Menemukan Jejak Pickwolf Di Tanah Heavy Rock Kota Malang

Artefak bertitel The Art of Mainstream Epicenter itu akhirnya memecahkan mitos akan keberadaan genre musik heavy rock di kota Malang. Sebelum anak-anak muda sekarang keranjingan distorsi dan riff berat, Pickwolf sudah melakukannya satu dekade yang lalu.

3
210
Pickwolf - Foto dok. Facebook.

Saya harus menarik pernyataan bahwa genre stoner/heavy rock adalah aroma musik yang baru muncul di kota Malang. Meski sejatinya saya tahu – berdasarkan kisah teman-teman – kalau ‘tanah’ itu sebenarnya sudah berpenghuni sejak kurang-lebih satu dekade yang lalu.

Namun pernyataan saya tadi keluar bukan tanpa alasan. Yang mendasarinya tentu saja adalah bukti otentik yang saya miliki (baca: rilisan fisik). Sampai pada akhirnya, pernyataan saya itu dimentahkan oleh temuan bukti fisik bernama The Art of Mainstream Epicenter yang konon keberadaannya bagaikan mitos itu.

Semua ini berawal dari ajakan untuk mengunjungi lapak kaset bekas di daerah Jalan Juanda atau akrab disebut Boldi di Malang. Ya, lapak kaset milik Pak Tono yang legendaris itu. Rencana kunjungan awalnya hampir digagalkan oleh hujan. Namun selang beberapa jam, setelah melalui beberapa putaran album musik dengan dua gelas kopi, kami akhirnya nekat memutuskan menerjang hujan yang tak kunjung reda.

Beruntung kami datang sedikit cepat di mana Pak Tono sore itu tengah bersiap mengemasi rilisan-rilisan untuk persiapan melapak di pasar pagi, esok hari. Setelah bertegur sapa beberapa menit, mata langsung mengintai koleksi yang terpampang pada bagian paling depan.

Di situ ada rak berukuran besar yang kebanyakan diisi oleh nama-nama musisi atau grup musik Indonesia lawas – mulai dari pengusung musik keroncong, rock, hingga pop. Di atasnya ada dua kotak berisi CD impor, serta satunya lagi berisi CD yang kebanyakan hanya menyisakan kover dan jewel case saja, atau bonus rilisan yang didapat dari tempat makanan cepat saji.

Tentu saja karena terlalu sombong saya lebih memilih untuk menelusuri kotak yang berisikan CD impor. Namun ternyata rekan saya tertarik membongkar isi dari kotak CD yang satunya itu.

Surpriseeee!

Ternyata dari rak satunya, rekan saya menemukan CD dengan tajuk The Art of Mainstream Epicenter milik grup heavy rock, Pickwolf. Sedangkan saya yang berkutat di rak CD impor tak menemukan apa-apa. Ha!

Nyoh! Band legend iki…” seloroh rekan saya sambil menyodorkan CD dengan font bertuliskan Pickwolf yang menohok itu.

Seketika rasa dosa langsung muncul kepada rak yang tadinya saya pandang sebelah mata itu. Andai mereka manusia, bisa-bisa saya langsung sungkem dan mengucapkan kata maaf sebanyak tiga puluh tiga kali biar afdol!

Setelah mendapatkan CD The Art of Mainstream Epicenter, gairah berburu saya langsung memudar. Saya hanya duduk, termenung sambil membolak-balik sampulnya yang hanya bertuliskan ucapan terima kasih. Begitu saja terus.

Hanya satu yang ada di pikiran saya saat CD ini berada di tangan: ingin cepat pulang dan segera memutar CD tersebut.

*****

Sekitar satu dekade silam, tepatnya di tahun 2007, Pickwolf lahir di kota Malang dan dibidani oleh lima ‘serigala’ bernama Awang (vokal), Angga (gitar), Christian (gitar), Wira (bass), dan Atenk (drum). Selang empat tahun dari lahirnya Pickwolf, saya baru menginjakkan kaki di kota Malang dan pada periode tersebut nama Pickwolf sudah sulit ditemukan di permukaan panggung.

Oleh karena itu, nama Pickwolf hanya santer saya dengar berdasarkan cerita dari teman-teman yang selalu mengisahkannya dengan nada berapi-api – layaknya musik yang dimainkan oleh lima ‘serigala’ di bawah bendera Pickwolf itu.

Berdasarkan berbagai cerita tersebut, bayangan saya terbentuk jika awal kemunculan Pickwolf bagai sebuah anomali – di mana ketika itu scene musik kota Malang masih didominasi oleh warna musik seperti hardcore, punk, metal, juga grunge dan alternatif.

