Menengok Hikayat ASH

Trio rock alternatif asal Irlandia Utara ini kembali bangkit, merilis album anyar, dan balik ke panggung.

0
17
Photo doc. ASH.

GeMusik – Tidak muluk rasanya jika kita merunut kembali perjalanan panjang ASH, band asal Irlandia Utara. Persahabatan sekaligus petualangan musikal Wheeler dan Hamilton dimulai pada tahun 1989.

Saat itu, keduanya masih berusia 12 tahun, namun tidak berarti mereka sungkan untuk membentuk sebuah band heavy metal. Bernama Vietnam, band ini cukup tersohor di kampung halaman mereka, Downpatrick, County Down. Walaupun akhirnya bubar akibat invasi grunge yang mengubah wajah musik rock, duo ini tetap bersatu, dan merekrut drummer berusia 16 tahun, Rick McMurray, untuk proyek baru mereka.

ASH pun lahir; sebuah band dengan formasi klasik trio yang penuh energi. Nirvana, Sonic Youth, Pixies, dan legenda lokal Lazer Gun Nun menjadi inspirasi mereka. Single debut mereka yang bertajuk “Jack Names The Planets” dirilis oleh seorang radio-plugger asal London, Stephen Taverner, lewat labelnya La La Land pada 1994. Album ini dilirik dan diapresiasi positif oleh DJ Radio 1 kenamaan seperti John Peel, Steve Lamacq, dan Mark Radcliffe.

Masih pada tahun 1994, Korda Marshall, petinggi A&R untuk label rekaman RCA, langsung menggaet para rocker belia ini sebagai salah satu band pertama-tama yang bernaung di bawah label rekaman yang baru ia dirikan, Infectious Records. Dua single awal ASH lewat label ini, “Petrol” dan “Uncle Pat”, langsung merajai tangga lagu indie di UK.

Single ketiga mereka, “Kung Fu”, yang terinspirasi oleh legenda bela diri Jackie Chan serta perintis punk Ramones, menandai jejak mereka sebagai salah satu band paling memikat  seantero negeri.

Pada 1995, ASH untuk pertama kalinya masuk dalam UK Top 20, dengan lagu pop-punk klasik “Girl From Mars” dan “Angel Interceptor”, sebelum akhirnya berhasil masuk Top 10 lewat lagu “Goldfinger”. Lagu ini merupakan lagu andalan dari album debut mereka, 1977, yang kemudian sukses merangsek masuk peringkat nomor satu di tangga lagu album terbaik UK.

Tahun-tahun selanjutnya bisa dibilang agak samar bagi ASH. Band ini menutup Glastonbury Festival pada 1997. Di musik panas pada tahun yang sama, mereka merekrut gitaris asal London, Charlotte Hatherley.

Pada 2001, band yang lantas berformasi kuartet ini, sempat menjadi penampil utama di Reading Festival. Di sepanjang tahun-tahun tersebut, diluncurkan album yang berhasil masuk Top 10 (Nu-Clear Sounds, 1998), suksesnya album pamungkas kedua mereka (Free All Angels, 2001), dan enam lagu yang masuk ke dalam Top 30.

“Free All Angel” menjadi single andalan, disusul “Shining Light”, berhasil mengantarkan Tim Wheeler meraih Ivor Novello Award untuk Lagu Kontemporer Terbaik. Sementara, lagu penuh gelora “Burn Baby Burn” didapuk sebagai Single Of The Year oleh Q Magazine.

Pada 2004, album keempat mereka, Meltdown, menampilkan nuansa sonik yang lebih kental. Album ini berhasil menduduki peringkat kelima di tangga lagu sekaligus mengantarkan mereka sebagai band pembuka tur dunia U2. Setelah menyelesaikan album keempat, Wheeler dan Hamilton memutuskan untuk pindah ke New York, sementara Hatherley keluar dari band atas kesepakatan bersama.

Perubahan lebih jauh pun tak terelakkan. Menyusul rilisnya album Twilight Of The Innocents pada 2007, ASH mengumumkan bahwa mereka tidak akan lagi merilis album. Meski begitu, mereka memahami lanskap baru dari teknologi unduh digital dan memutuskan untuk tetap akan merilis single.

Terobosan berani dan inovatif pun diluncurkan dalam A-Z Series yang memuat 26 single dalam satu tahun; setiap single untuk setiap huruf dari alfabet, satu single dirilis setiap dua minggu. Dirilis oleh label mereka sendiri, Atomic Hearts Records, seri yang diluncurkan dalam layanan internet berlangganan pada 2009 ini menuai pujian dari penggemar dan para pelaku industri musik.

ASH saat ini adalah Tim Wheeler, Mark Hamilton, dan Rick McMurray. Trio ini yang tampil di Hard Rock Cafe, Bali, 24 November 2018 kemarin, atas prakarsa promotor LAMC Production bekerjasama dengan HRC Bali.

Album teranyar ASH, Islands, dirilis pada Mei 2018 dan mendapat sambutan yang tak kalah hangat. Islands adalah sekumpulan lagu yang mencabik perasaan, tentang cinta dan kehilangan, persahabatan dan pengkhianatan, identitas, ketentraman, penebusan dan kelahiran kembali. Intinya, semua perihal penting dalam kehidupan.

Album itu sekaligus menjadi album yang paling kukuh dan paling memikat sepanjang 26 tahun perjalanan karir ASH; sebuah album yang menegaskan kembali status trio ini sebagai salah satu band bersendikan gitar paling berkarakter, unik, dan menggetarkan.

Islands adalah koleksi katarsis bagi sang vokalis, sebagaimana dikatakan Wheeler, kalau album itu terinspirasi “oleh diriku yang mencoba untuk memahami perpisahan yang bagiku sendiri tidak masuk akal.”

Album ini diproduksi secara mandiri dan direkam di Atomic Heart Studio yang dimiliki sendiri oleh ASH. Di studio tempat semua rilisan ASH sejak Twilight Of The Innocents direkam inilah Islands melewati penuh siklus model Tahapan Kedukaan Kübler-Ross -penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan; kala Wheeler dengan detil melucuti emosinya tanpa jeda dan tanpa ampun.

“Kami sudah memiliki dua album nomor satu dan 18 single Top 40,” Wheeler mencoba berefleksi. “Jadi ketika kami membuat rekaman ini, sebagian dari gagasannya adalah: apakah lagu ini cukup kuat untuk mengalahkan salah satu lagu hits dari set live kami?”

“Dengan Islands, aku pikir kami telah memberi diri kami sendiri problem yang menyenangkan, karena ini adalah beberapa lagu terbaik yang pernah kami ciptakan. Kami sungguh bersemangat untuk kembali…” imbuhnya. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.