LAZE: Merapal Rima-Rima Urban dari Pinggiran

Pria yang jatuh cinta pada musik rap sejak usia belasan tahun ini coba mengamati perilaku warga kota dari pinggiran, lalu berhasil merilis album yang memuat kisah-kisah kehidupan urban.

0
133
Foto Dok. LAZE.

A Man Behind The Rhyme: Terlahir dengan nama asli Havie Parkasya, pria ini telah berkutat di skena musik hip hop sejak duduk di bangku SMA. Ia mengaku jatuh hati dengan cara penulisan serta struktur lagu rap yang memungkinkannya untuk bercerita dengan detil, cerdas, namun juga puitis. Pada usia 15 tahun, LAZE telah memenangkan rap battle pertamanya dalam acara Hip-hop Asongan yang diadakan oleh veteran hip hop Indonesia, Saykoji. Sejak itu, ia rajin mengikuti berbagai kontes rap di sejumlah kota. Seperti pada ajang Soulnation, di mana LAZE mendapatkan predikat juara. Pencapaian demi pencapaian tersebut akhirnya bikin ia sadar kalau ternyata memiliki kemampuan untuk berima dengan spontan, tanpa harus menulis terlebih dahulu.

On The Studio: Berbekal pengalaman dan kegemarannya menulis musik, LAZE mulai memberanikan diri untuk merekam lagunya sendiri. Itu semua dilakukan di dalam kamar tidurnya sendiri dengan menggunakan laptop dan mikrofon sederhana. Demo lagu-lagunya itu kemudian mulai diputar oleh sebuah radio lokal di bilangan Kemang, Jakarta. Jadi sinyal yang baik baginya untuk terus berkarya.

Discography: LAZE pernah menelurkan 3 buah EP yang dikerjakan bersama teman-temannya. Ia juga terus membuat konten online serta tampil di berbagai panggung di dalam maupun luar negeri. Pada tahun 2016, LAZE sempat merilis sebuah singel berjudul “Budak”. Sejak tanggal 10 Maret 2018, debut albumnya yang bertajuk Waktu Bicara resmi dirilis oleh demajors.

Album Theme: “Album ini berkisah tentang perjalanan manusia-manusia yang bermigrasi ke kota besar dan menghadapi berbagai cobaan untuk bertahan hidup, menaikkan kelas sosial, dan lain sebagainya,” ungkap LAZE. Waktu Bicara itu soal bagaimana manusia dihadapkan dengan berbagai isu penyesuaian diri pada tempo kehidupan kota yang dinamis dan begitu cepat – yang secara tidak sadar ikut mengubah nilai-nilai individu, sikap, keadaan jiwa dan sudut pandang akan berbagai hal. Tema-tema tersebut terinspirasi dari kepindahan LAZE kembali ke ibukota. “Tempo hidup yang cepat dan kesenjangan yang begitu gamblang, beserta perilaku-perilaku penduduk di dalamnya begitu menarik untuk diterjemahkan ke dalam lagu,” pikirnya. Waktu Bicara sendiri ia maknai dalam dua arti: (1). Akankah ini menjadi waktu bagi para pejuang urban untuk bicara? (2). Ataukah mereka akan pasrah dan membiarkan waktu yang bicara untuk mereka?!

Time Speaks: Waktu Bicara memuat 15 nomor, yang hampir seluruhnya ditulis dan dirangkai musiknya oleh LAZE ketika mengerjakan tugas akhir kuliah di tahun 2016. Gaya bahasa yang digunakan LAZE termasuk ringan, walaupun terkadang terdapat permainan kata yang harus didengar beberapa kali untuk memahaminya. Seluruh rapalan yang dianggap paling personal adalah kejujuran – yang dikemas dengan detil bahasa apa adanya. Menurutnya, Waktu Bicara bukanlah album hip-hop ‘garis keras’ maupun album yang akan terdengar dari playlist DJ di klub ternama. “Ini bukanlah album untuk berdansa,” pungkasnya. “Ini adalah album untuk berkisah…”

Soundlike: Musik rap di antara rute pinggiran dan populer, dengan rapalan rima yang sederhana apa adanya. Seperti bertutur dari atas jembatan penyeberangan di kawasan Sudirman, Jakarta, sembari menatap lalu-lalang manusia pada tengah pekan di jam-jam yang sibuk.

For Fans Of: Iwa K, Saykoji, Coolio, Eminem.

Link: https://soundcloud.com/laze92 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.