Meskipun memiliki benang merah lewat musik dengan kadar distorsi mega beringas seperti kebanyakan band-band cadas di kota Malang, tapi Pickwolf mencoba untuk mendobrak batasan jenis musik dengan meleburkan berbagai ornamen ke dalam musik mereka.

“Agar tidak stagnan, Pickwolf berusaha mengeksplor dan melakukan improvisasi dengan memasukkan pattern-pattern dari jenis musik lain,” tutur Pickwolf seperti yang dilansir dari blog Mesinpembunuh.

Dengan besarnya nyali eksplorasi musik yang demikian, tak heran jika Pickwolf mendapat banyak perhatian. Selain diimbangi oleh musikalitas yang apik dan patut dipertimbangkan. Bahkan seorang teman pernah mengaku jika dirinya pernah setuju bergabung dengan sebuah band karena grup tersebut membawakan aroma musik seperti yang Pickwolf mainkan.

Pada tahun 2009, Pickwolf melahirkan demo rekaman bertajuk A New High In Horor yang dibagikan secara gratis kepada khalayak.

Tak lama setelah itu, kabar mengejutkan datang. Frontman mereka, Awang, memutuskan untuk hengkang. Tidak mudah bagi sebuah band menerima kenyataan jika seorang vokalisnya memutuskan untuk keluar dari band. Seperti itu juga yang mungkin dirasakan Pickwolf.

Pasalnya, image musik Pickwolf yang beringas juga tak bisa lepas dari kontribusi karakter vokal Awang yang digambarkan gahar dan mengarah pada teknik screaming metal. Selain itu, aksi panggungnya juga dikenal cukup atraktif.

Sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh blog Situsbawahtanah tentang Awang: “[Ia] bisa tampil atraktif di atas panggung dan membangun komunikasi aktif dengan penonton, baik itu dalam acara [pertunjukan musik] skala kecil maupun besar.”

Pickwolf on stage – Foto Dok. Happipolla.

Apalagi ketika Awang memutuskan cabut dari band, Pickwolf ibarat sekawanan serigala dengan kondisi kelaparan yang sudah dalam formasi siap memburu mangsa di saat bulan purnama. Ya, waktu itu mereka memang dalam status on-fire menggodok materi musik baru sebagai kelanjutan dari demo yang telah mereka rilis sebelumnya.

Di tengah kondisi tersebut, Pickwolf yang menyisakan empat personil mulai dihadapkan dua pilihan: melanjutkan hidup kemudian mulai berburu, atau memilih diam dan mati kelaparan.

Pilihan kedua tentu bukan pilihan yang bijak, mengingat Pickwolf dikenal sebagai kawanan serigala yang gagah.

Pickwolf lalu memutuskan untuk mencari pengganti Awang. Tak perlu waktu lama untuk menemukan jawabannya. Yunus, vokalis Childhood Trauma akhirnya yang dipercaya untuk menggantikan posisi yang ditinggal Awang. Hanya butuh waktu dua minggu bagi Yunus untuk resmi bergabung dalam Pickwolf.

Penunjukkan Yunus sebagai vokalis Pickwolf menggantikan Awang tentu bukan tanpa alasan atau tanpa pertimbangan yang matang. Kesamaan karakter Awang dalam diri Yunus adalah faktor utama dipilihnya Yunus di lini depan Pickwolf. Itu tampak dari sisi corak vokal hingga penampilannya di atas panggung.

Lengkaplah sudah formasi Pickwolf saat itu dengan Yunus (vokal), Angga (gitar), Christian (gitar), Wira (bass), dan Atenk (drum). Pickwolf lalu mulai mematangkan materi anyar dan menkalani sesi rekaman di Nada Musika Studio bersama sound engineer Ayok (Screaming Factor).

Semangat yang semakin terbakar itu ternyata ikut mempengaruhi proses rekaman. Yunus yang notabene vokalis baru ternyata tak butuh waktu lama untuk beradaptasi dan bisa langsung bersinergi dengan Pickwolf. Konon, hanya butuh waktu dua hari bagi mereka untuk merampungkan empat lagu yang bermuara menjadi mini album The Art of Mainstream Epicenter.

The Art of Mainstream Epicenter resmi dirilis pada bulan Januari 2010. Di dalamnya memuat empat tembang bertegangan distorsi tinggi dari peleburan musik metalcore, hardcore, hingga stoner rock. Dalam mini album tersebut, Awang juga turut hadir pada lagu “Face To Fake”.

