Jikunsprain : Oktav (bass), Jiks (gitar), Sasongko (vokal), Reza (drum). Foto : Galih Adityo.
Jikunsprain : Oktav (bass), Jiks (gitar), Sasongko (vokal), Reza (drum). Foto : Galih Adityo.

GeMusik – Jikun baru saja merampungkan album kedua dari band bentukannya, Jikunsprain, yang diberi judul BerTuhan Dengan Marah. Penikmat musikmcadas dipersilakan memasuki sisi kelam dunia heavy metal. Perjalanan ke sana akan dituntun oleh sederet  tema lagu penuh gugatan atas isu sosial dan politik, disampaikan melalui kalimat lugas dan menohok. Di antaranya “Liar”, “Bedebah” atau “Gelap Tak Berujung”

Dibanding album sebelumnya, Sprained, yang masih menawarkan optimisme seperti dalam lagu “Ngetop” atau nomor balada “Untuk Dirimu”, hampir seluruh lagu dalam album ini  menawarkan nuansa kelam sangat kental. Sebagai konseptor, Jikun bahkan membawa proyek gresnya ini ke arah berlawanan dari bentuk kreatif yang dibangunnya dengan /rif. Fakta ini seakan sekaligus menginformasikan kepada kita tentang inspirator masa lalunya.

“Dari dulu gua tergila-gila pada Black Sabbath. Jadi ketika mulai album Jikunsprain, pendekatan gua lebih ke heavy metal-nya Black Sabbath atau Judas Priest daripada warna death metal atau yang lainnya.”

Dengan rampungnya rilisan fisik album BerTuhan Dengan Marah, Jikun berharap dapat melanjutkan penyaluran royalti “Rock Di Udara” kepada Donny Fattah sebagai pencipta lagu tersebut.

Pengerjaan album ini telah dimulai sejak Januari 2016 di sela-sela kesibukan jadwal manggung /rif. Single pertama, “Malaikat Hitam”, diluncurkan bulan Mei,  disusul “Rock Di Udara” – salah satu dari hit God Bless. Proses mixing-nya dikerjakan Bayu Randu yang juga pemilik Greenland Records, label yang menjadi distributor album ini.  Formasi untuk rekaman ini sedikit berbeda dengan saat mereka manggung. Richard Mutter, drummer Pas band, digantikan oleh Reza. Ada pun posisi vokalis dan bassis tetap diisi oleh Sasongko serta Daeng Oktav dari Edane.

Lirik lagu utama, “BerTuhan Dengan Marah”, diam-diam memperlihatkan kejelian Jikun atas panggung politik di atanah air yang hiruk-pikuk, kemudian menyemburkannya melalui distorsi penuh amarah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.