Mengamati Kasus Radiohead vs Lana Del Rey

Radiohead menuduh Lana Del Rey melakukan plagiasi. Mereka meminta hak royalti 100% atas penerbitan lagu "Get Free" yang dituduh mirip “Creep”. Masuk akal?!

0
225

GeMusik News – Di awal lagu, suara perempuan berwajah rupawan itu bernyanyi dengan gaya vokal yang dingin dengan diiringi gitar elektrik dengan mode akustik. Perlahan, hentakan drum digebuk lamban. Sebelum emosi lagu mulai naik, si pendengar menekan tombol pause dan mengulanginya di menit pertama. Sebab, si pendengar merasa tidak asing dengan nada dan kord yang dimainkan pada pembuka lagu tersebut.

“Sekitar 2:17 detik anda dapat dengan jelas mendengar mengapa Radiohead menggugat,” tulis salah satu pendengar di kolom komentar.

Beberapa tahun belakangan, kasus plagiasi kerap menghiasi kancah musik Internasional dan menerpa beberapa nama-nama artis papan atas. Baru-baru ini kasus semacam itu kembali muncul.

Kini giliran menimpa pada penyanyi pop berparas cantik, Lana Del Rey. Lagunya yang berjudul “Get Free” diklaim memiliki kemiripan dengan salah satu tembang populer milik grup alternatif-rock Radiohead, yaitu “Creep”.

“Memang benar tentang gugatan itu. Meskipun saya tahu lagu saya tidak terinspirasi oleh ‘Creep’,” kicau Lana Del Rey melalui Twitter.

Menurut laporan yang dilansir The Sun, sejatinya beberapa langkah antisipasi agar perkara ini tidak sampai bermuara ke meja hijau sudah dilakukan. Radiohead meminta kompensasi agar dikreditkan dalam daftar penulis lagu dan menerima royalti atas lagu tersebut. Namun sayangnya langkah antisipasi tersebut menemui jalan buntu.

“Radiohead menginginkan 100% penerbitan. Saya menawarkan hingga 40% selama beberapa bulan terakhir, namun mereka hanya mau menerima 100. Jadi kami akan menghadapinya di pengadilan,” lanjut pemilik album Born To Die itu.

Mau tidak mau sengketa antara Lana Del Rey dan Radiohead harus berbuntut ke pengadilan. Padahal jika sudah sampai pengadilan, kasus plagiasi seperti ini bisa menjadi kasus yang rumit serta memakan banyak biaya, waktu dan tenaga.

“Dari semua jenis hukum yang aku praktikkan bertahun-tahun, hukum hak cipta memang yang paling metafisik,” ujar Paul Fakler, seorang pengacara spesialis hukum musik. “Perkara itu bisa berkembang jadi amat sinting dan ganjil,” ujarnya pada Buzzfeed sebagaimana yang pernah dilansir Tirto.

Lantas bagaimana tolak ukur sebuah karya musik atau lagu dapat dikatakan plagiasi?

Di Indonesia sendiri, untuk mengukur suatu perbuatan telah melanggar hak cipta, Indonesian Composer and Arranger Association telah merumuskan kriteria pelanggaran hak cipta di bidang lagu atau musik. Adapun peniruan atau penjiplakan lagu atau musik yang dianggap melanggar hak cipta adalah apabila sebuah komposisi musik atau lagu;

Pertama, motif dan karakternya sama dengan motif dan karakter komposisi musik atau lagu yang sudah ada atau sudah dirilis.

Kedua, struktur melodinya mengandung lebih dari 10% secara berturut-turut melodi asli komposisi musik atau lagu yang sudah ada atau sudah pernah dirilis.

Ketiga, mempunyai kesamaan lebih dari 10% jumlah ruas secara berturut-turut dari komposisi musik atau lagu yang sudah ada atau sudah pernah dirilis.

Dan yang keempat, liriknya lebih dari 10% secara berturut-turut sama dengan lirik komposisi musik atau lagu yang sudah ada atau sudah dirilis.

Bukan Lana Del Rey saja yang pernah tertimpa kasus plagiasi. Beberapa artis ternama lainnya juga pernah tersandung kasus yang sama.

Salah satu yang paling mencolok ialah band rock legendaris, Led Zeppelin di mana anthem-nya yang berjudul “Stairway to Heaven” dianggap menjiplak lagu “Taurus” yang dipopulerkan oleh Spirit sejak tahun 1968. Tetapi pada akhirnya gugatan tersebut dimenangkan oleh Led Zeppelin, setelah pengadilan menolak klaim bahwa petikan gitar pembuka “Stairway to Heaven” diambil dari band asal Amerika Serikat tersebut.

Dua tahun silam, Kendrick Lamar juga mengalami kasus yang sama. Lagu berjudul “I Do This” yang dirilis pada tahun 2009 silam dianggap menjiplak nomor yang dipopulerkan oleh Bill Withers sekitar empat dekade lampau berjudul “Don’t You Want to Stay”.

Selain itu, ada pula lagu “Blurred Lines” milik Robin Thicke dan Pharrell Williams yang dianggap menjiplak lagu “Got to Give It Up” milik Marvin Gaye. Akibatnya Robin dan Pharrel dinyatakan bersalah. Mereka diwajibkan membayar uang tuntutan senilai US$7,4 juta atau setara Rp.97,3 miliar kepada keluarga atau ahli waris Marvin Gaye.

Masih banyak lagi kasus serupa yang menerpa musisi atau grup band papan atas dunia. Namun, memang tidak semuanya berakhir dengan keputusan pengadilan. Selain membutuhkan dana, tenaga dan waktu ekstra, kasus plagiasi memang memerlukan bukti yang kuat dan prosesnya memang tak semudah membalikkan telapak tangan.

Pada akhirnya, ada sejumlah kasus yang bisa diselesaikan secara musyawarah atau mediasi, serta ada pula yang gugur di tengah jalan karena buktinya dianggap tidak cukup kuat.

Setelah kasus Lana Del Rey mencuat, seorang pendengar musik ikut berpendapat, “Internet memang memudahkan kita mencari referensi lagu, meski demikian itu tidak membuat kita harus mengerti semua lagu yang penah tercipta di seluruh muka bumi.”

“Ya pasti ada lagu yang nyerempet sama, lha wong tangga lagu aja cuma ada tujuh,” celetuknya kemudian.

Sepertinya kasus seperti ini bakal panjang, dan banyak yang bisa kita pelajari dari sana. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.