Mini album The Art of Mainstream Epicenter dicetak dalam format CD yang dibungkus dalam bentuk digipack sederhana. Konon selain dicetak dalam jumlah sangat terbatas, mini album tersebut juga tidak diperjualbelikan alias hanya dibagikan secara gratis. Sistem distribusi non-komersil itu katanya bertujuan agar materi Pickwolf bisa tersebar secara meluas di tengah kesadaran dan daya beli rilisan fisik yang kian menurun drastis.

Memang misi mereka merilis materi musik dalam bentuk fisik memang bukan semata-mata karena uang. Selain agar bisa didengar lebih luas, lahirnya mini album ini juga karena usaha Pickwolf untuk mendokumentasikan dan mengarsipkan karya-karyanya agar kelak nanti jejak Pickwolf tak hilang ditelan zaman.

Dengan melakukan press CD, paling tidak mereka berharap karya mereka lebih dihargai, memorable, dan tentunya otentitas karya yang tidak akan hilang,” begitu tulis blog Situsbawahtanah.

Melihat terbatasnya jumlah mini album yang dicetak dan juga sistem distribusi yang diterapkan, pantas saja jika satu dekade kemudian keberadaan rilisan The Art of Mainstream Epicenter ibarat mitos karena memang sulit ditemukan di lapak atau record store manapun. Beruntung mereka yang sampai sekarang masih menggenggam wujud fisik dari mini album The Art of Mainstream Epicenter.

*****

The Art of Mainstream Epicenter memiliki rasa musik beragam yang keseluruhannya didekap dalam distorsi beringas, gebukan drum rapat, cepat, tanpa celah. Saya jadi kurang sependapat jika ada yang membandingkan Pickwolf dengan Seringai. Meski sama-sama berwujud komplotan ‘serigala’ berwajah garang, tapi cara mereka menunjukkan keganasannya cukup terasa jauh berbeda.

Pickwolf on tour – bersama band seperjuangan dan kawan baik mereka.

Pickwolf adalah kawanan pengusung southern rock yang menyentuh medan musik metal. Jika merujuk pada asal muasal musik ini berkembang, akrabnya kolaborasi genre ini disebut dengan istilah sludge metal. Tapi merujuk pada empat materi dalam The Art of Mainstream Epicenter, Pickwolf tidak sepenuhnya merepresentasikan musik sludge metal.

Persetubuhan musik southern rock dan metal muncul pertama kali tak bisa lepas dari kancah musik yang sedang menggeliat di belahan Amerika bagian selatan sana. Tepatnya di kota New Orleans, yang pada medio akhir ‘80-an hingga ‘90-an dikenal kuat dengan scene metal dengan band-band seperti Eyehategod, Down, Crowbar, atau Acid Bath yang disinyalir sebagai biangnya.

Begitu pula Pickwolf yang pada saat itu coba memoles musiknya dengan menyetubuhi musik southern rock dengan geliat musik cadas yang sedang bergemuruh di kota mereka tinggal, lalu meraciknya dengan ramuan khas musik mereka.

Itu sebabnya tak heran jika banyak pengamat musik menyandingkan gaya musik yang diusung Pickwolf dengan bermacam-macam pengaruh band – mulai dari Metallica, Pantera, Maylene And The Son Of Disaster, Every Time I Die, Down, The Sword, Cancer Bats dan lainnya. Termasuk juga penasbihan berbagai turunan musik rock yang diusung Pickwolf – dari heavy rock, metal rock, stoner rock/metal, southern rock dan lain sebagainya.

Tidak ada yang salah dari penasbihan tersebut. Mengingat mini album The Art of Mainstream Epicenter memang dihiasi banyak warna dan instrumen berdistorsi tegangan tinggi. Ada hentakan dan raungan vokal ala band hardcore juga metalcore, terlebih jika merujuk pada tiga lagu pertama mereka. Kemudian masuk pada dimensi southern rock/stoner pada permainan gitar yang terus menggilas senar dengan pick-nya. Barulah di lagu penutup, “Face To Fake”, Pickwolf mulai menunjukkan karakter musik stoner yang memang begitu khas.

Nubuat Pickwolf ternyata terbukti, usia siapa yang tahu. Dan ketika nafas mereka mulai tersenggal, The Art of Mainstream Epicenter menjadi peninggalan jejak sekaligus bukti otentik akan keberadaan mereka.

Berkat mini album ini, Pickwolf akan selalu dikenang sebagai kawanan ‘serigala’ berdistorsi tegangan tinggi yang pernah lahir jauh sebelum tanah heavy rock di kota Malang sesubur sekarang. (*)

Dengarkan lagu-lagu Pickwolf via Reverbnation.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here