Jejak Debby Nasution

Musisi besar itu telah pergi. Benny Soebardja menuturkan komunikasi terakhirnya dengan keyboardis Giant Step tersebut.

0
108

GeMusik – Pada Jumat malam (14/9) Benny Sorbardja, vokalis sekaligus gitaris Giant Step, saling berkirim pesan dengan Debby Nasution melalui whatsapp tentang rencana kehadiran pada puncak acara AMI Awards yang akan berlangsung di Eco Park, Ancol, Jakarta Utara (26/9). Maklum, album terbaru mereka, Life’s Not The Same, berhasil masuk nominasi untuk kategori Album Rock Terbaik.

“Kami bahkan sempat janjian untuk mengenakan dress code hitam-hitam” kata Benny Soebardja, yang mengaku spontan saja memilih warna tersebut.  Ia sama sekali tidak menyangka bahwa itulah komunikasi terakhirnya dengan Debby Nasution. Keesokan harinya, dalam perjalanan menuju Anyer, ia dibuat kaget membaca berita kepergian Debby melalui akun facebook milik temannya, Mohamad Kadri.

Debby Nasution meninggal dunia akibat serangan jantung ketika sedang memberikan ceramah di Masjid Al-Ikhlas di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Sabtu, 15 September 2018. Ia sempat dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Setia dan dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 14.00 WIB.

Baca Juga: Yockie Suryo Prayogo Berpulang

Meski dikenal sebagai ustaz yang memiliki banyak jamaah, Debby selalu ingin dipanggil sebagai anak band. Seorang dengan pembawaan bersahaja. Kepergiannya meninggalkan jejak indah yang sulit dilupakan. Di antaranya komposisi “Semusim” dan “Angin Malam” masing-masing dinyanyikan oleh Berlian Hutauruk dan Chrisye dalam album fenomenal Badai Pasti Berlalu (1977).

Sebagai ‘anak band’, Debby Nasution mulai terjun ke dunia musik dengan membentuk The Bumpee’s pada 1971 sebelum kemudian membentuk The Young Gipsy bareng dengan Odink Nasution. Pada periode 1973 – 1975 namanya mulai diperhitungkan ketika bersama adik-adiknya, Odink dan Keenan Nasution, memperkuat formasi God Bless meski tidak sampai melahirkan album rekaman.  Setelah berganti posisi dengan Chrisye dalam Gipsy pada 1976, Debby bergabung dengan Eros Djarot dalam Barong’s Band dan menghasilkan dua album yaitu Barong’s Band dan Kawin Lari.

Baca Juga: 45 Tahun God Bless

Setahun setelah ledakan album Badai Pasti Berlalu, dibentuknya Bhatara dengan fomasi Freddie Tamaela (vokal), Odink Nasustion (gitar), Harry Minggoes (bas) dan Yaya Moektio (drum). Band inilah cikal bakalnya Cockpit yang tetap aktif hingga kini. Popularitasnya kian moncer setelah pada 1979 dipercaya sebagai panata musik album kompilasi Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors (biasa disingkat LCLR Prambors), menggantikan almarhum Jockie Suryo Prayogo. Salah satu hit yang tetap dikenang adalah “Kharisma Indonesia”.

Jockie Suryo Prayogo dan Debby Nasution
Dua musisi legendaris yang melahirkan LCLR Prambors 1978 (Jockie Suryo Prayogo) dan LCLR Prambors 1979 (Debby Nasution). Foto : Facebook Debby Nasution

Pada kurun 1990-an nama Debby Nasution berninisiatif mengumpulkan sejumlah temannya yaitu Harry Sabar (vokal, perkusi), Fariz RM (vokal, perkusi), Molly Gagola (gitaris utama), Eet Sjahranie (gitaris utama), Sitoresmi Prabuningrat (vokal), Harry Minggoes (vokal, bas gitar, akustik gitar) serta Keenan Nasution. Nama ini merujuk pada sebuah rumah di jalan Pegangsaan Barat, yakni tempat keluarga Nasution. Ketika itu rumah ini menjadi tempat nongkrong anak band seperti Guruh Soekarno Putera, Chrisye, Abadi Soesman dan banyak lagi.

Baca Juga: 5 Lagu Favorit Yang Merekam Jejak Yockie Suryo Prayogo

Album pertama, Palestina (1990) yang dirilis label Logiss Records, langsung melejitkan nama Gank Pegangsaan berkat hit “Dirimu” yang dinyanyikan Keenan Nasution. Namun Kenan hanya bertahan satu album. Tanpa sang kakak, Debby meneruskan pembuatan album selanjutnya yang berjudul Palestina II.

Pada 1 Oktober 2015 promotor XI Creative membuka kembali romantisme LCLR Prambors bertempat di Balai Kartini, Jakarta. Sukses. Pagelaran ini kemudian berlanjut ke beberapa kota besar di Indonesia. Debby Nasution tentu menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Dalam rombongan terdapat Benny Soebardja, ‘alumni’ LCLR Prambors 1978 era Jockie Suryo Prayogo yang melantunkan lagu “Apatis” dan “Sesaat”.

Giant Step
Giant Step formasi terakhir : Audi Adhikara (bas), Rhama Nalendra (drum), Benny Soebardja (vokal/gitar), Deby Nasution (keyboard) dan Johannes Jordan (gitar/flute). Foto : Dokumentasi

“Karena bareng terus, kami jadi sering ngobrol waktu sarapan atau pada kesempatan lain. Akhirnya Debby saya ajak untuk menghidupkan kembali Giant Step,” cerita Benny Soebardja kepada GeMusik. Rupanya gayung bersambut. Almarhum menerima tawaran tersebut dengan penuh semangat. Pada 2017 Giant Step muncul kembali dengan album Life’s No The Same (Rockpod Records) menampilkan formasi Benny Soebardja (vokal/gitar), Deby Nasution (keyboard), Johannes Jordan (gitar/flute), Audi Adhikara (bas) dan Rhama Nalendra (drum).

Baca Juga: Giant Step Bangkit Lagi

Menurut Benny, dalam beberapa kali latihan terakhir kondisi Debby Nasution memang terlihat cenderung menurun. Namun ia mengaku ia kaget mendengar penyebab kematiannya disebabkan oleh serangan jantung. “Setahu saya almarhum sering mengeluh karena memiliki vertigo,” katanya.

Apa pun, musisi besar tersebut telah meninggalkan kita. Benny Soebardja belum menentukan langkah Giant Step selanjutnya. “Kami masih berkabung.” (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.