Ketika Hard Rock Berdenyut Dalam Diri Slank

Debut album dari salah satu band rock terbesar di Indonesia yang tampil memberontak, cuek sekaligus slenge’an.

0
213
- Advertisement -

GeMusik – Kebesaran nama Slank sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Ketika usia belasan, saya pernah akrab dengan jargon “Kesuksesan acara besar cukup bisa dilihat ada atau tidaknya bendera Slank yang berkibar”.

Tapi memang benar, sekitar satu dekade silam (atau sampai sekarang?) setiap acara skala besar digelar bendera bertuliskan Slank pasti tampak berkibar di antara kerumunan penonton. Padahal saat itu Slank tidak tampil. Itu cukup membuktikan jika Slank merupakan salah satu band dengan basis massa terbesar di Indonesia.

Tiga hari belakangan saya selalu berkunjung ke lapak kaset milik Pak Tono di Jalan Juanda, Malang – atau yang dikenal dengan kawasan pasar loak Boldi. Mungkin ini semacam hikmah dari rusaknya speaker komputer di rumah. Karena sejak itu saya semakin rajin ke lapak Pak Tono untuk berburu atau sekedar melihat-lihat dan mendengarkan di tempat.

Singkat cerita, hari itu konsentrasi saya hanya tertuju pada rak koleksi kaset Indonesia. Alasannya tentu karena saya sedang dalam misi mengumpulkan rilisan yang masuk daftar 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia.

Setelah memilah-milah, pilihan saya hari itu jatuh pada kaset dengan packaging berwarna biru bertuliskan Suit Suit He He (Gadis Sexy) yang di bawahnya terdapat tulisan SLANKOGRAPHY.

Ya, itu sejatinya album pertama Slank yang dirilis pada tahun 1990 dalam formasi klasik (formasi ke-13): Bimbim (drum), Kaka (vokal), Bongky (bass), Pay (gitar), Indra (keyboard).

Tapi album yang saya dapatkan dengan mahar sepuluh ribu rupiah ini merupakan Repackaged Edition alias edisi rilis ulang dengan wujud packaging berbeda rilisan tahun 2006 oleh Slank Records, ProGram dan distribusikan melalui Virgo Ramayana Record serta bekerja sama dengan jaringan kartu seluler, Telkomsel (Kartu AS).

Konon SLANKOGRAPHY ini merupakan sebuah usaha memperkenalkan kembali album-album lama Slank setelah banyak keluhan dari Slankers (sebutan bagi fans Slank) yang mengaku belum memiliki rekaman terdahulu Slank.

Repackged Edition ini dirilis dalam dua versi warna; biru dan merah. Warna biru untuk album studio, sedangkan warna merah untuk album The Best (kumpulan lagu terbaik). Tentu saja hal ini menegaskan bagaimana album-album Slank begitu laris di pasaran.

Suit Suit He He merupakan album debut yang langsung membuat Slank mendapat perhatian. Terutama karena musiknya yang begitu penuh energi musik rock di tengah-tengah musik-musik pop yang mendominasi. Slank seolah menghadirkan musik yang mampu mengisi dahaga jiwa anak muda.

Dari judul albumnya saja pendengar sudah diberikan gambaran bagaimana musik dan lirik yang diusung oleh pemuda yang menciptakan album ini; penuh kebebasan (jika tidak bisa dikatakan liar), cuek dan slenge’an. Untungnya album ini lahir sebelum isitilah cat calling eksis. Jika tidak, mungkin judul albumnya tidak segenit ini. Ha!

Suit Suit He He (Gadis Sexy) kental dengan distorsi bernuansa rock ‘80-an. Lengkap dengan melodi gitar yang penuh teknik serta suara keyboard yang menyilaukan. Mungkin bagi pendengar Slank di medio 2000-an, seperti saya, album ini terasa unik atau terlalu asing. Terutama karena corak vokal Kaka yang begitu nyaring, tinggi dan penuh energi layaknya penyanyi rock era ‘80-an.

Namun, dari sisi musik album ini memiliki sisi manis seperti pada lagu “Maafkan”, “Apatis Blues” dan “Bocah”. Begitu pula dari sisi tema yang disinggung, di mana Slank mencoba menggambarkan bagaimana gaya mereka sebagai pemuda yang penuh semangat pemberontakan yang jauh dari karakteristik idaman (calon) mertua.

Seperti pada lagu “Aku Gila” misalnya, yang secara humoris namun menohok menyinggung bagaimana cinta yang hanya dilihat dari status harta dan tahta.

Aku memang orang yang tak punya

Dan aku juga cuma penganggur

Papa mamamu tolakkan pinggang

Dan berkata “kamu jangan datangKesini lagi ya!”

Seandainya aku orang kaya

Tentu kau kan menjilat pantatku

Jikaku seorang sarjana

Tentu papa mamamu

Bersujud di kakiku…

Atau pada lagu “Memang” di mana Slank mencoba mengkritik pandangan orang selama ini yang hanya bermodalkan tampilan luarnya saja: “Memang… celanaku juga bolong / Jangan menuduh yang penting bukannya nyolong / Memang… jaketku memang kotor / Jangan menghina yang penting bukan koruptor…”

Kritikan Slank juga disampaikan pada lagu “Apatis Blues” yang dimainkan santai dengan kental nuansa musik blues, yang meski terlihat apatis namun Slank secara gamblang menggambarkan kondisi negeri ini yang penuh intrik manipulasi, permainan kuasa, pemerkosa moral, dan diskriminasi.

Eits, tunggu dulu. Pria berpenampilan urakan juga bisa melankolis dan manis. Dengar saja lagu “Suit-Suit… He He (Gadis Sexy)” dan “Maafkan” yang menurut saya menjadi lagu paling legit di album ini.

Memang benar jika Suit Suit He He (Gadis Sexy) sangat menggambarkan jiwa muda yang menggelora sekaligus memberontak. Oleh karenanya tak heran berkat debut album ini BASF Award mendapuk Slank sebagai pendatang baru terbaik. Termasuk juga majalah Rolling Stone Indonesia yang memasukkan album ini dalam urutan ke-5 di daftar 150 Album Indonesia Terbaik. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.