GeMusik – Ketika saya memutuskan untuk membentuk sebuah komunitas, niat saya tidak pernah keluar dari pakem yang telah ditetapkan oleh tujuan baku komunitas itu sendiri. Yakni, untuk dapat saling membantu satu sama lain dalam menghasilkan sesuatu sesuai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Manfaat sebuah komunitas sebagai media penyebaran informasi dan pendukung sesama anggota, serta sebagai wadah untuk menjalin relasi juga menjadi pedoman saya agar komunitas yang saya jalankan tidak melenceng dari kaidah-kaidah yang sesungguhnya. Tapi, ternyata tidak semudah itu ya…

Membentuk dan membangun sebuah komunitas itu gampang-gampang susah. Gampang,  jika kita bisa menemukan orang-orang yang punya passion dan minat di bidang yang sama tanpa niat lain di belakangnya. Susah, karena saat komunitas itu berjalan  selalu saja ada rongrongan baik dari dalam maupun luar komunitas. Oke, kita tidak usah memikirkan rongrongan dari luar, karena dari dalam saja pasti sudah banyak yang mencari-cari kesempatan. Ya, buat apa juga bergabung dengan sebuah komunitas kalau cuma ingin menunjukan dirinya lebih hebat dari yang lain atau malah sering akal-akalan untuk mencari keuntungan materi?

Sepanjang hidup saya, sudah tiga komunitas berorientasi musik yang saya bentuk dan jalankan. Komunitas pertama dan kedua adalah komunitas  yang para anggotanya memiliki ketertarikan dan rasa cinta pada salah satu alat musik. Awalnya, respon dan antusiasme dari khalayak musik di wilayah komunitas ini terbentuk sangat masif. Mereka berbondong-bondong untuk menjadi anggota, terlebih lagi ketika komunitas ini memiliki event rutin bulanan yang menampilkan aksi mereka secara bergantian. Sudah pasti daftar panjang antrian calon penampil acara ini mengular layaknya antrian peserta BPJS.

Anehnya, ada saja yang justru merasa waktunya terbuang percuma hanya untuk sesuatu yang dianggapnya tidak penting. Yang mereka istilahkan dengan sebutan, ‘Tidak ada duitnya’. Lah! Kan sejak awal tidak ada paksaan untuk bergabung di komunitas ini. Kalau memang mau cari uang, ya jangan bergabung di komunitas. Tapi bekerja, jualan, bisnis dan melakukan hal-hal lain yang menghasilkan uang. Karena sebuah komunitas akan jauh lebih baik jika berdiri di atas semangat nirlaba. Jika tujuannya komersil, jangan berharap bisa bertahan lama.

Tapi, meski misi dan visi komunitas ini sudah dijelaskan secara gamblang kepada para anggotanya masih saja ada yang tidak paham. Atau lebih tepatnya, tidak mau paham. Karena ada juga yang nekat mencari keuntungan pribadi lewat belakang. Katakanlah, seorang anggota menawarkan diri untuk menjadi perantara atau negosiator dengan salah satu bintang tamu yang akan tampil di event rutin komunitas ini. Ketika diberikan izin, dia malah mencoba menawar rendah bintang tamu itu atau bahkan mencoba menggratiskannya dengan tujuan mengambil keuntungan dari anggaran yang disiapkan sponsor. Konyol bukan?

Kualitas event sebuah komunitas juga harus dipertahankan. Jika tidak mampu menaikan level event tersebut, tidak harus juga menurunkannya hanya karena ingin menjaga eksistensi. Hey, bung! Konsistensi memang merupakan kunci sebuah eksistensi. Tapi, bukan hanya konsisten dalam hal frekuensi penyelenggaraan event. Konsisten dalam hal menjaga bobot acara juga sangat penting. Intinya, kita kembalikan kepada definisi komunitas yang berdiri di atas pondasi semangat kekeluargaan. Jangan pernah membuat event bertema kompetisi yang akhirnya memecah belah para anggotanya.

Meskipun sebuah kompetisi akan membentuk karakter seorang musisi, karena mental mereka akan teruji ketika mengarungi samudera industri musik Indonesia yang maha luas tapi untuk ukuran komunitas tidaklah sesuai. Saya rasa itu bukan tempatnya. Karena ujung-ujungnya, yang jago bukannya memberikan ilmu kepada yang masih belajar. Tapi malah semakin merasa jago karena bisa mengalahkan yang lain. Lalu, mana misi untuk mempersatukan musisi yang memiliki minat sama dalam satu wadah jika yang dilakukan adalah menghadirkan persaingan dan perpecahan?

