Mengingat Kembali Momen Menemukan Yes dan Chris Squire

Dari iseng-iseng buka video di YouTube, menemukan Yes, hingga takluk pada gaya permainan bass Chris Squire.

0
36
Chris Squire - Foto oleh Richard Aaron (The Ultimate Classic Rock)

GeMusik – Suatu hari pada awal tahun 2010. Pagi itu, saya sedang mendengarkan “Pull Me Under” sambil membaca halaman Wikipedia Dream Theater. Di satu paragraf, tertulis “Mereka ter-influens oleh musik milik Yes, Genesis, Rush, Pink Floyd…” Seketika itulah saya ingin menguliti root Dream Theater.

Dari situlah awal perkenalan saya dengan Yes… dan Chris Squire!

Harus diakui, musik Yes tidak selalu, bahkan mungkin jarang, bisa menjadi love at first sight. Kenjlimetan aransemen, mentahnya art rock, keepikan yang kadang terasa ‘terlalu lama’ untuk dibangun, dan yang utama, panjangnya lagu-lagu mereka mungkin adalah beberapa hal yang bisa membuat kuping kita terasa capek dan merasa ‘too much’. Bahkan untuk anda yang sudah terbiasa dengan lagu-lagu Dream Theater sekalipun.

Memang harus diakui ada beberapa perbedaan yang mencolok musik rock progresif ‘70-an dengan prog rock hibrida metal yang dianut oleh khalayak sekarang – di mana definisinya seperti ‘hanya’ dilimpahkan kepada Dream Theater saja.

Selain yang saya sebutkan di atas, mungkin saja progresif versi Dream Theater masih bisa terasa appealing untuk banyak kalangan. Karena meski durasi lagu-lagunya lebih dari lima menit, mereka masih memasukkan elemen-elemen ‘directness’ dan kearifan ‘on-your-face’ hard rock dan metal di dalamnya. Ini kadang bisa menolerir segala kenjlimetan dan panjangnya komposisi-komposisi mereka – di samping juga mereka pintar dalam memberikan element of surprises di sana-sini.

Dan ya, perkenalan saya dengan Yes dan Chris Squire juga berlangsung demikian.

Yes tidak ujug-ujug menjadi idola saya pada awalnya. Ya, salah saya juga sih, belagu, tiba-tiba langsung memilih “Close to the Edge” yang 19 menit itu. Kagetlah saya karena memang komprehensi kuping saya pada saat itu memang belum matuk. Saya dulu masih banyak teracuni oleh kemenyean Firehouse dan White Lion.

Akhirnya, saya absen mendengarkan Yes untuk beberapa saat.

Yang membuat saya kembali mendengarkan Yes adalah video di YouTube. Ya, di saat menonton YouTube tanpa buffering adalah layaknya mendapatkan menu ayam 5000-an di sebuah “gerai ayam lokal kosmopolit” di kota Malang*. Saat itu saya meng-klik video “List Bassline Terbaik”. Maklum, sebagai anak band anyaran, saya kepingin langsung ‘keren’ bisa main bassline-bassline sulit nan tehnikal. Saya akan selalu menertawakan fase hidup ini sekarang.

Nah, di video itu, saya menemukan Yes kembali, lewat bassline Chris Squire dalam lagu “Roundabout”.

Gila!

Anjing! Kirik!

You name it!

Ini bassline anjing! Saya belum pernah mendengar bassline se-direct dan se-crunchy ini! It’s like you just found an oase inside Sahara. Ini adalah sebuah harta karun yang keren dan benar-benar baru bagi saya.

Awalnya, saya kira bassist Yes ini menggunakan teknik slapping ala Larry Graham dan Louis Johnson. Karena setahu saya memang style ini mulai populer di tahun ‘70-an. Ternyata tidak, si Chris ini tidak menggunakan teknik yang sekarang ini seperti menjadi acuan “bassist keren”. Dia ‘hanya’ memakai pick dan me-rewire bass-nya menjadi stereo**.

Dengan komposisi treble yang cukup kentara, petikan-petikan dinamis dan agresif, pemilihan not yang membentuk gaya counterpoint melodis yang diracik dengan pengaruh dari John Entwistle, Bill Wyman, Jack Bruce, dan Paul McCartney (of course! Who isn’t influenced by him those days?), gaya permainan bass Squire adalah salah satu yang menonjol dan dominan di kalangan rock saat itu.

Ya meskipun tentu saja, gaya bermain Squire ini tidak langsung mendapatkan respon baik di kalangan sesama musisi, khususnya para session player kala itu.

