Mengenang Seperempat Abad Incesticide

Menengok kembali evolusi dan sepak terjang Nirvana, melalui kumpulan lagu-lagu brilian mereka yang paling murni dan otentik.

1
387

Pada suatu hari Michael Azzerad berkunjung ke sebuah apartemen sederhana di distrik Fairfax di Los Angeles. Di sana tinggal seorang pria bersama kekasihnya yang baru saja dinikahinya. Pasangan itu adalah Kurt Donald Cobain dan Courtney Love. Hari itu Azzerad dijadwalkan melakukan sesi wawancara bersama Kurt Cobain yang sedang menjadi sorotan dunia berkat album Nevermind yang baru diluncurkan dan secara mengejutkan meledak di pasaran.

Nevermind mampu terjual tiga juta kopi dalam waktu empat bulan saja, dan terus terjual hampir 100.000 kopi setiap minggu. Lewat album tersebut, Nirvana dianggap mampu medefinisikan satu generasi pada saat itu. Belum lagi anthem mereka berjudul “Smells Like Teen Spirit” yang mampu menggeser tembang “Dangerous” milik sang raja pop Michael Jackson dari singgasana Billboard.

Dengan pencapaian tersebut, tentu popularitas otomatis langsung menyetubuhi Nirvana. Tapi pada kenyataannya apa yang dicapai Kurt Cobain lewat album dengan gambar sampul paling ikonik tersebut – menduduki peringkat tiga di bawah Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band dan The Dark Side of The Moon versi majalah Rolling Stone – justru membuat Kurt nampak tersiksa.

Ketika Azzerad berkunjung ke apartemennya, kondisi Kurt Cobain begitu memprihatinkan. Kurus, lemah, nampak stres, dan tersiksa akibat penyakit perut yang dideritanya. Sebagai frontman band yang baru saja sukses meraup popularitas, Kurt justru tampak seperti pria yang tertekan dan tidak bahagia.

“Yang saya butuhkan hanyalah istirahat, dan stres saya akan berakhir. Saya akan sehat dan mulai dari awal,” Ujar Kurt.

Delapan bulan setelah sesi wawancara bersama Azzerad itu, Kurt membuktikan apa yang dimaksud dari perkataannya “mulai dari awal” lewat album kompilasi Nirvana bertajuk Incesticide yang dirilis resmi 14 Desember 1992.

*****

Nirvana dibentuk oleh dua remaja asal Aberdeen bernama Kurt Cobain dan Krist Novoselic pada tahun 1987. Aberdeen merupakan kota yang digambarkan Kurt begitu membosankan untuk ukuran anak muda seperti mereka. Dua remaja yang tak ingin menghabiskan masa remajanya terbuang sia-sia itu lalu menjadikan musik sebagai pelarian. Di Aberdeen, musik menjadi satu-satunya hal yang bisa mengalihkan kebosanan mereka akan kota dengan siklus kehidupan yang tak banyak menawarkan kejutan.

Perjumpaan awal Kurt Cobain dan Krist Novocelic terjadi di tempat latihan The Melvins. Buzz Ozzborne (frontman sekaligus gitaris dan vokalis The Melvins) yang mengenalkan mereka berdua. Setelah perkenalan itu, Kurt merasa jika Krist adalah orang yang tepat untuk dijadikan mitra dalam bermusik. Kurt Cobain lalu menunjukkan demo yang ditulisnya ketika bersama band-nya yang terdahulu, Fecal Matter. Terdapat lagu “Downer” dalam materi demo tersebut.

Beberapa sesi penampilan di gigs, stasiun radio dan pesta privat sempat mereka rasakan dengan nama band yang tidak tetap – mulai dari Throat Oyster, Ted, Ed, hingga Skid Row. Pada awal perjalanannya, Kurt dan Krist selalu memiliki masalah untuk posisi di balik set drum mereka. Maklum, jika berkaitan dengan musik, Kurt Cobain adalah pria yang perfeksionis.

Pada tanggal 23 Januari 1988 kesempatan itu datang. Mereka merekam lagu di studio untuk pertama kalinya. Kurt Cobain memilih studio Reciprocal milik produser Jack Endino di Seattle. Mereka untuk pertama kalinya merekam lagu Nirvana yang saat itu dibantu oleh Dale Crover (The Melvins) pada drum.

