Menilik Kancah Musik Independen di Sidoarjo

Kota Sidoarjo tidak hanya terkenal dengan udang atau petisnya, ternyata kancah musik independen di sana juga cukup gurih, menggeliat serta membara.

0
213
Atmosfir gig di Lingkaran Music Studio, Sidoarjo.

GeMusik – Sidoarjo adalah kota peristirahatan, begitu banyak orang bilang. Tak heran, kota ini memang nyaman untuk dibuat tempat tinggal mengingat letaknya yang strategis; berada di sebelah jantung provinsi Jawa Timur, Surabaya. Apalagi sejak proses pembangunan jalan bebas hambatan (baca: tol) menuju kota Malang dikerjakan, waktu tempuh Sidoarjo-Malang sudah dipangkas jadi lebih singkat.

Sedari dulu kota ini tumbuh dengan identitasnya, terutama seni kulinernya. Bukan tanpa sebab kota ini disebut kota udang atau the lobster. Itu karena Sidoarjo memiliki hasil tambak yang melimpah berupa udang dan juga ikan bandeng. Tentu saja Sidoarjo juga terkenal dengan olahan petisnya. Sebutkan semua makanan yang berbahan atau berbumbu petis, Sidoarjo punya semua dan memang wajib untuk dicoba.

Baca Juga: 4 Alasan Musik Indie Begitu Spesial

Namun, di balik itu semua ada satu hal yang paling menyenangkan. Yaitu geliat musiknya. Meski kecil, scene di Sidoarjo terus dihidupi dan dihidupkan oleh remaja di sana. Tak pernah berhenti berdetak. Selalu panas sama seperti ketika jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang.

Meski perlahan mulai dikikis oleh alasan realistis: kejamnya bea perizinan, naiknya harga sewa alat produksi, hingga lengsernya venue, tapi nafas scene di kota ini terlampau sulit dipaksa berhenti.

Sebut saja misalnya Delta Cafe, Panggung Mati, JJ Skate Park, Gedung Apem, hingga Dolomity yang pernah menjadi saksi bisu bagaimana scene di kota ini selalu berapi-api.

Atmosfir gigs di JJ Skate Park, Sidoarjo. – Foto Netz.

Namun mereka yang hidup dan menghidupi scene kota ini tak pernah kehabisan akal. Mereka tak kenal patah asa untuk terus berusaha mencari alternatif venue lain untuk dijadikan ruang demi menjaga api kreatifitas agar tetap terus menyala.

Baca Juga: Andra and The Backbone Melepas Panah Takdir di Jalur Independen

Sidoarjo terkenal besar dengan komunitas hardcore punk. Mereka dikenal dengan sebutan HCS Family yang berbasis di Lingkaran Studio. Meski demikian, bukan berarti tak ada komunitas lain yang lahir dari rahim kota ini.

Sudut-sudut kota Sidoarjo pernah melahirkan berbagai komunitas musik. Buktinya adalah SGS (Sidoarjo Grunge Society) dan Sidoarjo Metal Scene (S.M.S). Termasuk juga komunitas musik alternatif yang lahir di studio-studio musik seperti Talenta atau Studio Musik Sidoarjo. Mereka dulu berdiri dengan semangatnya masing-masing dan hidup saling berdampingan sehingga membuat arena musik di kota ini berwarna dan bervariasi.

Jejak panjang tentu melahirkan nama-nama penting di atas lintasan panggung musik, seperti RJ Power, Sleeping Police, Delta Force, The Sukudalu, Mahkota Jaya Abadi, The Shantoso, D’Soul, Kartu, Chumush-Chumush, Elaskatis, Nakedbrain, Sacrifice, Venduzor, Skabads, Venduzor, BrainSick, People Noid, Remaja Tanpa Cinta, The Dramatic Stories, My Father Is John, Last But Not Least, dan The Lonely Bulls.

Termasuk juga sejumlah acara gigs atau festival monumental seperti Sidoarjo Berdetak, Saturday Night Party, Hardcore Holiday, dan lain sebagainya.

Penampilan The Sukudalu di Tennis Indoor GOR Sidoarjo (Doc RTs Photography)

Di bawah langit yang kian mendung, regenerasi tetaplah terus berlanjut. Tongkat estafet berpindah tangan ke nama-nama seperti Slug, Devourmity, Dracula Omnivora, Relics, Koteka Is The Reason, Beruang Hitam, dan lainnya. Wajah muda telah datang mengisi dengan semangat yang segar pula. Dari situlah scene tumbuh secara dinamis dari perihal karakter sound hingga warna musiknya.