Dengan gaya seperti ini, sulit [bagiku] untuk mendapatkan session work. Banyak musisi yang memintaku memainkan sesuatu yang jauh lebih simpel dan lebih dasar. Nah, Yes ini adalah ‘kendaraan’ untuk mengembangkan style ini dan kami pribadi masing-masing pada umumnya,” begitu kata Chris Squire saat ditanya mengenai karir low-end-nya dalam salah satu wawancara.

Untungnya saja, dia bertemu Jon Anderson di La Chasse dan membentuk sebuah band enigmatis bernama Yes.

The Dream Team Yes pada medio album Fragile (1971) dan Close to the Edge (1972) adalah favorit saya. Squire yang membentuk dynamic duo dengan drummer jazz Bill Bruford, keyboardist multi-layer Rick Wakeman, gitaris orkestral Steve Howe, dan vokalis ethereal Jon Anderson. Perannya dengan Bill Bruford membentuk sebuah keunikan di mana rhythm section yang satu ini tidak hanya memainkan basic ritmis rock, namun malah seperti mempunyai gaya sendiri karena permainan mereka berdua yang sama-sama cenderung ‘sibuk’ dan ‘melodis’.

Pun ketika departemen drummer Yes harus berganti, ia juga langsung bisa menyesuaikan dengan permainan Alan White yang cenderung lebih ngerock. Terbukti, mereka masih bisa menghasilkan album sebagus Going for the One (1977) dan Drama (1980) juga Tormato (1978) kalau mau dihitung. Meskipun juga harus bersusah payah dengan membuat album ‘biasa saja’ seperti Tales from Topographic Oceans (1973) dan Relayer (1974).

Dengan amunisi tersebut di atas, Squire lalu membuat banyak bassline memorable yang menjadi fondasi dan salah satu daya tarik utama Yes. Mulai dari kover Richie Havens “No Opportunity Necessary, No Experience Needed” di album Time and a Word (1970) – lagu ini konon menginspirasi Geddy Lee untuk menggunakan Rickenbaker, nge-swing di “Yours Is No Disgrace”, nge-rock di “Roundabout”, ber-epic di “Close to the Edge”, hingga merambah teritori metal di “Machine Messiah”.

Oh iya, jangan lupakan album solonya, Fish Out of Water (1975), terutama lagu “Hold Out Your Hand” – yang mengajarkan saya tentang menggunakan quartal harmony dan rangkaian suspended chord sebagai melodi!

Chris Squire telah meninggalkan kita semua sejak tiga tahun lalu. Penyakit leukemia akut memaksa dirinya untuk absen dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 27 Juni 2015 silam.

Secara langsung, kepergiannya telah membuyarkan salah satu dari dua ‘cita-cita luhur’ masa remaja saya: berkenalan dan meminta tanda tangannya – di samping impian saya untuk jadi cover boy majalah Rolling Stone Indonesia yang kini sama hancurnya karena juga sudah bubar.

Ini akan klise, tetapi memang mau tak mau harus diakui bahwa pencapaian, karya, influens, dan figur pria bernama lengkap Christopher Russell Edward Squire ini akan selalu menjadi warisan yang berharga bagi kita semua. Ia telah menginspirasi banyak sekali bassist dan musisi di seluruh dunia. Ia hadir dan ada di setiap betotan John Myung, Billy Sheehan, Geddy Lee, Les Claypool, sampai Steve Harris yang mengaku berhutang banyak kepada “The Fish”.

Termasuk salah satunya, remaja berumur 17 tahun, yang iseng-iseng YouTube-an, merasakan eargasm saat mendengar bassline mautnya pada “Roundabout”, dan memutuskan untuk belajar musik dan bass secara lebih serius. Dia yang hobinya menyendiri dan memuja-muja kemegahan “Heart of the Sunrise” dan “Awaken” di saat teman-teman seumurannya keranjingan Pee Wee Gaskins dan Avenged Sevenfold.

Thank you, Chris. Rest In Peace.

*Eksistensi menu Ayam Nelongso 5000 Rupiah adalah bagaikan sebuah mitos di kota Malang. Mau tahu kenapa? Tanya saja kepada salah satu teman Malang anda.

**Re-wiring bass menjadi stereo yang dilakukan Chris Squire, Geddy Lee, dan Billy Sheehan (among others) berfungsi untuk memisahkan sinyal pick up ‘bridge’ dan pick up ‘neck’ pada bass. Jadi bass mempunyai 2 channel input. In case of Squire, ia menghubungkan pick-up bridge-nya kepada ampli gitar (memberinya treble dan ke-crunchy-annya itu) dan menghubungkan neck pick-upnya kepada ampli bass biasa untuk mendapatkan ‘low’ bassnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.