“Kami Nirvana. Kami dari Aberdeen dan teman The Melvins. Kami ingin merekam beberapa lagu di studio milikmu,” ujar Kurt kepada Endino lewat telepon. Dengan santai Endino menjawab, “Baiklah, teman Melvins teman kita juga. Silakan mampir ke sini.”

Endino awalnya memandang Kurt dkk tidak lebih dari kelompok musik yang lahir akibat dampak dari skena musik Seattle yang saat itu memang sedang berkembang. Ternyata ia salah besar. Endino langsung terpesona dan yakin kalau band ini adalah bom waktu yang tinggal menunggu waktu untuk meledak.

Bersama Jack Endino, Kurt dkk berhasil merekam sekitar 10 lagu, di antaranya adalah “Downer”, “Hairspray Queen”, “Aero Zeppelin”, “Beeswax” dan “Mexican Seafood”.

Perkenalan Kurt dengan Endino ternyata membawa berkah lain. Berlanjut pada bergabungnya Nirvana ke pangkuan label rekaman Sub Pop. Sejak pertama kali mendengarkan demo musik Nirvana dari Endino, salah satu pemilik Sub Pop, Jonathan Poneman, langsung tertarik dengan Nirvana.

Kerjasama Nirvana dengan Sub Pop langsung dijalin dan ditandai dengan perilisan singel “Love Buzz”, yang aslinya merupakan materi dari grup band Shocking Blue. Singel itu dinilai koran The Rocket sebagai “langkah awal yang hebat” dari Nirvana.

Nirvana kemudian merilis debut album Bleach pada bulan Juni 1989 di bawah label Sub Pop. Di dalamnya berisikan materi yang dikerjakan selama akhir tahun 1988 bersama drummer Chad Channing.

Bleach mengandung materi yang dianggap menjadi identitas awal musik di scene Seattle yang sedang berkembang ketika itu. Kemarahan ala punk rock dipadu dengan pekatnya riff berat yang disetel dengan tune rendah. Bleach merupakan jawaban dari pencarian Kurt, “Sesuatu yang jauh lebih berat namun melodius, sesuatu yang berbeda dari heavy metal, dengan sikap yang berbeda.”

Ada satu lagu yang terpaksa dikorbankan dengan alasan karena sudah terlalu banyak riff berat yang termuat pada Bleach. Lagu tersebut berjudul “Big Long Now”.

Pencapaian Bleach memang tidak bisa dibandingkan dengan Nevermind. Namun 35.000 kopi bukanlah angka yang kecil untuk ukuran penjualan album yang dirilis melalui label independen. Debut album itu pula yang menjadi kendaraan awal bagi Nirvana untuk berada di barisan band yang diperhitungkan di kancah musik Seattle bersama The Melvins, Alice In Chains, Mudhoney, atau Soundgarden.

Di penghujung tahun 1989, Nirvana melahirkan mini album Blew yang awalnya untuk mempromosikan tur mereka ke Eropa. Namun sayang rencana tur itu gagal.

Akan tetapi Blew tetap diluncurkan di bawah Tupelo Records yang dirilis eksklusif di Inggris. Di dalam EP tersebut memuat dua lagu yang diambil dari Bleach, ditambah dua lagu yang pernah direkam Nirvana pada akhir tahun 1988, yakni “Been a Son” dan “Stain”.

Pada masa itulah scene musik di Seattle semakin berkembang secara signifikan dan mulai mendapat perhatian internasional. Sebuah identitas musik lahir di kota tersebut, kerap dinamai Seattle Sound. Rumusnya adalah percampuran musik hardcore pertengahan dekade ‘80-an, semangat punk rock, dan beratnya musik heavy metal hingga hard rock. Lantas muncul idiom “Grunge” ke permukaan yang identik dengan Seattle Sound pada era tersebut.

