Membaca Kumpulan Tragedi di Album Terbaru Hands Upon Salvation

Di album Heresy, unit hc/metal asal Yogya itu bicara soal revolusi sosial, aksi massa, teori konspirasi, isu rasisme, konflik agama, hingga kunjungan alien ke bumi.

0
58

Blessed are the hearts that can bend, they shall never be broken.”

Kalimat di atas termaktub dalam sampul belakang album Heresy milik Hands Upon Salvation. Konon dikutip dari ucapan Albert Camus (1913-1960). Heresy merupakan album penuh ketiga dari unit hardcore/metal asal Yogyakarta, Hands Upon Salavation, yang sudah beredar sejak bulan Agustus 2018 lalu.

Album yang berisi 10 lagu tersebut dirilis oleh label rekaman lintas negara dalam berbagai format – Mark My Words (UK), Forget The Pain, Inc (Ind), Diorama (Ind), Bound By Modern Age (Jerman), Jesuiscidal (Ind), serta didukung situs Hardcore Gateway (Belgia).

Secara musikal, Heresy menyimpan banyak tenaga dan kesigapan yang optimal. Produksinya juga bagus, dari kemasan hingga eksekusi sound-nya. Band yang cukup produktif ini makin berkembang dan menerobos segala sekat irama hardcore/metal.

Sedari dulu, Hands Upon Salvation dikenal suka mengusung tema lagu dan lirik yang ‘besar’. Tampak jelas kalau mereka doyan mengamati isu dan fenomena global. Juga yang terpenting, mereka gemar membaca dan banyak belajar dari sejarah. Itu tentu modal yang baik untuk mengkritisi sebuah isu – dan bisa dituangkan dalam bentuk lagu.

Rujukan dan referensinya lumayan menarik. Pendengar bisa belajar banyak dari sana. Mulai dari peristiwa revolusi sosial, tragedi pembunuhan masal, aksi massa, teori konspirasi CIA, isu rasisme, konflik agama, hingga kedatangan alien ke bumi.

Foto dok. HUS.

Berikut ini eksplanasi dari setiap lagu dan lirik yang termuat dalam album Heresy, sebagaimana yang dijelaskan sendiri oleh mereka.

Flames Of Discontent”

Berkisah tentang panasnya revolusi sosial yang terjadi di Ukraina pada tahun 2013. Tepat pada era di mana Presiden Viktor Yanukovych dan kebijakannya kerap mengundang demonstrasi besar-besaran di sana, terutama berpusat di Maidan Nezalezhnosti atau Independence Square. Tangan besinya memicu gerakan besar yang kemudian dikenal sebagai Euromaidan Revolution, revolusi sosial dari hampir seluruh elemen Ukraina yang tidak puas dengan kinerja pemerintahan yang mulai kehilangan legitimasinya.

You’re Godless”

Ini tentang peristiwa Tsuyama Massacre yang terjadi pada tahun 1938. Tsuyama Massacre adalah terjadinya pembunuhan sadis yang terjadi di kota Tsuyama, Okayama, Jepang. Sekitar 30 orang warga tewas dalam semalam oleh tangan Mutsuo Toi dengan menggunakan bermacam senjata. Pembunuhan kejam yang dilatari kesumat dendam oleh stigma dan penolakan yang diterimanya terutama dalam praktek tradisi Yobai. Mutsuo Toi akhirnya bunuh diri setelah membunuh para korban, termasuk neneknya sendiri.

Stir The Shitstorm

Bercerita soal sepak-terjang CIA dalam mendukung agenda politik Amerika Serikat dan kepentingan perang bisnis korporasi di dalamnya. Dari masa dekade Perang Dingin hingga bahkan detik ini, operasi-operasi senyap CIA meninggalkan jejak darah di banyak penjuru dunia – dari sudut-sudut Asia Tenggara hingga Amerika Latin, di Timur Tengah hingga di negaranya sendiri. Berkisar pada konspirasi, sabotase, aneksasi, insurgensi, kudeta, dan terutama penghilangan nyawa.

