Ke Puncak Asmara

Rencana kolektif Asosiasi Main Rapi untuk menyambut tamu dengan arena moshpit yang rapi sepertinya gagal. Karena konser malam itu benar-benar dipenuhi oleh tenaga muda yang liar, bertenaga dan berapi-api.

0
51
Strider - Foto oleh Memen

GeMusik – Beberapa hari lalu, tepatnya pada tanggal 6 Mei 2018, digelar acara bertajuk ASMARA: Terima Tamu di Houtenhand, Malang. Bukan, ini bukan acara seperti yang kalian bayangkan. ASMARA adalah akronim dari Asosiasi Main Rapi. Entah apa dan mengapa kolektif yang dihuni wajah serta tenaga muda ini menamakan diri mereka demikian. Namun, mereka memang sekumpulan pemuda yang menyenangkan juga penuh semangat.

Adalah Wolfgang, band pertama yang dipercaya membuka acara. Wolfgang adalah nama baru di scene musik kota Malang yang hanya beranggotakan dua personil – drummer dan gitaris yang sekaligus menjabat vokalis – mengusung musik rock yang beraroma blues dan stoner rock. Meski hanya dua personil, Wolfgang malam itu tampil maksimal dan memukau.

Musik yang mereka bangun benar-benar rapat dan tanpa celah. Seolah mereka bermain dengan empat personil. Jujur, kami terkesan dengan musik yang dibawakan oleh band yang konon lahir dari salah satu universitas negeri di kota Malang tersebut. Mereka benar-benar berani beda dan menyegarkan.

Malam itu Wolfgang membawakan beberapa materi milik mereka sendiri. Seperti “Blues Berat”, “Generasi Boti”, dan lainnya. Menariknya, dengan musik demikian, mereka berani mencoba bermain-main menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Kami rekomendasikan band ini untuk kalian yang gandrung dengan materi musik semacam The White Stripes, Black Rebel Motorcycle Club, The Black Keys, Royal Blood, Radio Moscow dan lain sebagainya.

Penampil kedua adalah The Coming Backs (TCB). Grup punk yang bermain ngebut. Ini kedua kalinya kami menonton aksi mereka di Houtenhan. Ketika band ini tampil, hampir arena moshpit tak pernah sepi aktifitas. Begitu pula ketika TCB tampil di ASMARA. Persiapan yang memakan waktu dibayar tuntas dengan penampilan yang panjang, berkeringat dan bertenaga ekstra. Pantas saja setelah TBC turun panggung, penonton sudah banyak kehabisan tenaga.

Selanjutnya ada Buzz. Akhirnya penasaran kami akan band ini terbayar sudah. Buzz adalah trio grunge yang baru saja mengunggah single baru berjudul “Berdosa” – yang juga dibawakan malam itu. Hanya saja, untuk selanjutnya, rasanya mereka harus percaya diri untuk tampil membawakan seluruh materi mereka sendiri. Porsi Nirvana-nya terlalu banyak. Ha!

Pasukan stoner rock bersiap tampil. Mereka adalah Strider yang malam itu membawakan materi seperti “Defishit Moral”, “Tuan Mojo” dan termasuk satu lagu kover berjudul “Pelacur Tua”. Malam itu mereka tampaknya juga mengenalkan satu lagu baru.

Sudah bisa dipastikan jika band ini tampil, banyak kepala yang akan mengangguk tanpa lelah di sepanjang lagu bak sedang beribadah. Khusyuk. Sepertinya mereka harus mulai mencoba resep-resep dan racikan musik baru, agar lagu yang mereka ciptakan tak terdengar monoton.

Bias – Foto oleh Memen

Setelahnya ada Bias, trio rock dari Semarang. Band ini memiliki drummer dengan tenaga luar biasa. Selain gebukannya yang mantap dan bertenaga, pria ini juga menjabat sebagai vokalis. Sekitar lima lagu (kalau tidak salah ingat) mereka mainkan. Dan itu tak membuat drummer mereka kewalahan atau kehabisan tenaga. Bias memainkan musik alternatif rock yang dibalut dengan musik psikedelik rock hingga ketukan-ketukan hardcore.

Bisa dibayangkan?!

Kami pun hanya diam terpana melihat musik yang diusung Bias. Termasuk juga berbagai teknik vokal yang dinyanyikan oleh vokalis sekaligus drummer mereka. Mantab!

Penampilan terakhir adalah Olly Oxen dari Semarang. Band rock bermuatan stoner sampai psikedelik rock ini berisikan wajah-wajah yang sepertinya sudah lama malang-melintang di scene musik kota Semarang. Acara ini pun sejatinya merupakan digelar dalam rangka rangkaian tur bertajuk Bad Mantra untuk memperomosikan album yang bertajuk sama. Olly Oxen ini memang kental bernafaskan rock dengan karakter vokal yang bagai bernyanyi menggunakan megaphone.

Tapi tak bisa dipungkiri, Sleep tampaknya memiliki pengaruh besar pada musik mereka. Terutama dari divisi karakter bass. Namun, menariknya Olly Oxen tak menelan referensi musiknya mentah-mentah dan coba meraciknya dengan gaya mereka sendiri. Dan itu berhasil. Tak heran, malam itu mereka sukses membuat lantai moshpit kembali menggila!… (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.