*****

Sejak itu, puncak karir Nirvana tinggal menunggu hitungan bulan. Dimulai dari perpindahan mereka ke DGC Records, anak perusahaan Geffen Records. Bersama DGC, Nirvana kemudian melahirkan album paling ikonik mereka bertajuk Nevermind. Sebuah album yang berhasil membawa band dari bawahtanah ke atas “ranjang mewah” bernama popularitas dan bersetubuh dengan industri arus utama.

Pihak DGC Records awalnya meragukan kalau album Nevermind bisa terjual lebih dari 250.000 kopi. Ternyata mereka salah dan itu bikin semua terkejut. Nevermind mampu menembus angka penjualan yang fantastis dan masih terus meningkat. Sampai hari ini pun, album tersebut masih juga dirilis ulang dalam berbagai format dan versi. Hasilnya masih sama seperti ketika pertama kali dilahirkan, laris manis.

Kurt Cobain sebenarnya tak pernah berniat untuk menjadi rockstar, apalagi menjadi juru bicara untuk satu generasi. Tapi siapa yang bisa memprediksi hal mengejutkan seperti itu. Popularitas itu ternyata justru bikin Kurt tertekan dan frustrasi. Tapi bagi labelnya, DGC Records, hal itu tentu menjadi semacam rejeki nomplok atau mimpi basah di siang bolong.

Kurt Cobain – Dok. Teamrock.

“Saya adalah juru bicara untuk diri saya sendiri,” aku Kurt Cobain, suatu kali. “Saya merasa sangat menakutkan karena saya sama bingungnya dengan kebanyakan orang. Saya tidak memiliki jawaban untuk apapun. Saya tidak ingin menjadi juru bicara.“

Jack Endino pernah bilang kalau ia pernah menonton konser Nirvana di Amsterdam, “Ketika saya melihat mereka di Amsterdam beberapa bulan yang lalu, sepertinya mereka sedikit kesal dan tertekan.”

“Orang-orang memperlakukannya seperti tuhan, dan itu membuat dia kesal,” kata Bernstein, seorang sahabat yang dipercaya menangani surat-surat dari para fans Nirvana. “Mereka memposisikan Kurt setinggi-tingginya, sampai dia sendiri merasa tidak pantas diperlakukan demikian.”

Kurt pernah berusaha untuk membuat fansnya kesal. Pada beberapa panggung, ia tampil provokatif berharap para fans marah dan membencinya. Seperti melakukan adegan ‘sirkus’ dengan gitarnya, membanting tubuhnya ke arah drum, berdandan nyeleneh, menghentikan aksi di tengah show, tampil ogah-gahan, hingga memamerkan kemaluannya di depan kamera. Hampir semua tindakan tidak terpuji pernah dilakukan Kurt di atas panggung.

Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Aksi panggung provokatif Kurt itu malah menginsipirasi banyak remaja yang tidak ragu untuk menirukannya – meski pada akhirnya, respon penonton tidak selalu sama dibanding Kurt yang memperagakannya.

Tahun 1992 adalah masa paling memuakkan sekaligus membahagiakan bagi Kurt Cobain. Muak karena popularitas, tudingan-tudingan negatif tak berdasar dari media dan juga orang-orang di sekitarnya, ditambah rasa sakit perutnya yang semakin parah.

Di sisi lain, Kurt menjadi lebih bahagia karena di sela padatnya jadwal panggung Nirvana akhirnya ia bertunangan dengan perempuan yang dicintainya, Courtney Love. Pertunangan itu dilaksanakan secara diam-diam – konon hanya kru dan personil Nirvana saja yang tahu. Saking muaknya dengan ketenaran, sampai-sampai pada pintu kamar Kurt dan Courtney tertera kalimat “No Famous People, Please. We’re F***ing”

Banyaknya berita negatif yang mampir di media kerap membuat Kurt marah. Hal itu sekaligus menimbulkan kekhawatiran bagi DGC Records akan karir mesin pencetak uang mereka bernama Nirvana. Pihak label rekaman khawatir kalau kesuksesan Nirvana terhenti, atau bahkan bubar.

*****

Alih-alih ingin menyelamatkan karir Nirvana, pihak DGC Records meminta Kurt untuk membuat album kompilasi demi menjaga eksistensi dan stabilitas karir Nirvana. Padahal, meski merasa muak akan popularitas, Kurt tak pernah berpikir untuk membubarkan Nirvana.