Sebuah komunitas juga biasanya akan hancur begitu ada salah satu anggotanya yang merasa memiliki banyak uang atau  gear mahal. Selain kerap membanding-bandingkan, tidak jarang pula menjadikan koleksi gear-nya tersebut sebagai magnet untuk menarik anggota lain agar berkumpul di kediamannya. Secara tidak sadar, dia dan teman-temannya telah membentuk komuni baru yang lebih segmented lagi. Atau lebih tepatnya, eksklusif!  Akhirnya, komunitas yang sudah dibangun dengan susah payah ini kembali terpecah. Kubu yang niat awalnya mencari teman baru dan berbagi pengalaman justru minder digilas kebangkitan kubu berduit yang menyembah berhala gear-gear mahal.

Komunitas ketiga yang pernah saya bentuk tidak kalah konyolnya. Dengan niat mempersatukan para musisi lama di suatu daerah, komunitas ini malah bertahan seumur jagung karena ada oknum yang membajak konsep seputar bagaimana komunitas ini dijalankan, termasuk penyelenggaraan event-nya. Konsep komunitas ini sendiri berdiri di atas semangat menyatukan musisi-musisi lama – baik di atas maupun di bawah panggung – dimana sebagian dari mereka pernah terlibat persaingan sengit di masa mudanya.

Awalnya berjalan lancar. Sekitar 15 musisi bergabung dan berhasil dipecah menjadi beberapa formasi untuk membawakan belasan lagu di atas panggung. Sekilas, konsepnya mengadopsi Rockstarr Conspiracy di dalam negeri sini atau Kings Of Chaos di luar negeri sana. Ya, memang niru sih. Bedanya, komunitas daerah ini tidak memiliki lagu sendiri sehingga mereka memilih untuk membawakan deretan lagu yang pernah mereka mainkan di masa mudanya. Baru berjalan setengahnya, salah satu formasi band dari proyek ini dibajak oleh pihak yang merasa tidak diajak bergabung. Konyolnya, para anggota yang dibajak itu justru tidak merasa keberatan. Aneh bin ajaib!

Katakanlah, seorang pelatih sepakbola berambisi membangun sebuah tim bagus dengan bajet minim. Pilihannya, tentu memilih para pemain yang sudah melewati usia emas tapi masih memiliki kualitas bagus. Seleksi dilakukan hingga akhirnya mendapatkan para pemain yang diinginkan. Meski awalnya terlihat belum padu, tapi racikan skema dan bongkar pasang pemain yang dilakukan sang pelatih di setiap sesi latihan membuat tim ini menemukan pola permainan dan line-up terbaiknya.

Perlahan, sejumlah pemain muda yang tengah berada di puncak prestasi bahkan bertekad untuk bergabung. Tapi, ada yang berhasil dan ada yang tidak. Di beberapa laga ujicoba, aksi mereka berhasil mencuri perhatian penonton. Sebuah tim baru dengan para pemain berusia uzur masih mampu menunjukan taringnya. Bahkan ada beberapa pemain yang di masa mudanya berseteru seperti Lionel Messi (Barcelona) dan Cristiano Ronaldo (Real Madrid) kini bahu membahu-bahu membela tim yang sama. Sebelumnya, tim mana yang bisa menyatukan para pemain ini? Tidak ada!

Belum juga kompetisi dimulai, tim lain membajak beberapa pemain andalan ‘tim tua’ ini. Inilah yang menjadi asal muasal munculnya perpecahan sekaligus membunuh kelangsungan hidup komunitas ini. Bahkan jauh sebelum event yang tengah digarap dilaksanakan. Padahal, konsep acara untuk tahun berikutnya sudah dibuat dengan cakupan penampil yang lebih lebar dan kemasan yang lebih menarik.

Lalu, apakah saya masih mau membentuk dan membangun komunitas musik? Well, saya akan terus mencoba meskipun saya menyadari setiap orang memiliki batas kesabaran dan kemampuan. Tapi setidaknya, saya selalu memiliki keyakinan bahwa segala jerih payah yang dilakukan setiap orang pasti akan ada hasilnya. Seperti kata ilmuwan Albert Einstein: “Kegilaan adalah melakukan sesuatu dengan cara sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil berbeda.” (*)

- Happy Anniversary -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here