Malaikat Maut Itu Bernama Depresi

Kematian Chester Bennington menambah panjang daftar musisi yang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri

0
251
Malaikat Maut Itu Bernama Depresi
Malaikat Maut Itu Bernama Depresi (Photo: Wendy)
- Advertisement -

GeMusik – Telah lama diketahui antara Chris Cornell dan Chester Bennington terjalin persahabatan super erat. Chester adalah bapak baptis anak Chris.  Masuk akal kalau dirinya sangat terpukul ketika vokalis Soundgarden itu mengakhiri hidupnya dengan gantung diri pada 18 Mei 2017. Akan tetapi pasti tidak ada yang menyangka bahwa Chester pun memilih kematian dengan cara yang sama tepat di hari ulang tahun sahabatnya tersebut.

RS Wayne County telah  mengeluarkan rilis resmi bahwa Chris memang bunuh diri. Album solo pertamanya, Euphoria Morning (1999), sedikit banyak mengungkap jalan hidupnya yang berantakan. Kehancuran rumah tangga mendorongnya pada kebiasaan minum alkohol secara berlebihan.  Menjelang kematiannya Chris mengaku menderita kelelahan luar biasa akibat tur berkepanjangan dan secara terus terang ia mengaku depresi.  Ada pun Chester adalah sebuah ironi. Lahir dari pasangan ibu seorang perawat dan ayah yang bekerja sebagai detektif yang khusus menangani pelecehan seksual di kalangan anak-anak. Namun ia sendiri melangalami pelecehan seksual dari usia 7 tahun hingga 13 tahun – 5 tahun!

Tekanan depresi rupanya menjadi faktor utama para musisi memilih cara tragis dalam mengakhiri penderitaan. Tentu kamu masih ingat bagaimana sahabat Chris lainnya, Kurt Cobain, menembak kepalanya sendiri pada 5 April 1994 di rumahnya. Penyakit laryngtis dan bronkitis membuatnya frustrasi hingga beberapa kali Kurt melakukan percobaan bunuh diri. Antara lain dengan memakan rohypnol. Beberapa kali pula usahanya dapat digagalkan, sampai akhirnya pentolan Nirvana itu memutuskan bahwa senjata api-lah perangkat yang efektif untuk mengakhiri hidupnya.

Menembak kepala sendiri juga dilakukan Keith Emerson, tokoh sentral dari trio rock progresif Emerson, Lake & Palmer (ELP), pada 11 Maret 2016. Beberapa tahun terakir kejiwaannya diketahui menjadi labil semenjak menderita penyakit syaraf yang menyebabkan jemarinya sulit digerakkan. Akumulasi berbagai permasalahan, bercerai dari istrinya, harta ludes akibat rumahnya di Sussex hangus terbakar, ditambah pamor ELP semakin meredup, membuatnya terjebak dalam cengkeraman depresi.

Untuk alasan yang kurang lebih sama, keputusan bunuh diri juga diambil oleh Brad Delp, gitaris grup Boston yang di Indonesia dikenal lewat hit “Amanda”. Lalu Michael Hutchence, gitaris INXS asal Australia atau Donny Hathaway diikuti Tommy Page, penyanyi berwajah unyu-unyu yang kondang dengan hitnya “A Shoulder To Cry On”.

Tidak semua musisi yang bunuh diri didahului oleh berbagai kemelut. Beberapa di antaranya latar belakangnya terdengar absurd.  Ian Curtis, misalnya, kedapatan gantung diri tanpa alasan jelas.  Sohib-sohib vokalis band Joy Division tersebut hanya mampu mengungkap bahwa Ian tak punya semangat hidup. Sudah, itu saja. Wendy O. Williams, vokalis band Plasmatics yang beraliran punk, bahkan sudah merencanakan bunuh diri beberapa tahun sebelumnya. Fakta ini diketahui dari surat wasiat yang ditinggalkannya.

Dari ilustrasi di atas, tak pelak lagi depresi menjadi alasan utama para musisi tersebut mengambil keputusan tragis. (dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.