Kurt menyetujui tawaran DGC Records itu namun dengan satu syarat: semua materi dalam album kompilasi tersebut musti di bawah kontrol dirinya. Mutlak. Titik.

Pihak DGC Records dengan enggan dan sedikit berat hati terpaksa menyetujui syarat tersebut.

Hingga kemudian pada tanggal 14 Desember 1992 lahirlah album kompilasi Nirvana yang dikasih tajuk Incesticide. Album tersebut berisi sekumpulan materi yang direkam sejak awal karir Nirvana.

Nirvana di era Incesticide – Dok. Diffuser.

Incesticide bak rekaman Nirvana yang diciptakan sebagai ‘pencerahan’ bagi frontman mereka, Kurt Cobain, yang sedang mengalami tekanan hebat akibat popularitas mengejutkan lewat Nevermind. Album itu sekaligus wujud kemarahan Nirvana terhadap rekaman bajakan (bootleg) berkualitas buruk yang seringkali dijual dengan harga tinggi ke penggemar.

Semua materi lagu yang termuat di dalam Incesticide adalah pilihan Kurt Cobain. Mulai dari karya yang ia ciptakan sendiri hingga lagu-lagu favorit yang dibawakan ulang oleh Nirvana – seperti misalnya “Turnaround” milik Devo atau “Molly Lips” dan “Son Of Gun” milik The Vaselines.

Nirvana juga berupaya ‘menghidupkan’ kembali beberapa lagu dari sesi awal rekaman demo Nirvana pada nomor “Hairspray Queen”, “Downer”, “Seafood Mexico”, “Beeswax”, dan “Aero Zeppelin”. Meletakkan materi rilisan singel terakhir bersama Sub Pop, “Sliver” dan “Dive”. Merampas kembali lagu yang pernah ‘dikorbankan’ pada debut album Bleach, “Big Long Now”. Melibatkan lagu “Been A Son”, “Stain”, serta “Polly” yang telah didaur ulang menjadi “(New Wave) Polly” dengan aransemen yang lebih rusuh. Juga menziarahi sisi gelap musik Nirvana pada lagu “Aneurysm”.

Tracklist di album Incesticide.

Menariknya, Incesticide merupakan satu-satunya album yang memperlihatkan Nirvana dalam formasi enam personil pada sleeve cover – trio Kurt-Krist-Dave ditambah tiga drummer: Dale Crover, Chad Channing, dan Dan Peters. Pasalnya semua lagu dalam album itu memang digarap bersama drummer yang berbeda-beda.

Selain pemilihan lagu, desain kover juga dikerjakan sendiri oleh Kurt Cobain. Termasuk juga liner notes yang banyak menyuarakan segala isi hati Kurt Cobain – mulai dari kebahagiaan saat mengumpulkan materi Incesticide, rasa cinta terhadap sang istri dan anaknya, serta kemuakannya kepada lingkungan sekitar.

“Saya sangat naif dan bodoh sehingga saya membiarkan dimanfaatkan dan dimanipulasi,” tulis Kurt dalam liner notes-nya. Di situ juga muncul luapan amarah serta saran yang keras kepada para homophobia, rasis dan misoginis untuk tidak mendengarkan album Nirvana.

Liner notes di album Incesticide – Dok. Noisey.

Incesticide seperti rancangan baru yang dibentuk dari serpihan perjalanan masa lalu Nirvana. Album itu mengembalikan Nirvana pada porsi musiknya yang paling murni dan otentik.

Hari ini, tepat 25 tahun yang lalu, Incesticide lahir dari perpaduan rasa cinta, perlawanan dan kemuakan. Memang tidak ada jalan untuk mundur. Tapi Kurt dkk telah menciptakan Incesticide sebagai kapsul waktu berdurasi hampir lima puluh menit yang mampu mengajak pendengarnya mengunjungi Nirvana di waktu lampau. Sebelum Nirvana mencapai bukit tertinggi bernama popularitas. Dan sebelum Kurt Cobain memutuskan untuk menetap di nirwana.

Kaset Incesticide rilisan Indonesia – Dok. Discogs.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.