The Clandestine”

Diinspirasi oleh gerakan Black Bloc, para anarkis serba hitam organ demonstrasi fraksi keras yang bermula dari demonstrasi Brokdorf di era ‘70-an, kemudian meluas di Jerman pada dekade ‘80-an. Hingga mencapai titik kulminasinya di perang melawan WTO di Seattle, G8 Summit di Genoa, G20 di Toronto dan banyak lagi jejak-jejak lainnya. Black Bloc akan tetap menjadi salah satu elemen penting dalam demonstrasi dan perang jalanan yang akan tetap menjadi hantu anonimus yang mengancam kemapanan hingga kini.

Repulse The Inferior”

Lirik ini terinspirasi oleh banyak tema fitnah, pemberangusan, pemusnahan, penghakiman, pengkerdilan, dan terutama penindasan terhadap kaum minoritas Tionghoa yang dianggap inferior atas dasar alasan-alasan primordial, rasialisme, perbedaan agama, politik, personal bahkan korporasi yang terjadi di Indonesia. Seperti budaya yang sudah dikonstruksi sedemikian rupa, sejak Geger Pecinan (1740), Pembantaian Bengawan Solo (1825), Peristiwa Mangkok Merah (1967), serta Kerusuhan dan Pemerkosaan Sistematis (1998) di mana nama Ita Martadinata Haryono tetap menjadi martir hingga sekarang.

Fire Upon The Citadel”

Terinspirasi oleh kisah berdarah perang Puputan Bayu di daerah Jawa Timur pada tahun 1767-1772. Sebelum sekarang dikenal sebagai Banyuwangi, area tersebut merupakan teritori Kerajaan Blambangan sebagai wilayah Hindu terakhir di Jawa yang habis-habisan digempur oleh pasukan koalisi VOC dan Mataram. Penghancuran masal di Blambangan adalah puncak dari segala tetek-bengek intrik politik VOC, Mataram, dan Mengwi. Perang dengan jargon jihad meng-”Islam”-kan Jawa oleh Kerajaan Mataram Islam yang telah dibutakan oleh VOC.

Prophet Of Reprisal”

Ini tentang mereka yang membawa tafsir-tafsir maha pembenaran dan/atau berperan sebagai nabi-nabi baru dengan agitasi, terror, visi, dan terutama doktrin absolut tentang aksi apapun yang mereka benarkan. People’s Temple di Guyana, Aum Shinrikyo di Jepang, Branch Davidians di Amerika, Order of Solar Temple di Perancis, Gafatar di Indonesia, hanyalah beberapa contoh saja. Jerat okultisme, kelaparan spiritual, dan kehilangan nalar adalah lingkaran jaringan kelam yang tumbuh subur dalam konstruksi masyarakat, televisi, internet, bahkan di grup WhatsApp sekalipun.

Heavenshore”

Sebuah coversong. Lagu dan lirik asli milik Liar, unit hardcore H8000 asal Belgia.

Son, Takes Up The Oppressor”

Terinspirasi oleh anak-anak kecil yang termakan dogma, diperbudak fanatisme, terpelihara oleh ketakutan hingga tidak punya kuasa untuk melawan. Tentang Hitler Youth di Jerman, Al-Shabaab di Somalia, Tamil Tigers di Srilanka, FARC di Kolombia, hingga mereka yang terjebak di negara-negara seperti Rwanda, Sudan, Kongo, Uganda, dan Myanmar. Serta mereka yang masih terbelenggu oleh jerat ISIS dan Boko Haram di luar sana.

We Came From The Sky”

Lagu ini terinspirasi oleh cerita-cerita tentang ras makhluk-makhluk yang pernah mengunjungi dan menjadi penghuni bumi pada beberapa era umur zaman terbentuknya bumi menuju peradaban dengan dilingkari beberapa era kiamat bumi. Dari Evadamic ke Andromedan, Alpha Centaurian ke Annunnaki, dari Procyonian hingga ke Ashtar.

Menarik bukan?! Coba cari album ini. Dengarkan musiknya, dan pelajari isunya untuk menambah wawasan. Simak Heresy di sini. A good album, in anyway.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.