Sudah pasti zaman tidak mengenal kata tunggu. Kota ini semakin asing dengan pembangunan yang kian jumawa. Imbasnya macet di mana-mana, tumbuh subur tempat tongkrongan dengan aneka hidangan dan warna, serta lampu-lampu taman yang hampir terpampang di sepanjang jalan. Belum lagi tumbuhnya pasar modern yang bikin pasar tradisional terlihat lesu. Sayangnya, kemajuan kota tak berimbas pada lahirnya ruang baru untuk dijadikan tempat kreatif remaja-remaja di sana.

Baca Juga: Video Laze Soroti Pekerja di Kota Besar

Penataan kota kian acak adut meski dari segi visual terlihat semakin maju. Lihat saja bagaimana pelataran Gelanggang Olah Raga (GOR) sekarang. Tempat yang seharusnya difungsikan sebagai sarana olahraga menjaga kebugaran berganti menjadi sentra perdagangan sandang dan pangan. Tak terkecuali korbannya adalah venue seperti Gedung Apem dan Panggung Mati yang kini benar-benar telah mati.

Tak ada waktu untuk meratapi. Semangat dan asa tak boleh berhenti untuk dipupuk serta terus dilanjutkan – meski banyak nama yang memilih undur diri dari arena musik. Dalam segala keterbatasan itu, mereka tetap bernafas dan tak pernah kehilangan semangat. Penolakan secara kasar hingga halus, pencabutan perizinan, kenaikan harga sewa, penggusuran seakan sudah menjadi lauk dan pauk pemuda-pemuda yang menghidupi scene di kota udang.

Hingga akhirnya studio gig jadi pilihan yang dianggap paling masuk akal. Lingkaran Studio dan Musikindo yang bisa dikatakan berjasa ketika awan mendung menyelimuti arena musik kota Sidoarjo. Sadar akan kondisi yang kian bengis ingin mengkikis scene. Semangat muda kembali hadir dengan kepalan tangan yang lebih kuat.

Baca Juga: Menyambut Perhelatan Akbar 104 SOUND OF UNITY Bagi Kota Malang

Drown dan Black Rawk Dog adalah salah duanya.

Mereka ini membuktikan jika regenerasi tak pernah berhenti berjalan di arena musik kota ini. Semangat mereka sudah dimodifikasi sedemikian rupa sesuai semangat zaman. Tak hanya menyajikan kesegaran musikal saja, tapi juga pergerakan. Wajah-wajah dari dua nama itu juga yang kerap mempelopori gigs.

Tidak hanya di sektor musik, tapi juga pameran dokumen arsip, literasi hingga seni lainnya. Kini scene di sana mulai sadar jika misi mereka bukan hanya untuk bersenang-senang. Tapi lebih besar dari itu.

Studio Gigs di Lingkaran – Foto Netz.

Percikan api kecil ini ternyata ikut membakar semangat lainnya. Mereka yang masih memyimpan asa ternyata seperti digugah kembali untuk bergotong royong dengan generasi-generasi baru. Alhasil, mereka yg dulunya berjalan dengan semangat masing-masing kini tak sulit ditemukan bergabung dalam satu bejana dan saling berpegangan tangan dalam satu acara.

Jalan terang mulai terlihat di depan mata. Lahirlah Bolodewe, Rumah Kayu Pecantingan, Kampung Seni Pondok Mutiara dan tempat alternatif lainnya yang kini menjadi ruang baru untuk remaja-remaja di sana meluapkan kreatifitasnya. Budaya pengarsipan serta publikasi mulai ditumbuhkan dan disadarkan di antara mereka. Eksistensi Empati Records, Poison Snails Records, Terserahati Records, Dopeness Records, hingga Taman Diksi adalah sebagian bukti nyatanya.

Penampilan The Shantoso di Kampung Seni Pondok Mutiara. – Foto Netz.

Meski sampai saat ini scene di Sidoarjo tampak sibuk dan berkeringat. Mereka masih tampak bergerak dalam sepi. Tapi itu bukan perkara penting. Karena keyakinan ini tumbuh, jika mereka mampu bertahan bukan mustahil jika scene di kota ini akan menunjukkan taji. Dan bagian pentingnya, bagaimana api kreatifitas di kota ini tak pernah padam dan enggan menggantungkan diri kepada kepentingan-kepentingan segelintir pihak saja.

Baca Juga: Menemukan Jejak Pickwolf Di Tanah Heavy Rock Kota Malang

Itu mulai dibuktikan dengan kehadiran percikan dari acara Jatim Power ke-2 atau kelahiran nama-nama seperti Juliansadam, Lepas Terkendali, Short Time, Decemberism, Belalang Tempur, Reaven Hearts, Beat Lightning, termasuk juga Black Rawk Dog dan Drown.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.