yang anak sekarang sebut… mmmh, galau?!
Tentu ini urusan ‘menggalau’ dalam tingkat yang lebih tinggi – jika tidak bisa dikatakan berat. Bukan lagi urusan asmara antar lawan jenis, melainkan soal sendi kehidupan dan kondisi negara yang kian bengis.

Terlepas dari segala kekaguman akan konsistensi dan keberanian Iksan Skuter terhadap topik yang disuarakannya, sepertinya akan menarik jika ia lebih berani mengeksplorasi musik dan gaya vokal yang lebih variatif pada materinya kelak. Pasalnya, 15 lagu yang terkandung dalam Gulali masih menyajikan petualangan musik yang tidak jauh berbeda dengan musik Iksan Skuter pada album-album sebelumnya.

Tapi, toh, terkadang musik hanya sebagai hiasan jika pesan yang dikandung di dalamnya ternyata lebih penting untuk diindahkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.