Letupan Rock di Boyolali

Kota Boyolali yang tenang mendadak diguncang aksi dua band legendaris: Europe, veteran hair metal asal Swedia, serta tuan rumah God Bless.

0
161
Europe bermain rapi dengan kemampuan entertain yang mengagumkan - Foto oleh Saiful Anwar.

GeMusik – Ketika saya sampai di area Stadion Pandanarang, Boyolali, atmosfir di sana cukup hangat dan menyenangkan. Hari itu Sabtu, 12 Mei 2018, menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh para penggemar musik keras. Pasalnya, Volcano Rock Festival 2018 tampak sudah siap meletup dengan sajian utama penampilan dua band rock legendaris: Europe (Swedia) dan God Bless (Indonesia).

Sedari pukul tiga sore, saya sudah nongkrong mengamati kesibukan di sekitar venue. Jalanan di seputar stadion sudah ditutup oleh pihak kepolisian setempat. Untuk sementara, tidak ada kendaraan umum yang bisa melintas. Banner pertunjukan sudah terpampang di mana-mana, bahkan di seluruh penjuru kota. Pihak penyelenggara dan semua tim yang bertugas tampak mulai mondar-mandir menyiapkan segala sesuatunya.

Semakin sore, rombongan calon penonton juga mulai berdatangan. Kebanyakan mereka berdandan kasual dan mengenakan kaos hitam berdesain band rock idolanya. Tidak sedikit pula yang datang dari luar kota kalau melihat dari ransel di punggung dan logat bicara mereka. Nyatanya, memang ada yang datang dari Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, Madiun, Malang, Bali, dan seantero Jawa Tengah.

Kalau diamati, kebanyakan dari mereka adalah wajah-wajah paruh baya usia 30-an ke atas. Wajar, mungkin mereka yang pernah tumbuh dan besar bersama lagu-lagu Europe dan God Bless. Tidak sedikit pula yang mengajak serta istri dan anak-anaknya. Festival musik seperti ini mungkin sudah bak acara rekreasi keluarga di akhir pekan.

Di samping venue sudah disesaki berbagai booth pendukung pertunjukan. Tenda ticket box terlihat sibuk melayani proses pelayanan tiket masuk. Keseruan tampak di booth salah satu sponsor rokok yang memajang berbagai game bernuansa musikal – mulai dari permainan gitar sampai drum. Yang tak kalah meriah adalah merchandise booth serta tenda toko rekaman Insanity & Genius yang memasarkan berbagai CD dan vinyl hingga merchandise resmi God Bless.

Layaknya setiap pertunjukan musik akbar, di sisi luar venue juga mendadak dipenuhi aneka lapak dari ‘kreasi’ warga setempat. Produk bootleg dari kaos acara hingga kaos Europe sudah tersedia di situ. Versi tidak resmi dengan harga miring, tentunya. Tidak cuma kaos saja, para pelapak itu juga memasarkan stiker, poster, bandana, sampai gantungan kunci. Oke, mungkin itu kelewat ‘kreatif’.

Dari dalam venue, sepertinya lini produksi telah siap tempur. Soundcheck sudah kelar sejak siang tadi. Sore itu, panitia cukup cerdik memutar playlist lagu-lagu rock klasik seperti milik Rolling Stones, Warrant, The Clash, hingga ACDC. Cukup bagus sebagai pemanasan telinga penonton jelang konser dua band rock nanti malam.

Pertunjukan malam itu diawali dengan video sambutan Bupati Boyolali, Seno Samodro, melalui layar yang tersebar di sekeliling venue. Dengan memakai kaos Volcano Rock Festival dan blangkon khas Jawa, beliau menyapa puluhan ribu penonton yang sudah hadir di stadion.

“Volcano tidak selalu identik dengan musibah…” kata beliau pada kalimat pembuka. Bupati lalu mengenalkan Europe dan God Bless sebagai pengisi acara, kemudian ditutup dengan satu kalimat penuh semangat, “Rock never die!”

God Bless naik panggung beberapa menit selepas jam tujuh malam. Achmad Albar dkk membuka dengan tembang “Menjilat Matahari”, disambung dengan “Kehidupan”. Dua lagu pertama tadi, menyitir ucapan Achmad Albar, adalah karya cipta dari (alm) Yockie Suryo Prayogo. Sepertinya memang sengaja ditaruh pada awal setlist sebagai penghormatan khusus bagi eks keyboardist God Bless tersebut.

