Mendobrak Sekat Dalam Satu Tempat

Koyak Sekat adalah titel rangkaian tur unit hardcore asal kota Bandung, Taring. Penggemar musik cadas di Malang pun menyatukan kepalan dan membuktikan diri jika kota ini juga akan selalu bertaring.

0
76

Selasa (3/4) lalu, seorang kawan lama pulang dari perantuannya di Bali. Sudah hampir setahun kami tak berjumpa. Segudang cerita sudah siap mengaliri perjumpaan kami malam itu – bersama tiga teman lainnya. Yang paling ditunggu tentu cerita teman kami itu mengenai tempat perantauannya.

Cukup mengajukan satu pertanyaan mengenai bagaimana pengalamannya selama tinggal di Bali, cerita pun langsung mengalir deras tanpa koma dan titik. Garis besarnya, teman saya itu mengaku betah dengan suasana kerjanya di pulau Dewata. Tak heran jika selama hampir setahun, baru kali ini dia pulang ke Malang.

Teman saya itu pun tak luput mengajak kami bertiga untuk mengikuti jejaknya ke Bali. Karena menurutnya, kami pasti akan merasakan hal yang sama dengan apa yang dia rasakan. Saya pun hanya mengangguk sambil lalu dan menyeruput kopi. Bukannya tidak minat. Tapi di pikiran saya, Bali lebih nikmat untuk dijadikan destinasi wisata. Sedangkan untuk kerja atau tinggal di sana, uhm, mungkin nanti dulu.

Obrolan kami berlanjut hingga teman saya itu bertanya, “Apa yang membuat kamu betah dengan Malang?”

Saya pun menjawab seenaknya, “Ya, karena ini…” – sembari menunjuk suasana malam itu dan juga dua teman lainnya.

Kami pun tertawa dalam artian sepakat. Padahal sesungguhnya saya sendiri belum mendapat jawaban pastinya mengapa. Ha!

Tidak lama kemudian seorang teman memanggil dari kejauhan. Saya baru ingat jika malam itu kami membuat janji untuk bersama-sama berangkat nonton acara bertajuk Koyak Sekat di kafe Godbless 2, Malang. Saya pun terpaksa undur diri dan berpamitan.

*****

Malam itu, lahan parkir kafé Godbless 2 sudah tampak penuh. Beberapa pemuda terlihat berjubel dan berkumpul di trotoar hingga depan pintu masuk. Kami berdua memutuskan untuk langsung masuk dan membeli tiket yang berbanderol dua puluh lima ribu rupiah – yang di akhir acara MC mengumumkan jika lima persen dari hasil penjualan tiket malam itu menjadi hak para band yang tampil.

Di area dalam, sebelum memasuki ruangan venue, meja lapakan sudah berjajar menjajakan barang dan jasa – mulai dari rilisan fisik, craft, tattoo dan official merchandise acara Koyak Sekat. Di sisi lainnya, beberapa pemuda sedang menunjukkan atraksi mereka menggunakan papan skate dan sepeda BMX. Kondisi Godbless 2 malam itu sudah padat – entah padat manusia, asap, hingga varian minuman. Ha!

Dari kejauhan unit heavy metal kota Malang, Strider, sedang menggeber lagu “Defishit Moral”. Karena penasaran, saya pun bergegas masuk ke arena venue. Sekitaran venue ternyata juga tak kalah padat dengan bagian depan tadi. Strider sudah berada di atas panggung dengan lampu sorot berwarna-warni.

Lagu sudah berganti, Strider sedang membawakan lagu kedua yang katanya materi baru untuk cikal bakal album yang akan datang. Lagu baru mereka masih belum beranjak dari karakter musik ala Sleep dan Black Sabbath – yang selalu dipresentasikan pada materi-materi Strider sebelumnya. Singel paling baru mereka berjudul “Tuan Mojo” dimainkan sebagai penutup.

Sebagai catatan, sepertinya drummer mereka harus segera membeli seperangkat cymbal. Begitupula para gitaris Strider yang tampaknya memerlukan piranti peningkat suara agar ketika salah satu dari gitaris mereka memainkan bagian solo, suara gitarnya terdengar lebih menonjol. Tapi, secara keseluruhan penampilan Strider malam itu sudah mampu membuat banyak kepala tak berhenti bergerak.

Strider – Foto oleh Lutffi Puspito Aji.

Koyak Sekat adalah tajuk tur unit hardcore asal Bandung, Taring. Kota Malang sendiri adalah destinasi ketiga setelah sebelumnya Taring menghentak Solo dan Yogyakarta. Selain ketiga kota itu, selama bulan April 2018, Taring juga akan melakoni tur mereka menuju Surabaya, Bali, dan rumah mereka sendiri, Bandung.

Di Malang, acara Koyak Sekat diorganisir oleh kolektif penggiat pertunjukan musik bernama Malang Sub Pop yang berkolaborasi dengan salah satu brand fashion, Awake Project. Sesuai tajuk namanya, selain mengundang berbagai komunitas, acara ini juga melibatkan band dari lintas genre dan generasi. Semuanya disatukan dalam satu tempat dan satu panggung tanpa ada sekat.

Dari segi penampil, panggung Koyak Sekat di Godbless 2 malam itu menyuguhkan penampilan band-band muda seperti Gagal Ginjal (punk), Strider (stoner rock), dan Babirusa (thrash metal). Mereka berbagi panggung dengan para pelaku yang memang sudah memiliki catatan panjang di scene musik kota Malang seperti Brigade 07, Neurosesick, Bangkai, Rottenomicon, dan Screaming Factor. Nama-nama dari lintas warna musik dan generasi itulah yang menemani Taring tampil di atas panggung Koyak Sekat.

