Konser Sang Bahaduri

Belasan musisi lintas usia dan genre mempersembahkan kesaksian seorang pemikir

1
213
Yockie Suro Prayogo
Yockie Suro Prayogo, Sang Bahaduri. Foto: Dion Momongan

GeMusik News – Keharuan sudah meruap sejak dimulainya Pagelaran Sang Bahaduri di gedung Teater Jakarta (24/1). Che ‘Cupumanik’ dan Aning Katamsi  melantunkan “Kesaksian” dengan iringan musik Indro Harjodikoro. Karakter vokal Che yang maskulin dan cenderung kasar, terdengar dramatis ketika Ananing Katamsi mengimbanginya dengan suara lirih. Pesan pada lirik tak sampai kehilangan ruhnya meski bukan dibawakan oleh penyanyi aslinya, Iwan Fals.

Lagu “Kesaksian” merupakan salah satu milestone album Kantata Takwa di mana Yockie Suryo Prayogo turut menyusun komposisinya bareng Iwan Fals dan Sawung Jabo. Ada pun liriknya ditulis oleh WS Rendra.

Mondo Gascaro, Che Chupumanik, Benny Soebardja, Dira Sigandi
Mondo Gascaro, Che Chupumanik, Benny Soebardja, Dira Sigandi. Foto Pradnyaparamita

Konser di atas dimaksudkan dalam rangka menggalang donasi untuk kesembuhan Yockie yang sampai sekarang masih terbaring lemah. Para pegiat musik yang bersatu dalam solidaritas itu terdiri dari lintas genre dan generasi. Dira Sugandi, Once, Andy/rif, Aning Katamsi, Benny Soebardja, Bonita, Berlian Hutauruk, Che, D’Masiv, Debby Nasution, Dhenok Wahyudi, Fadli, Fariz RM, Fryda Lyciana, Gilang Samoe, Inggrid Widjanarko, Keenan Nasution, Louise Hutauruk, Mondo Gascaro, Tika Bisono, Nicky Astria, serta Kadri Mohamad yang sekaligus sebagai penggagas acara.

Baca Juga: Yockie “Menjilat Matahari”

Istilah‘bahaduri’ bermakna ksatria atau pahlawan. Kata ini juga menjadi judul lagu ciptaan Yockie dan Junaedi Salat, “Duka Sang Bahaduri”, yang terdapat pada album pertama Chrisye, Sabda Alam (1980). Ia sekaligus menjadi produser album yang mencetak hit “Juwita” tersebut.

Berlangsung lebih dari tiga jam, Pagelaran Sang Bahaduri mengestafetkan berbagai interpretasi para pengisi acara atas 23 lagu yang melibatkan peran Sang Bahaduri baik sebagai keyboardist, komposer, maupun produser. Ini menjadi semacam pameran yang memberi pembelalajaran bahwa dalam berkesenian mestinya tidak boleh ada pengkotakan. Kolaborasinya dengan Chrisye pada album Jurang Pemisah (1977), misalnya, memperlihatkan betapa luas wilayah kreatif yang dapat dimasuki para musisi. Di saat trend musik, ketika itu, yang bermuara pada pembuatan durasi lagu sependek mungkin namun bermuatan komersil, Yockie membuat antisesis dengan  menghadirkan komposisi rock progresif berdurasi 9:06 menit. Album ini menjadi awal titik tolak kerjasamanya dengan Chrisye yang berjilid-jilid itu.

Pada tahun 1979 kembali ia membuat lompatan lewat album Musik Saya Adalah Saya yang menjadi konsep opera rock pertama. Dalam testimoninya, Erwin Gutawa membuat ungkapan bagus bahwa judul tersebut akhirnya menjadi menjadi cerminan Yockie dalam menyikapi perkembangan industri musik. Ruang lingkup pemahamannya tidak saja kutat seputar persolan komposisi, tetapi juga menyentuh elemen produksi.

“Karena persoalan komposisi nggak akan pernah terwujud tanpa melibatkan unsur produksi,” pernyataan ini dilontarkan Yockie dalam sebuah perbincangan. Ia merasa perlu menyodorkan pernyatan tersebut ketika saya ‘menantangnya’ untuk mengangkat kembali konsep Musik Saya Adalah Saya ke atas panggung. Dengan logika yang masuk akal, ia membeberkan bahwa konsep opera rock memiliki kesulitan tersendiri jika dihadirkan ke ranah publik. Salah satunya adalah ketertarikan sponsorship.

Berbeda dengan Badai pasti Berlalu atau dua musim Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors, Musik Saya Adalah Saya tidak terlalu ramah pada komersialisme.

Pada dua judul terakhir Yockie bekerjasama dengan Sys NS, tokoh entertainment yang membidani kelahiran LCLR bersama Imran Amir, boss Radio Prambors yang pernah menjadi barometernya anak muda Jakarta. Sedangkan pada Musik Saya Adalah Saya Sys NS bertindak sebagai narator.

Semalam Sys NS sebenarnya dijadwalkan muncul. Ia bahkan mengusulkan sebuah kejutan berupa kemunculan God Bless, band di mana Yockie pernah bergabung dan menghasilkan empat album – God Bless (1976), Semut Hitam (1988), Raksasa (1989) dan Apa Kabar (1997). Namun Tuhan berkehendak lain. Sys meninggal Selasa 23 Januari 2018. Alhasil wacana kejutan berubah menjadi doa bersama yang dipandu oleh Albar.

Baca Juga: Gempuran God Bless

Fariz RM dan Sarah Anjani,
Fariz RM dan Sarah Anjani, puteri Yockie Suryo Prayogo. Foto Yose Riandi

Duet Fariz RM dengan vokal bening milik Sarah Anjani pada “Hasrat Dan Cita” berhasil mencuri perhatian. Sarah adalah putri Yockie yang tengah merambah dunia musik. Fariz RM menulis lagu ini untuk album Andi Meriem Mattalata pada tahun 1979. Yockie yang bertindak sebagai produser memainkan banyak instrumen – mulai dari akustik dan elektrik piano, polymoog, bass, synthesizer, string melodi, drum, hingga mengisi vokal latar.

Baca Juga: Fariz RM Bicara Tentang Proyek Baru

Total donasi terkumpul malam itu sebesar Rp 520 juta yang diserahkan Kadri Mohamad dan kawan-kawan guna upaya penyembuhan Yockie Suryo Prayogo, Sang Bahaduri itu.

Ketua Bekraf Triawan Munaf yang turut memberi testimoni mewakili pihak pemerintah berjanji akan merespons berbagai upaya dan pemikiran seorang Yockie Suryo Prayogo demi tercapainya perkembangan musik Indonesia. (*)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here