Menyambut Bohemian Rhapsody

Sebuah cerita jelang pemutaran film biopic dari band rock legendaris Queen, yang juga banyak menyoroti sosok sang vokalis yang kharismatik dan ikonik itu.

0
94

GeMusik – Pernah suatu ketika di Minggu pagi yang santai, seperti kebanyakan anak-anak lainnya, perhatiaan saya hanya terfokus pada layar kaca. Menunggu serial-serial kartun yang ditayangkan secara estafet. Namun, tiba-tiba perhatian saya teralihkan oleh musik nan sejuk yang dibuka dengan suara vokal bergerombol bak paduan suara. Musik itu keluar dari seperangkat alat pemutar cakram padat sekaligus kaset pita kepunyaan bapak yang sudah lama tak digunakan.

Ternyata, pagi itu bapak sedang memeriksa alat pemutarnya untuk memastikan masih berfungsi atau tidak. Katanya, alat pemutar itu akan diberikannya kepada seorang teman karena sudah jarang digunakan. Benar juga, selama ini pemutar yang ukurannya hampir sama besar dengan badan saya – yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar – hanya digunakan oleh kakak untuk memutar musik cadas tanpa mengenal waktu. Atau lebih seringnya digunakan untuk membajak kaset pinjamannya agar bisa dia dengar seharian penuh.

Mungkin itu alasan utama mengapa mesin pemutar itu hendak diberikan. Bukan karena tidak pernah dipakai, tapi karena musik yang kakak putar mulai sore hingga malam itu benar-benar kerap membuat telinga bapak dan ibu memerah. Ha!

Entah mengapa, musik yang dipilih bapak saat memeriksa alat pemutar pagi itu membuat saya anteng duduk di sampingnya. Mendengarkan khidmat sambil memperhatikan tombol-tombol yang menghiasi sekujur tubuh mesin pemutar. Sekian lama mesin itu ada di rumah, baru kali itu saya memperhatikannya dengan seksama.

Queen,” kata bapak dengan tiba-tiba sambil menodongkan bungkus CD berwarna hitam dengan potret empat pria bermuka serius.

Saya pun meraihnya, melihat-lihat wajah empat pria dengan tampang sinis berambut nyentrik dengan pakaian hampir serba hitam. Pria berkumis tebal dengan jaket kulit yang duduk bagai di warung kopi itu membuat saya berpikir jika mereka semua ini pasti mantan penjahat yang bertaubat setelah mengetahui bakat terpendamnya adalah di bidang musik.

Wajah mereka lebih menakutkan dari musik yang sering diputar kakak. Tapi tidak dengan musiknya yang indah sekaligus megah. Lagu demi lagu terlewati. Bocah Sekolah Dasar seperti saya waktu itu langsung berkesimpulan, berdasarkan musik yang dimainkan oleh Queen ini, mereka pastilah band yang setia mengiringi pesta-pesta kerajaan di kuil super megah.

Hal itu didukung pula dengan koleksi CD Queen milik Bapak lainnya yang logonya akrab dijumpai di permainan Stronghold Crusader. Yeeeah! Cocok!

Sejak pagi itu saya tak pernah lagi mendengarkan Queen. Ya, karena mesin pemutar saya sudah diberikan orang lain. Tapi bukan berarti hubungan sepintas itu hilang begitu saja. Entah bagaimana lagu-lagu dan gambar di sampul CD itu tetap menempel di ingatan. Bahkan hampir setiap mengunjungi rumah teman, gambar dan logo itu selalu hadir di rak koleksi rilisan milik kedua orang tua mereka.

Keyakinan saya semakin bulat, bahwa Queen ini tentu bukan band sembarangan. Band kerajaan yang wajib ada di rak koleksi setiap “istana” yang kami sebut rumah.

Nostalgia di atas terjadi saat saya sudah menginjak usia hampir seperempat abad. Tatkala ketika mengunjungi sebuah saluran YouTube berjudul Kids React To Queen. Itu adalah suatu program kreatif dan menghibur untuk melihat bagaimana reaksi anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar ketika mereka didengarkan lagu-lagu milik band legendaris yang hadir jauh sebelum mereka lahir di dunia.