Selanjutnya di atas panggung giliran kuartet thrash metal, Babirusa, yang lebih dulu memutar sampler alunan musik mendayu sebelum menggilas panggung dengan lagu pembuka berjudul “Pesta Pora Babirusa”. Momen acara ini ternyata juga dimanfaatkan Babirusa untuk membawakan beberapa materi baru yang masih belum diketahui kapan akan dirilis. Sayang penampilan Babirusa malam itu sedikit mengalami banyak kendala pada divisi drum, sehingga beberapa tempo yang dimainkannya kerap hilang arah. Begitupula suara gitar mereka yang terlalu berada di belakang suara instrumen lainnya.

Barulah pada lagu baru sekaligus penutup – yang judulnya merupakan plesetan dari tajuk album Metallica, …And Justice For All – Babirusa langsung menghentak dan menunjukkan keganasan mereka. Mendengar beberapa materi terbaru Babirusa malam itu, bakal album mereka nanti tampaknya wajib masuk dalam kategori salah satu album yang wajib tunggu.

Brigade 07 mengambil alih panggung. Menjadi satu-satunya grup dengan musik paling ‘kalem’ di acara Koyak Sekat bukan menjadi tekanan bagi mereka. Bisa dilihat dari bagaimana mereka tampil lepas dan santai seperti biasanya. Poin tambah mereka tentu ada pada diri Galih sebagai vokalis yang selalu komunikatif dan kerap menghidupkan suasana. Itu membuktikan jam terbang tinggi telah menempa mereka menjadi band yang memang menghibur dari segala sisi.

Meski ada sedikit kendala teknis pada vokal di detik-detik pertama, tapi Brigade 07 tetap tampil prima di sepanjang set. Mulai dari tembang pembuka “No Regret”, hingga “Kita Adalah Sama” dan “Punk Love Story” – di mana seluruhnya terdapat pada album terakhir mereka yang bertajuk No Regret.

Tensi acara kembali naik. Kini giliran Neurosesick yang beraksi. Penampilan memukau yang mereka tunjukkan malam itu membuat saya bertanya mengapa band dengan sound dan aksi segarang ini belum berhasil mewakili Indonesia di ajang Wacken Metal Battle Indonesia, tahun lalu. Oke, mungkin di lain waktu. Saya yakin itu. Satu kata untuk penampilan Neurosesick malam itu: Mengesankan!

Neurosesick – Foto Lutfi Puspito Aji.

Saya lalu memutuskan keluar untuk mencari udara segar dan mengistirahatkan punggung. Pasalnya, Koyak Sekat masih menyimpan sederet nama yang akan tampil.

Kondisi area depan ternyata semakin padat oleh beberapa pemuda dan wajah-wajah lama yang tampak sudah lama tak berjumpa. Acara ini semacam reuni para penggiat, pelaku hingga penikmat yang memiliki cerita panjang khususnya di scene musik cadas kota Malang. Termasuk juga jadi momen yang meleburkan para generasi baru dengan generasi yang lebih dulu hadir di scene.

Seluruhnya tampak menyatu tanpa ada sekat. Berkumpul dan saling bertegur sapa, juga berbagi minuman dari gelas yang sama dengan teman-teman baru dan lama. Menyenangkan.

Tenaga masih belum kembali normal saat Bangkai naik panggung. Saya pun memilih menikmati geberan musik grindcore yang dimainkan band lawas itu dari kejauhan. Setelah usai, seorang teman tampak berjalan dari arah arena venue dengan penuh keringat dan menggambarkan penampilan Bangkai barusan hanya dengan kata-kata, “Gendeeeng! Gendeeeng! Gendeeeeeng!…..”

Unit selanjutnya adalah Rottenomicon. Jujur, ini adalah pengalaman pertama saya melihat aksi mereka di atas panggung. Hasilnya, saya hampir tak berkutik di sepanjang penampilan mereka. Gelap, sadis dan bengis. Urusan sound hingga teknik bermusik berhasil mereka tampilkan dengan begitu fasih. Dan itu adalah penampilan yang sangat impresif. Malam itu adalah milik Rottenomicon!

Keseruan Koyak Sekat Tour di Malang – Foto oleh Hilman.

Saatnya Taring yang naik panggung. Persiapan yang perlu waktu dibayar tuntas dengan penampilan mereka yang rapat dan padat. Taring menghajar penonton dengan membawakan beberapa materi dari album Nazar Palagan dan Orkestrasi Kontra Senyap. Termasuk juga singel terbaru, “Slaptika”. Kualitas rekaman yang apik mampu mereka pertanggungjawabkan dengan menyuguhkan penampilan gahar dan bertenaga.

Screaming Factor didapuk menjadi penutup acara Koyak Sekat. Mereka tampil tak kalah meyakinkan. Penampilan terakhir mereka di Houtenhand beberapa waktu silam, yang menurut saya kurang ‘nendang’, malam itu mereka bayar lunas. Tak heran jika penonton di garda depan, tengah, sampai belakang tak membiarkan mereka beraksi sendirian. Juga tak mengijinkan Screaming Factor untuk menyudahi malam terlalu cepat. Setelah sekitar 5-6 lagu digeber, Screaming Factor masih harus membawakan dua lagu tambahan atas desakan penonton.

*****

Malam itu, acara Koyak Sekat benar-benar bikin saya dan ratusan penonton lainnya dengan senang hati menguras tenaga. Tiba-tiba saya teringat dengan pertanyaan teman saya mengenai apa yang membuat saya betah di kota Malang. Harusnya saya ajak dia tadi ke acara Koyak Sekat. Karena di sanalah dia akan mendapat jawabannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.