Mekar Kembali Bersama AATPSC

Setelah hiatus 5 tahun, kelompok musik asal Yogya ini bersemi kembali dengan album kedua yang beda dan penuh kejutan.

0
15
Foto dok. AATPSC.

GeMusik – Tepat pada tanggal 31 Desember 2018, band pop-folk asal Yogyakarta Auretté and The Polska Seeking Carnival (AATPSC) merilis album kedua mereka bertajuk Bloom. Album tersebut telah tersedia di Spotify, iTunes, Apple Music, dan berbagai digital stores lainnya.

Setelah melakoni hiatus selama lima tahun, mereka memutuskan kembali ke gelanggang. Total terdapat 12 lagu dalam album kedua ini – yang menegaskan kembali kalau AATPSC benar-benar kembali setelah sempat melepas single “Melerai Lara”, tahun 2016 silam.

“Nama [judul album] ini dipilih untuk merangkum bahwa ada sesuatu yang bergerak dan bertranformasi pada AATPSC, dari perubahan para personel hingga dari segi musikalitas,” terang mereka soal pemilihan tajuk album Bloom yang berarti “mekar”.

Di sekujur Bloom mungkin tidak ada irama folk pop yang sama seperti pada album pertama mereka. Para penggemar AATPSC mungkin akan sedikit mengernyitkan dahi dan memastikan ulang apakah ini benar-benar band yang mereka kenal sebelumnya.

“[pada album] Self-titled lebih banyak menggunakan instrumen akustik dan lirik lagu berbahasa Inggris. Sedangkan pada Bloom, AATPSC banyak bermain-main dan mengeksplorasi instrumen elektronik dan sampling elektronik”, alasan mereka yang kali ini juga lebih dominan menggunakan lirik berbahasa Indonesia.

Tema-tema yang diangkat pada Bloom juga terasa lebih menyentuh hal-hal yang substantif – alih-alih sesuatu yang romantis seperti pada album pertama. Misalnya nomor “Melerai Lara” yang pernah dilepas pada tahun 2016 itu bercerita mengenai kaum transgender yang masih sering mendapat diskriminasi di tengah masyarakat.

Lalu ada nomor “Lullaby (Wondering Why)” yang menyoal hubungan transenden manusia dan Tuhan-nya. Sedangkan pada “Tamasya”, mereka berusaha untuk menjadi pengingat bagi manusia yang suka bertamasya, namun terkadang baik sengaja atau tidak sengaja merusak alam sekitar. Isu kesehatan mental yang belakangan mendapat tempat dalam diskursus publik juga disampaikan melalui “The Bell Jar.”

Kalau lagu “Rinai Hujan” bisa kita simak pada video berikut:

Bloom juga semakin spesial dengan terlibatnya kolaborasi beberapa seniman lain. Seperti komponis kenamaan asal Yogyakarta, Gardika Gigih, yang mengisi piano dan reverse sampling. Juga ada keterlibatan YK Brass Ensemble yang mengisi departemen brass section. Sampul album Bloom dikerjakan oleh Edwin Prasetyo, ilustrator asal Yogyakarta.

Album Bloom sudah dapat didengarkan melalui beberapa layanan music streaming seperti Spotify, iTunes, Apple Music, Youtube, Deezer, Google Play Music, Tidal, Napster, Amazon Music, dan layanan digital stores lainnya. Sedangkan versi fisik dari album ini konon akan segera dirilis dalam waktu dekat.

Simak dulu pesona album Bloom melalui kanal berikut:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.