Formasi baru Grassrock : Han Sinjal (vokal), Edi Kemput (gitar), Zondy Kaunang (bas), Rere (drum) dan Denny Ireng (keyboard). Foto: Tigor Lubis.
Formasi baru Grassrock : Han Sinjal (vokal), Edi Kemput (gitar), Zondy Kaunang (bas), Rere (drum) dan Denny Ireng (keyboard). Foto: Tigor Lubis.

GeMusik – Grassrock menggelar konser dalam rangka memperingati usia karirnya yang ke-33 tahun sekaligus launching single “Grassrock Is Back” di Kemang Village (24/5). Malam itu formasi yang tampil adalah Hans Sinjal (vokal), Edi Kemput (vokal), Zondy Kaunang (bas), Denny Ireng (keyboard) dan Rere (drum).

Tidak mudah bagi Rere, personil yang merintis berdirinya band ini pada 4 Mei 1984, untuk mengibarkan kembali bendera Grassrock. Pada awal 2016 ia mulai mengumpulkan materi untuk album baru dengan teman seperjuangannya, Edi Kemput.  Mereka merekrut Hans Sinjal (vokal) dan Ersta Satrya Nugraha (bas). Sayang, karena sesuatu hal, seluruh materi yang telah direkam lenyap terhapus. Rekaman terpaksa diulang. Setelah berhasil menyelesaikan empat buah lagu, Grassrock ikut dalam album kolaborasi 3 To Rock bareng Booemarng dan D’bandits. Empat lagu tersebut adalah “Ekstrimis”, “Aku Ingin Kau”, Matahari Sukma” dan “Bersamamu”

Beberapa bulan lalu, Grassrock kembali berlima dengan masuknya Daniel Philips Meka – biasa dipanggil Denny Ireng, mantan pemain keyboard Andromeda dan Buldozer. Namun Ersta mengundurkan diri di saat mereka tengah bersiap menghadapi sebuah undangan show. Rere dan Edi lantas mengaudisi Zondy Kaunang. Dalam waktu tiga hari, bassis asal Surabaya tersebut ‘dipaksa’ menghapal tiga lagu dengan notasi cukup sulit, yaitu “Kereta Api” (Grassrock), “Tom Sawyer” (Rush), dan “Donna Lee” (Jaco Pastorius). Lulus. Zondy Kaunang merupakan keponakan Arthur Kaunang, bassis kidal legendaris yang membesarkan AKA dan SAS Group.

Dengan formasi inilah single tadi diselesaikan. Bersama beberapa teman, Rere juga mendirikan Grassrock Enterprise untuk mengurus segala transaksi, termasuk kontrak manggung, publishing seluruh lagu mereka dan lainnya.

Dibentuk pada 4 Mei 1984, semula band ini beranggotakan Dayan (vokal), Harto (gitar), Yudhi Rumput (bas), Mando (keyboard) dan Rere (drum). Tak lama muncul Edi Kemput menggatikan Harto. Grassrock meraih Juara III Festival Musik Rock Indonesia pada 1985. Setahun kemudian festival yang sama diikutinya lagi dan berhasil menjadi Juara I. Dengan ‘tiket’  inilah mereka meretas jalan memasuki wilayah yang lebih luas. Diimulai dengan mengikutsertakan single “Prasangka” dalam album Rock Kemanusiaan (1989), Grassrock kemudian merilis empat buah album, yaitu Petersen (1990), Bulan Sabit (1992), Grass Rock (1994) dan Menembus Zaman (1999).

Sampai dengan 2016, mereka menggunakan logo Grass Rock. Menjelang dirilisnya 3 To Rock, mereka mulai mempekenalkan logo baru: Grassrock. Pergantian ini dimaksudkan penyegaran. Namun sebagai band rock senior yang cukup lama absen, tantangan mereka lebih kepada bagaimana mencitakan penggemar generasi baru. Secara skill, kemampuan Rere dan Edi Kemput tidak perlulah diragukan lagi. Mereka sudah terbiasa memainkan progresif rock sejak awal kemunculannya, genre yang membuat eksistensinya diperhitungkan. Namun tentu kini trend musik sudah berubah.

“Tantangannya adalah bagaimana memperkenalkan bahwa kami bukan Grassrock yang dulu. Sekarang Grassrock hadir membawa warna baru dan berencana menciptakan penggemar baru,” papa Rere. Keikutsertaan dua musisi muda, Han Sinjal dan Zondy Kaunang, seperti dapat menjadi jembatan ke arah sana. Namun apakah Grassrock, dengan nama besarnya, dapat menembus zaman seperti salah satu judul album mereka? Tentu masih perlu pembuktian. Dan, itulah yang tengah dicoba melalui single “Grassrock Is Back”. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.