Merayakan Puisi di Jember

Berawal dari keisengan dan kecintaan terhadap puisi, lahirlah Nangningnung.

0
208
Suasana parade puisi Nangningnung #2 - Dok. Nangningnung

“Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang…”

– Chairil Anwar.

GeMusik News – Siapa yang tidak mengenal sosok Chairil Anwar. Begitu pula dengan penyair lainnya seperti Sapadi Djoko Darmono dengan kalimat puisinya yang melegenda, “Aku Ingin mencintaimu dengan sederhana…”

Digagas dari keisengan dan kecintaannya terhadap puisi, dimulailah perjalanan Nangningnung. Adalah Fahmy Hilmy Abdillah, Ibnu Wicaksono, serta Vindri Anelka yang memulai keisengannya dan kecintaannya terhadap puisi pada Nangningnung #1, pertengahan Oktober 2016, bertempat di Sukmaelang, sebuah desa di pinggiran Kabupaten Jember.

“Puisi sebagai sebuah karya sastra selama ini hanya dikenal untuk dibaca. Padahal puisi itu juga bisa kita alih wahanakan dalam bentuk yang variatif seperti musik, foto, lukis, tari, teater, atau film. Pokoknya banyaklah karena interpretasi setiap manusia itu berbeda-beda,” tutur Fahmy.

Perayaan Tradisi dan Ruang-Ruang Nostalgia

Perjalanan menuju parade puisi Nangningnung #2 sungguh mengingatkan pada masa kecil yang jauh dari kebisingan kota. Disuguhi pemandangan desa yang masih erat dengan tradisi gotong royong. Warga pun menyambut positif acara tersebut. Itu terlihat saat gotong royong membangun panggung serta suguhan jajan dan kopinya yang khas.

Nangningnung #2 diselenggarakan selama dua hari, 2-3 Desember 2017 di desa Suci, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Menurut penjelasan Fahmy, “Tidak ada alasan yang spesifik perihal penyelenggaran dengan estimasi dua hari. Itu sudah menjadi kesepakatan panitia. Yang terpenting edukasi dapat tersampaikan kepada masyarakat dan mereka ikut terhibur.”

Perhatian utama terletak pada konsep panggung yang jauh dari kesan modern, dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Panggung terbuat dari bambu, jerami serta tumbuhan jagung sebagai properti. Sungguh seperti dibawa ke dalam ruang nostalgia masa kecil.

“Puisi itu berawal dari masyarakat,” begitu kata Fahmy kemudian.

Hari pertama dimulai dengan aksi layang-layang yang dulu sering dimainkan. Malam harinya, ada pawai obor yang menghidupkan suasana desa lalu berlanjut dengan pemutaran film, musikalisasi puisi, hingga tari.

Pada hari kedua, tota’an dereh menjadi tanda dimulainya acara. Dilanjutkan dengan pembacaan puisi sebagai film, teater, kemudian ditutup oleh penampilan aktraktif dari UKM Kesenian Jember.

Suasana pedesaan yang sejuk dan intim pada gelaran Nangningnung.

Interpretasi Puisi Dalam Bentuk Yang Variatif

Interpretasi merupakan cara untuk membaca sesuatu. Sebagai sebuah karya sastra, pembacaan puisi secara otonom yang memfungsikan intuitif sebagai cara kerjanya. Dengan intuitif, puisi dapat terbaca dan divisualkan ke dalam bentuk yang lebih variatif. Bentuknya bisa bermacam-macam, bisa menjadi musik, tari, film, teater, foto, atau lukis tergantung bagaimana cara menginterpretasikannya.

Puisi dalam pembacaan musik melahirkan musikalisasi puisi dan musik puisi. Dalam musikalisasi, puisi itu dibaca dalam bentuk musikal dengan intuitif yang menangkap kata demi kata kemudian divisualkan ke dalam bentuk rangkaian nada hasil dari interpretasi yang otonom.

Intuitif memang berperan penting pada bentuk musikalisasi puisi. Olah rasa sebagai usaha menangkap kata-kata yang diolah dan disusun menjadi nada-nada. Seolah-olah kumpulan nada tersebut bisa mewakili kata-kata yang tersusun dalam sebuah puisi.

Begitupula musik puisi, yang didasari oleh puisi kemudian diinterpretasikan menjadi sebuah musik dalam bentuk lagu. Hal tersebut menjadi sah-sah saja untuk dilakukan. Sebab karya sastra bisa diinterpretasi secara otonom, dengan pembacaan yang variatif tanpa ada batasan-batasan yang menjadi konvensi.

Teks dan foto oleh Meriardy Wiranata Subroto, dari Jember.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.