Gadis kecil bernama Sydney adalah favorit saya karena selera musiknya yang keren untuk anak seusianya. Bahkan, hanya dirinya yang terlihat begitu antusias ketika mendengar lagu Queen berjudul “Radio Ga Ga” ketika anak-anak lainnya berekspresi biasa saja atau malah menilai lagu itu membosankan.

Queen is amazing,” katanya dengan raut wajah antusias.

If you ask me who’s your favorite artist, I will always say Freddie Mercury,” lanjutnya.

Gila benar gadis ini. Di saat saya seusianya masih menduga kalau Freedie Mercury, vokalis Queen yang selalu berpenampilan nyentrik bercelana ketat, itu adalah pemimpin kuartet penjahat yang sudah bertaubat karena menemukan bakat terpendamnya, gadis kecil itu bahkan sudah mengidolakannya:

…because he is like a God.”

Sydney di Kids React To Queen. Foto: YouTube.

Tahun ini, nama Queen dan Freddie Mercury kembali menjadi bahan perbincangan yang hangat. Penyebabnya adalah pengumuman film biopic berjudul Bohemian Rhapsody akan segera tayang.

Yang menjadi magnet utama tentu saja karakter Freddie Mercury – diperankan Rami Malek – yang kabarnya akan menjadi titik fokus di film tersebut. Itu juga sekaligus penghormatan untuk lelaki yang kerap dikultuskan oleh banyak orang sebagai penyanyi, penulis lagu, dan produser terbesar sepanjang masa. Bahkan dewa!

Penggarapan film Bohemian Rhapsody sudah dilakukan sejak tahun 2010 silam. Namun, banyak kesulitan yang dihadapi pada prosesnya. Salah satunya ketika sang produser, Bryan Singer, dipaksa mengundurkan diri sebab dikabarkan banyak absen karena faktor kesehatan. Sampai akhirnya di tengah-tengan produksi, kursi produser harus diserahkan kepada Dexter Fletcher. Brian May dan personil Queen lainnya, Roger Taylor, juga punya andil yang besar dalam produksi film ini.

Film ini akan mengabadikan era mulai dari pembentukan Queen di ‘70-an hingga kematian Mercury pada tahun 1991. Dalam deskripsi sinopsisnya dijelaskan jika Bohemian Rhapsody adalah persembahan sekaligus perayaan untuk Queen. Terutama untuk musik dan vokalis mereka yang luar biasa. Menelusuri kemunculan Queen serta kesuksesannya lewat lagu-lagu ikonik dan suara revelusioner mereka.

Bohemian Rhapsody is a foot-stomping celebration of Queen, their music and their extraordinary lead singer Freddie Mercury, who defied stereotypes and shattered convention to become one of the most beloved entertainers on the planet. The film traces the meteoric rise of the band through their iconic songs and revolutionary sound, their near-implosion as Mercury’s lifestyle spirals out of control, and their triumphant reunion on the eve of Live Aid, where Mercury, facing a life-threatening illness, leads the band in one of the greatest performances in the history of rock music.”

Bohemian Rhapsody kabarnya akan resmi tayang pertama kalinya pada bulan Oktober mendatang; 24 Oktober di Inggris dan 1 November di Australia. Baru keesokan harinya serentak di Amerika Serikat.

Bagaimana pun stereotip yang selama ini dituduhkan kepada film biopic, yang konon terlalu sering dilebih-lebihkan hanya untuk mendulang pasar, film Bohemian Rhapsody ini tetap layak ditunggu. Khususnya bagi penggemar setia Queen dan Freddie Mercury.

Saya adalah salah satu dari ratusan juta orang yang sudah berkeputusan bulat untuk menonton film ini bersama Bapak.

Teringat saat Queen menghadirkan memori ketika pertama kali saya mendengarkan lagu mereka. Ya, tepat di lagu berjudul “Bohemian Rhapsody”. Saya menyesal waktu itu tidak menghentikan niat Bapak untuk memberikan mesin pemutar kepada orang lain agar bisa mendengarkan Queen di sepanjang siang dan malam sambil bermain Stronghold Crusader.

Sebab itu pasti menyenangkan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.