God Bless lalu menyajikan “Cermin”, tembang klasik bernuansa progresif rock yang kental. Peran keyboardist Abadi Soesman dan drummer Fajar Satritama cukup menonjol di sini. Disambung kemudian dengan “Emosi” yang langsung menjadi anthem di area festival dan mulai menaikkan adrenalin penonton di barisan depan.

Sajian berikutnya adalah “Musisi” yang identik sebagai ‘lagu festival’ pada zamannya dan kerap dikover oleh banyak band. Salah satu lagu terbaik God Bless tersebut mengalun rapi, nyaris tanpa cacat. Bahkan menurut penuturan orang-orang yang berada di backstage, para personel Europe sampai merapat ke sisi panggung untuk menonton langsung aksi musikal God Bless dari dekat. Kabarnya, mereka sangat kagum dan menikmati penampilan Acmad Albar dkk.

Selepas itu, Ian Antono berganti gitar akustik. Kemudian maju ke bibir panggung bersama Achmad Albar untuk melantunkan tembang balada “Rumah Kita”. Donny Fattah meletakkan bass-nya dan berdiri tenang di depan mikrofon. Sang bassist gaek itu mengambil porsi sebagai vokalis latar untuk menambah syahdu sesi akustik God Bless yang berlanjut hingga di tembang “Syair Kehidupan”.

Penonton pun ikut bernyanyi dengan khusyuk pada dua tembang balada tadi. Terdengar adem dan menenangkan.

God Bless. Band pendamping yang bermain lebih keras dari Europe. – Foto oleh Evan Antono.

God Bless lalu menaikkan enerjinya lewat “Panggung Sandiwara”, yang disambung dengan “Bis Kota” untuk membakar semangat penonton. Setlist God Bless yang disusun malam itu memang cukup memuaskan dan mampu menjaga tensi. Apalagi dipenuhi dengan lagu-lagu hits klasik mereka yang sudah dihapal luar kepala oleh para penggemarnya.

Selepas mengusung “Trauma” yang gelap dan keras, God Bless lalu menutup aksinya lewat lagu kebangsaaan “Semut Hitam”. Sebagian besar penonton sudah cukup hapal merapal lirik demi lirik lagu tersebut.

Semut-semut seirama
Semut-semut senada
Nyanyikan hymne bersama
Makan! Makan! Makan!

Jeda yang memakan waktu sekitar satu jam untuk menyiapkan set panggung band rock asal Swedia itu digunakan penonton untuk beristirahat. Duduk-duduk di atas rumput atau di tribun sembari menikmati playlist lagu-lagu rock yang mengalun dari speaker panggung. Tidak sedikit pula yang menyerbu merchandise booth atau sekedar mencari minuman pelepas dahaga di sisi lapangan.

Sekitar jam sembilan malam, logo band Europe menyala terang dari LCD raksasa yang jadi backdrop panggung. Gambar sampul album Walk The Earth (2017) muncul diikuti dengan alunan intro tanda aksi Joey Tempest dkk dkk bakal segera dimulai.

“Walk The Earth” dijadikan tembang pembuka Europe, malam itu. Penonton langsung antusias apalagi sedari awal sudah menerima tata suara yang prima di telinga serta lighting yang mempesona di mata.

“Boyolaliiii!, teriak vokalis Joey Tempest. “Piye kabare?”

Europe melanjutkan dengan “The Siege” yang masih diambil dari album terakhir mereka. Menurut informasi, Europe memang sedang melakoni tur dalam rangka mempromosikan album terbaru mereka tersebut.

Ketika memainkan “Rock The Night”, Europe menyelipkan nada-nada dari “And The Cradle Will Rock” milik Van Halen dengan mulus. Sepertinya itu bukan improvisasi biasa dan sudah dipersiapkan dengan matang. Sebab terdengar nge-blend sekali – tanpa merusak komposisi versi aslinya.

“Matur suwun,” ucap Joey Tempest beberapa kali di sela lagu. Kalimat tersebut tentu disambut tawa bahagia dari penonton. Vokalis kharimatik itu sudah berhasil mencuri hati puluhan ribu penonton.

