Masekepung Sang Rising Star

Memadukan seni dan budaya lokal, inilah ikon baru denyut musik Bali.

0
343
Masekepung Sang Rising Star
Masekepung Sang Rising Star

GeMusik – Video klip lagu berjudul “Tuak Adalah Nyawa” dari kelompok musik Masekepung mendadak menjadi viral di media sosial. Penonton video di akun youtube, sejak diunggah 4 bulan lalu sudah mencapai angka jutaan. Kombinasi musik akustik, tari kecak dan ‘genjek’ ditambah lirik yang kuat menjadi faktor lagu itu bisa diterima khususnya kalangan masyarakat Bali.

Berdiri pada 9 November 2014, Masekepung bisa dibilang band yang mengusung konsep berbeda.  Dengan mengusung isu seni dan budaya lokal yang dipadu dengan unsur akustik, band ini sukses menarik perhatian. Aksi panggung mereka sangat atraktif dan ditunggu masyarakat,karena Masekepung memiliki personel sebanyak 35 orang.  Personel utamanya adalah  Ryos (vokal/gitar), Nahox (bass) dan Lenjong (backing vokal/ Jimbe), sedangkan sisanya sebagai penari kecak dan memberi sentuhan genjek sebagai penguat ciri khas Bali.

Awal mula berdirinya band ini dari sebuah perkumpulan pemuda di kawasan Desa Sukawati, Gianyar, Bali. Mereka kerap bermain musik bersama sehingga pada suatu titik timbul inspirasi untuk membentuk kelompok dengan paduan tari kecak. Hal ini pula yang menginspirasi nama band mereka Masekepung yang artinya berkumpul bernyanyi bersama.

Lagu “Tuak Adalah Nyawa” adalah contoh bagaimana Masekepung berhasil mengkombinasi lagu dengan muatan lokal yang kuat dan lirik yang mudah diingat. Meskipun mengambil tema Tuak yakni minuman khas tradisional setempat, namun lagu tersebut justru sarat akan makna mendalam. Tuak sebagai simbol perekat tali persaudaraan antar masyarakat menjadi pesan utama yang diangkat Masekepung.

Tema-tema keseharian dan potret sosial masyarakat Bali yang diangkat dalam hampir semua lirik lagu mereka itulah yang kemudian membuat karyanya bisa diterima dengan baik oleh kalangan masyarakat.

“Kami ingin melestarikan seni dan budaya kita melalui karya, karena itu formasi band ini menggabungkan tari kecak dan genjek yang khas dengan Budaya Bali,” kata Lenjong.

Aksi panggung mereka juga terbilang sangat atraktif. Koreografi tarian dan ‘genjek’ cukup menghidupkan suasana lagu-lagu Masekepung yang bernuansa akustik. “Kami tak menyangka karya kami bisa diterima dengan baik di masyarakat. Tentunya ini adalah hal yang membuat kami terus berkarya dan melestarikan adat istiadat di Bali,” ujarnya. Kini mereka menjadi ikon baru untuk kawasan Bali. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.