Lanjut Bercerita, Phoneme Merilis Melaya

Mini album perdana Phoneme ini bercerita tentang isu-isu sosial yang selama ini dianggap remeh, namun seringkali terjadi di masyarakat luas.

0
10
Phoneme - foto dok. suaka suara.

GeMusik – Setelah melepas single pertama “Amerta”, Phoneme lanjut dengan merilis EP bertajuk Melaya. Kelompok musik folk asal Malang yang digawangi Jendra, Nashrul, Ramy, Lion, dan Rozzy itu masih dengan nuansa musik yang sama,

Melaya berisi tiga lagu di antaranya “Sunya Reda”, “Narah”, serta “Pae”. Masing-masing lagu dikemas dengan sentuhan sinden Jawa khas Phoneme.

“Melaya adalah bahasa Sansekerta, artinya Berkelana. EP ini adalah rupa dari sudut pandang kami dalam melihat banyak budaya di sekitar kita. Budaya sederhana yang kami alami sendiri,” jelas Lion.

EP perdana Phoneme ini bercerita tentang isu-isu sosial yang selama ini dianggap remeh, namun seringkali terjadi di masyarakat luas. Seperti pada lagu pertama “Sunya Reda”, Phoneme ingin mengajak para pendengar untuk sejenak berhenti dari segala rutinitas dan merayakan arti kehidupan.

“Banyak orang yang terlalu sibuk mengejar dunia, sampai lupa waktu untuk menikmatinya. Sesekali kita perlu merenungi berbagai hal yang telah kita lewati, supaya kita bisa lebih paham arti dari rasa syukur,” tutur Nashrul tentang “Sunya Reda”.

Lagu selanjutnya adalah “Narah”, yang berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya ‘Terserah’. Di lagu ini, Phoneme mengangkat budaya masyarakat kita yang secara tidak sadar sering menunda banyak waktu karena susah mengambil keputusan.

Dari judulnya saja sudah kelihatan. Kita pasti sering berdebat soal masalah kecil, seperti mau pergi ke mana, di mana, jam berapa, karena masing-masing pilih ‘terserah’,” kata Jendra mewakili ajakan Phoneme untuk tidak membuang-buang waktu atas perdebatan yang tidak perlu.

Sedangkan lagu ketiga dalam EP Melaya ini, menceritakan isi hati seorang anak kepada sosok Ayah. ‘’Pae’’ atau dalam bahasa vokal ‘’Pak e’’ adalah panggilan dalam bahasa Jawa untuk ‘’Bapak’’. Dalam lagu ini Phoneme menggambarkan bagaimana sesungguhnya perasaan mereka pada orang tua, khususnya pada seorang ayah.

‘’Kami mewakili teman-teman semua yang biasanya sulit mengungkapkan isi hatinya pada ayah. Mungkin banyak yang malu menyampaikan, atau bahkan belum sempat. ‘Pae’ juga isi dari doa kami untuk seorang Ayah,’’ kata Ramy.

Proses pengerjaan EP ini berlangsung sekitar tiga bulan. Phoneme memilih mengangkat tema sosial, karena hal tersebut yang dirasa paling dekat di keseharian banyak orang. Harapan Phoneme, Melaya dapat menjadi teman di berbagai keadaan para penikmatnya.

“Inspirasi bisa dari mana saja, bahkan di sekitar kita sendiri,” imbuh Rozzy.

Dalam waktu dekat ini, Phoneme berencana membawa Melaya untuk tur ke beberapa kota seperti Jakarta, Surabaya dan Malang sembari menyebarkan pesan dan cerita positif dari setiap lagu.

Melaya sudah bisa didengar melalui berbagai platform digital seperti YouTube, Spotify, iTunes serta Deezer.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.