GeMusik – Sudah sejak lama keyakinan ini tumbuh; banyak grup musik di kota Malang yang dirasa sudah layak untuk menggelar konser tunggal. Tolak ukur kelayakan itu bisa diukur dari beragam faktor. Mulai dari segi kualitas musik – saat rekaman atau saat manggung – hingga soal produktifitas berkarya, rekam jejak, atau faktor lainnya.

Sebut saja misalnya unit musik veteran macam No Man’s Land, Antiphaty, Extreme Decay, Begundal Lowokwaru, Tani Maju, Iksan Skuter, Neurosesick, hingga Screaming Factor. Jika dilihat dari eksistensi, konsistensi, produktifitas bahkan pengaruhnya bagi kota Malang, nama-nama tadi sudah lebih dari pantas untuk menggelar konser tunggal. Sepakat?

Baca Juga: Merayakan Emosi Bersama Beeswax di reEMOtion

Jum’at (24/8) lalu, band muda yang tiga tahun belakangan berhasil menyita banyak perhatian justru berani menggelar showcase untuk pertama kalinya. Mereka adalah Beeswax. Bertempat di Rust Bar, sebuah kedai bir anyar di kota Malang. Sejatinya, jika dilihat dari ukuran serta konsep acara, showcase Beeswax yang diberi judul reEMOtion malam itu lebih pas disebut gig tunggal.

Terlepas bagaimanapun penyebutannya, nyali Beeswax dan segenap timnya lebih patut diperhatikan serta diacungi jempol. Beeswax, sepengetahuan penulis, setidaknya menjadi kolektif musik yang mampu memecahkan mitos untuk melakukan konser tunggal di kota Malang.

Tak peduli mereka masih berstatus band muda, yang jelas jika tolak ukur kelayakan berpatokan seperti yang disebutkan pada paragraf pertama, rasanya Bagas (gitar, vokal), Iyok (gitar, vokal), Putra (bass, vokal) dan Yayan (drum, vokal) sudah bisa dikategorikan layak. reEMOtion digelar dalam rangka merayakan peluncuran album ketiga Beeswax yang dikasih tajuk Saudade.

Baca Juga: Beeswax Rangkum Emosi di Saudade

Sesuai rencana, tepat pukul delapan malam acara dimulai. Sisi depan dan lantai dua Rust Bar tampak sudah sesak oleh puluhan muda-mudi yang sebagian besar akrab dijumpai pada saat Beeswax tampil di pelbagai gig.

Peralatan telah tertata rapi di area panggung. Tembakan visual dari proyektor serta lampu sorot multiwarna juga telah siap menambah kemeriahan. Oneding, yang dipercaya menjadi pemandu acara sekaligus pihak Kementrian Budaya Urban – tim penyelenggara acara – tak banyak basa-basi langsung mempersilahkan Beeswax untuk tampil.

Satu persatu personil Beeswax muncul berjalan menuju arah panggung dengan pakaian serba hitam diiringi riuh tepuk tangan penonton. Tak banyak bicara, setelah mengucapkan salam dan terima kasih teramat singkat, Bagas dkk langsung menggeber beberapa materi lagu yang terkandung dalam album Saudade.

Baca Juga: Menilik Bagas Yudhiswa Pada The Talkboy dan Beeswax

Pada lima lagu pertama penonton masih tampak malu-malu dan hanya mengikuti irama dengan menggerakkan kepala. Tak heran, selain karena materi yang tergolong anyar, lag-lagu tersebut memang jarang dibawakan Beeswax di atas panggung. Namun, setelah Steffani BPM ikut bergabung dan menyanyikan tembang “Maze Mind”, barulah penonton tampak kegirangan. Mereka ikut bernyanyi bersama tanpa perlu aba-aba.

Sayang, momen spesial ini tak dimanfaatkan dengan baik oleh para personil Beeswax. Mereka tampak canggung dan tak banyak bicara. Hanya fokus dengan alat dan menggelontor lagu demi lagu ke telinga penonton. Padahal momen seperti ini harusnya bisa dimanfaatkan dengan baik untuk berbagi cerita mengenai segala hal yang menyangkut karya terbaru dan juga perjalanan Beeswax, misalnya.

Akan tetapi, bagi penonton, hal tersebut sepertinya tak terlalu dipermasalahkan. Terbukti mereka semua tak henti-hentinya menemani Bagas dkk bernyanyi ketika tembang-tembang populer dari album Saudade seperti “The Loaded Astray”, “Fix”, atau “Refugee” dibawakan. Termasuk juga hits dari album-album Beeswax sebelumnya yang bikin lantai moshpit Rust Bar semakin panas.

Baca Juga: Video of The Week: Beeswax – Fix

Malam itu, total sekitar enam belas lagu dibawakan oleh Beeswax. Beberapa kali kendala teknis yang harusnya bisa diminimalisir memang sedikit mengganggu. Namun semua itu masih bisa ditolerir. Jika boleh dimasukkan dalam hitungan, kontribusi tim visual serta sound engineer juga tak boleh diabaikan. Mereka juga layak diacungi jempol karena kontribusinya dalam urusan visual dan tata suara yang memuaskan.

Harus diakui, Beeswax menyudahi penampilan jauh dari kata klimaks. Mereka tampil terlalu apa adanya dan tak terlalu menguras keringat.

Beruntung, setelah Beeswax menyelesaikan set-nya, tim yang turut membantu acara reEMOtion mengadakan sesi karaoke yang mampu membuat muda-mudi rela menghabiskan malam dan sisa tenaga mereka untuk bersenandung gembira. Mereka bersama-sama menyanyikan tembang-tembang hits milik The Used, My Chemical Romance, Saosin, American Football, Blur, The Smiths, Laluna, The Adams, Write The Future, hingga Snickers and The Chicken Fighter.

Yang patut digaris bawahi, showcase ini jadi semacam pembuktian dari Beeswax jika mereka memang grup musik yang menjanjikan dan layak diperhatikan. Bukan mustahil pula langkah ini bisa memacu band-band lain untuk melakukan hal yang serupa, bahkan dalam level yang lebih. Gagasan konser tunggal seperti ini juga dapat jadi teladan bagi band-band muda untuk berani melakukan dobrakan baru, setidaknya di kota mereka sendiri. (*)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.