Tanpa buang-buang waktu, Europe menggeber “Scream of Anger”, “Danger On The Track”, “Sign of The Times”, hingga “Vasastan” yang sekaligus jadi sesi solo gitar dari John Norum.

“Open Your Heart” jadi salah satu sajian yang direspon baik oleh crowd. Disambung kemudian dengan “War of Kings” yang gelap dan megah, serta “Heart of Stone” yang enerjik.

Antusiasme penonton di setiap lagu juga mendapat respon positif dari vokalis Joey Tempest. Dengan logat Skandinavia, dia tiba-tiba berseru, “Kalian keren… sekali!”

“Ya, akhirnya kami kembali lagi ke Indonesia,” ucap Joey Tempest. “Siapa yang dulu sempat menonton konser kami di Surabaya? Di Jakarta?”

Tidak sedikit penonton di barisan depan yang mengangkat tangan, dan dengan bangga mengaku hadir menonton konser Europe pada tahun 1990 silam. Uhm, 28 tahun yang lalu? Silakan tebak umur berapa orang-orang saat itu.

Jika menikmati lagu-lagu Europe itu seperti menggambarkan hari-hari yang menyenangkan di masa muda, maka mungkin pas dengan lagu mereka yang dibawakan berikutnya, “The Days of Rock N’ Roll”.

It comes raging out of nowhere
Like some wreckage to behold
We still drink out of the fountain
Of them days of rock ‘n’ roll
Days of rock ‘n’ roll

Penonton juga girang ketika dihajar lagu favorit “Superstitious”. Makin berkesan ketika lagu itu juga dipoles dengan selipan track “Here I Go Again”-nya Whitesnake. Sekali lagi, trik yang bagus dari Joey Tempest dkk.

“Ready Or Not” dan “Hole In My Pocket” berturut-turut diganjar oleh Europe dari atas panggung. Semua personel tampak menjalankan tugasnya dengan baik. Semua instrumen sudah bekerja sesuai porsinya. Sang sound engineer bule berkepala botak di area FOH yang jarang dilirik itu rupanya yang bertanggungjawab atas tata suara Europe yang cemerlang di atas panggung.

Panggung lalu diterpa dengan lighting yang dominan berwarna merah. Intro yang syahdu mengalun dari keyboard Mic Michaeli. Penonton dari segala generasi tahu banget lagu ini. Mereka buru-buru menyalakan ponsel atau mengayunkan tangan ke udara, sembari ikut bernyanyi lantang.

Carrie, Carrie, things they change my friend
Carrie, Carrie, maybe we’ll meet again

Para personel Europe lalu menuju ke balik panggung, meninggalkan Ian Haugland yang memainkan solo drum. Tersedia sedikit jeda untuk bernafas dan mengembalikan enerji yang masih tersisa.

Tidak lama, para personel Europe lalu kembali ke atas panggung dan menyiapkan instrumennya masing-masing. Mereka langsung menggeber “Stormwind” yang diambil dari album Wings of Tomorrrow (1984).

Ketika “Prisoners In Paradise” dinyanyikan, pancaran sinar berwarna ungu menerpa seluruh sudut panggung. Sungguh indah dipandang mata. Lagu rock yang kalem dan syahdu tersebut mendapatkan perlakuan yang setimpal. Kegirangan penonton lalu berlanjut pada lagu “Cherokee” yang sudah cukup akrab di telinga penggemar Europe sejak era ‘80-an.

Lampu panggung tiba-tiba padam. Gelap. Tapi semua yakin ini belum berakhir. Beberapa menit kemudian muncul intro legendaris yang sudah dihapal semua telinga. Penonton serentak mengangat tangan ke udara, menyambut anthem terpopuler dari Europe.

We’re leaving together,
But still it’s farewell
And maybe we’ll come back
To earth, who can tell?
I guess there is no one to blame
We’re leaving ground (leaving ground)
Will things ever be the same again?
It’s the final countdown!

Hampir semua penonton ikut benyanyi. Dengan raut wajah bahagia sambil mengangkat ponsel, melompat-lompat, atau mengepalkan tangan ke udara. “The Final Countdown” menjadi pamungkas yang sempurna malam itu.

Volcano Rock Festival 2018 akhirnya berhasil meletup dengan indah. Seru dan menyenangkan. Menyisakan molekul kegembiraan yang mungkin bertahan lama bagi semua kalangan yang hadir di sana, malam itu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.