Mendengar Yockie Suryo Prayogo Dalam Simfoni

Sebuah ode untuk sang legenda Yockie Suryo Prayogo. Sembari meninjau kembali perannya dalam sekeping album ‘Badai Pasti Berlalu’ yang agung. Serta sekilas catatan kiprahnya di gelanggang musik Indonesia.

1
200
mendiang yockie
Yockie Suryo Prayogo - Foto oleh Richard Mutter.
- Advertisement -

GeMusik – Disadari atau tidak, tren musik terus berputar. Tak peduli kita sedang berdiri di jaman yang serba canggih dan modern. Faktanya, racikan musik masa silam terbukti masih relevan untuk disajikan kembali ke zaman yang serba instan seperti sekarang.

Buktinya sudah bisa dilihat sekarang. Remaja-remaja penikmat musik di Indonesia dari lintas kalangan berhasil dibuat ‘tenggelam’ oleh irama musik yang sejatinya telah dipresentasikan oleh musisi tanah air lawas pada beberapa dekade silam. Itu juga yang kemudian dikemas jadi lebih modern oleh musisi masa kini. Termasuk dari ranah pop.

Yockie… Dalam Simfoni

Kunjungan kembali pada kaset berjudul Badai Pasti Berlalu yang telah bersandar lama di deretan rak koleksi ini berawal dari rekomendasi seorang teman untuk mendengarkan lagu dari salah satu unit pop yang konon sedang ramai menjadi heavy rotation di telinga kaum remaja. Satu hingga tiga nomor berlalu, dan kesimpulannya adalah musik seperti itu sejatinya sudah pernah hadir di mana kami masih berada di dalam janin, bahkan lebih jauh sebelum itu.

Badai Pasti Berlalu merupakan album lagu tema yang dirilis pada tahun 1977 untuk film berjudul sama garapan mendiang Teguh Karya, yang diangkat dari novel karya Marga T. Album dengan sampul dominasi warna hijau itu menampilkan aktris bernama Christine Hakim yang tengah berlari, plus tulisan nama Eros Djarot selaku Music Director serta Chrisye dan Berlian Hutauruk selaku vokal. Selain ketiga nama tadi, album itu juga tak lepas dari campur tangan nama-nama seperti Yockie Suryo Prayogo (arranger/kibor/drum), Chrisye (bass/vokal), Debby Nasution (kibor/komposer), Keenan Nasution (drum), dan Fariz RM (drum).

Baca Juga : Yockie Suryo Prayogo Berpulang

Sekedar informasi, Badai Pasti Berlalu dinobatkan berada pada peringkat pertama dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia. Ya, agak sulit dibantah untuk soal ini.

Kaset Badai Pasti Berlalu, Produksi Irama Mas (1977).

Kaset Badai Pasti Berlalu produksi Irama Mas inilah yang beberapa hari lalu menjadi pondasi kuping saya mulai pagi, siang, hingga malam. Setiap hari. Sampai kemarin pagi, ketika kabar duka itu datang menerpa.

Peran Yockie pada album Badai Pasti Berlalu bisa dibilang cukup besar dan vital. Permainan kibornya memberikan nyawa pada sekujur album itu. Dominasi kibor yang dimainkannya menjalar hampir di seluruh bagian lagu – ikut mengiringi suara vokal Chrisye dan Berlian Hutauruk yang berkarakter kuat. Tak perlu menunggu lama untuk menyimak bagaimana denting piano yang meluncur dari tangan Yockie. Pasalnya, album ini sudah dibuka dengan laju permainan kibor Yockie sedari lagu pembuka yang berjudul “Pelangi”.

Padahal, enggak ada niat yang muluk-muluk ketika membuat album ini. Saya bersenandung, lalu Yockie dan Chrisye mengimbuhkan musiknya. Sangat sederhana, hampir tidak istimewa,” ujar Eros kepada (alm) Denny Sakrie, suatu kali.

Meski demikian, album Badai Pasti Berlalu tetap layak disanjung. Terutama dari sisi lirik yang meski lekat dengan tema cinta namun tepat dalam pemilihan kata. Seperti misalnya pada lagu “Pelangi” yang dinyanyikan Chrisye: “Kau dengar laguku dalam simfoni / Tiada lagi melodi dapat kucipta tanpa senyummu…“

Atau semanis lirik yang berbunyi “Kau juwita kurnia dewata lembut bak sutera sejuk…” pada lagu “Khayalku”.

Yockie Suryo Prayogo memang sosok musisi yang kaya akan referensi musik. Mulai dari rock, pop, etnik, folk, dangdut, hingga opera. Seluruhnya pernah beliau konsumsi, gubah, dan mainkan. Tidak heran, mengingat selain menjadi bagian dalam tubuh pada God Bless, Yockie juga pernah ikut andil menjadi bagian dari berbagai proyek musik seperti Giant Step, Jaguar, The Mercy’s, hingga Kantata Takwa.

Pada ranah pop, Yockie pernah menjadi arranger album Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan Radio Prambors Rasisonia. Menurut Denny Sakrie, gebrakan Yockie yang menata aransemen lagu seperti “Lilin-Lilin Kecil” (James F Sundah) dianggap sebagai suntikan darah baru dalam industri musik pop yang saat itu tengah dilanda booming lagu-lagu pop dengan kord sederhana serta tema lirik yang cenderung cengeng dan mendayu-dayu. Istilahnya, pop ‘kacang goreng’.

Oleh sebab itu, permainan kibor Yockie di berbagai medan musik yang menghiasi album Badai Pasti Berlalu amatlah hidup dan jauh dari kata monoton. Entah itu ketika lagu bertempo mellow atau ketika membutuhkan beat disko yang menghentak seperti pada lagu instrumental berjudul “E & C & Y”.

Saya memang selalu dalam kegelisahan. Tetap mencari sesuatu dalam musik. Berbaur dengan banyak orang mulai dari insan musik, film, hingga teater,” ungkap Yockie kepada Harian Republika, di tahun 2006.

Tidak tanggung-tanggung, mendiang Denny Sakrie selaku salah satu pengamat dan jurnalis musik Indonesia menyejajarkan permainan kibor Yockie Suryo Prayogo dengan beberapa kibordis ternama kelas dunia. “Gaya permainan keyboard Jon Lord (Deep Purple), Rick Wakeman (Yes), maupun Tony Banks (Genesis) menyelinap dalam pola permainan Yockie Suryo Prayogo,” ujarnya.

Baca Juga : Konser Sang Bahaduri

Menurut Debby, sejatinya melodi dasar pada lagu seperti “Angin Malam”, “Semusim”, “Khayalku”, “Cintaku” dan “Pelangi” yang termuat pada Badai Pasti Berlalu sebelumnya sudah pernah digunakan sebagai lagu tema untuk film yang disutradarai Teguh Karya berjudul Perkawinan Dalam Semusim (1976). Di dalam proyek film tersebut, Debby berkolaborasi bersama Eros Djarot. Namun sayang film itu kurang sukses di pasaran.

Bagi remaja yang lahir jauh setelahnya, seperti saya, puncak jaya album Badai Pasti Berlalu mungkin hanya bisa didengar melalui kisah dan cerita. Tapi ketika album ini diputar, lorong waktu seakan terbuka dan begitu ramah mempersilakan kami untuk ikut mencicipi gelora cinta yang pernah hadir di masa lampau, di era yang tidak pernah kami jamah.

Ya, begitulah takdir Badai Pasti Berlalu yang benar-benar bak lorong waktu dan tak akan pernah habis termakan waktu. Sungguh sebuah mahakarya.

Epilog: Tiada Lagi Melodi…

Yockie mulai disorot dengan lampu terang ketika bergabung dengan band rock terbesar di Indonesia, God Bless. Bersama Ahmad Albar dkk, beliau berhasil ikut menorehkan peran besar pada album klasik seperti Semut Hitam (1988) atau Raksasa (1989).

Selain bersama God Bless, Yockie juga pernah tergabung dengan grup rock seperti Bigman Robinson, Double O, Giant Step, Contrapunk, dan Jaguar. Termasuk juga terlibat membantu penggarapan album The Mercy’s.

Wilayah bermusik Yockie Suryo Prayogo tidak hanya seputar di ranah musik rock. Selain terlibat menjadi arranger pada album Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang diadakan Radio Prambors Rasisonia dan Badai Pasti Berlalu, beliau juga ikut menggarap album-album solo milik Chrisye – seperti Sabda Alam, Percik Pesona, Puspa Indah Taman Hati, Pantulan Cita, Resesi, Metropolitan, dan Nona.

Selain itu, sejumla nama yang juga pernah merasakan tangan dingin Yockie tersebar mulai dari Dian Pramana Poetra, Keenan Nasution, Vonny Sumlang, Titi DJ, Andi Meriam Mattalatta. Beliau bahkan menjadi komposer, player, dan music director pada album-album milik Mel Shandy, Ita Purnamasari, Ikang Fawzy, hingga Nicky Astria.

Ditambah lagi dengan keterlibatan Yockie dalam proyek musik yang digagas Setiawan Jody, Kantata Takwa. Di situ beliau bersanding dengan sosok-sosok seniman besar mulai dari WS Rendra, Iwan Fals hingga Sawung Jabo. Itu pula yang bikin intuisi bermusik Yockie jadi semakin luas dan menerobos batas.

Sampai senja menghampiri, nama Yockie Suryo Prayogo masih terus dipuja dan dielu-elukan. Ketika kondisi fisiknya menurun dan jatuh sakit, banyak rekan-rekan musisi dan sahabat Yockie yang terpanggil untuk mendukung kesembuhannya. Mereka bahkan menggalang dana melalui konser amal di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akhir Januari 2018 lalu.

Namun Tuhan berkehendak lain. Senin pagi, 5 Februari 2018, Yockie Suryo Prayogo dipanggil oleh Sang Pencipta. Kancah musik Indonesia kembali kehilangan salah satu legendanya. Namun, sebagaimana legenda musik lainnya. Jasa beliau akan terus hidup dan dikenang lewat karya-karyanya.

Terlalu banyak kisah perjalanan Yockie Suryo Prayogo dalam mengarungi kancah musik Indonesia sepanjang hampir lima dekade karirnya. Terlalu banyak yang telah Yockie berikan dan torehkan dalam gelanggang musik di tanah air. Sudah sepantasnya status legenda memang layak disematkan kepadanya.

Selamat Jalan, Yockie Suryo Prayogo.

Mengering sudah bunga di pelukan
Merpati putih berarak pulang
Terbang menerjang badai
Tinggi di awan
Menghilang di langit yang hitam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.