Mesin Riff Itu Bernama ‘Fast’ Eddie Clarke

Gitaris berambut pirang itu baru saja berpulang. Namun deru gitarnya akan selalu diingat sebagai mesin penggerak kendaraan gagah bernama Motörhead. Sebuah obituari panjang layak disematkan padanya...

0
125
RIP: Fast Eddie Clarke - Foto Dok. Billboard.

GeMusik News – Beberapa tahun belakangan kabar duka terus menggerogoti kancah musik rock yang dianggap telah menua. Mulai dari anggapan kehilangan daya cengkeram di mata dunia, hingga kabar mangkatnya satu-persatu ikon yang memiliki pengaruh besar di tanah suci bernama rock n’ roll.

Sampai saat ini kabar duka itu masih saja menghantui. Kini ‘Fast’ Eddie Clarke, gitaris yang terlibat di banyak album klasik Motörhead dan anggota pendiri Fastway, menutup usia pada hari Rabu (10/1) kemarin. Ia dikabarkan meninggal dunia pada usia 67 tahun, akibat penyakit paru-paru basah (pneumonia).

Motörhead langsung mengkonfirmasi kematian Clarke melalui akun resmi Facebook-nya. Di situ mereka menuliskan: “Kami sangat terpukul untuk menyampaikan berita yang baru saja kami dengar malam ini. Edward Allan Clarke – atau seperti yang kita semua tahu dan cintai dia ‘Fast’ Eddie Clarke – meninggal dunia dengan damai kemarin…”

“Fast Eddie… Keep roaring, rockin’ and rollin’ up there as goddamit man, your Motörfamily would expect nothing less!!!”

*****

Edward Allan Clarke lahir di Twickenham, London pada 5 Oktober 1950. Ia mulai memainkan gitar ketika usianya masih belasan tahun dan mengaku banyak terinspirasi oleh gitaris seperti Eric Clapton, John Mayall dan pahlawan gitar blues Inggris lainnya di periode 1960-an.

Pada masa awal karirnya, Clarke pernah tergabung dengan beberapa band seperti Zeus, Blue Goose – yang melahirkan album self-titled pada tahun 1974 – dan kemudian Continuous Performance dengan bassist Charlie Tumahai.

Namun, nama Clarke mulai disorot ketika dirinya bergabung dengan band heavy rock asuhan bassist sekaligus vokalis karismatik, Lemmy Kilmister, serta drummer Phil “Philthy Animal” Taylor. Band itu bernama Motörhead.

Bergabungnya Clarke menjadi bagian Motörhead berawal ketika dirinya mengambil pekerjaan sebagai tukang renovasi di sebuah rumah kapal (houseboat) pada akhir tahun 1975. Pekerjaan itulah yang mempertemukan dia dengan Taylor. Waktu itu kebetulan Motörhead memang sedang mencari satu gitaris lagi untuk menambah suara gitar Larry Wallis. Kemudian Taylor menawarkan apakah Clarke ingin bergabung bersamanya di Motörhead.

“Saya tidak memiliki apa-apa pada saat itu dan Lemmy memiliki sedikit reputasi, jadi ini adalah kesempatan bagi saya untuk berada di sebuah band yang telah memiliki pijakan. Saya mengambil kesempatan itu tanpa mempertimbangkan sisi musiknya,” kenang Clarke.

Tidak lama kemudian, justru gitaris Larry Wallis yang mengundurkan diri dan otomatis menyisakan Motörhead dalam format trio. Dengan tiga personil yang tersisa, Motörhead memulai meniti karir dan mampu menghasilkan album-album klasik yang dianggap penting di jagad musik rock.

“Setelah kita mendapatkan Eddie dan Phil, saya tahu kita memiliki sesuatu yang istimewa,” ungkap Lemmy Kilmister pada buku Lemmy: the Definitive Biography.

Sejatinya di perjalanan awal Motörhead, trio ini sudah hampir putus asa. Awal pertunjukan Motörhead digambarkan begitu mengerikan. Ditambah ulasan negatif yang didapat dari media bikin mereka hampir menyerah. Tapi setelah memainkan gig di klub Marquee, ketiga musisi tersebut memutuskan untuk tetap bersama.

Motörhead merilis debut self-titled pada tahun 1977. Pada album perdana itu Clarke tak sungkan memamerkan permainan gitar cepat bersuara kalengnya, dengan riff bercorak blues yang menyambar bagai kilat di siang bolong. Disokong geraman vokal Lemmy Kilmister dan gebukan drum Phil “Philthy Animal” Taylor yang menderu, Motörhead menyajikan keberingasan hard rock dan garangnya heavy metal yang masih belum banyak dipresentasikan oleh band-band di periode tersebut.

Padahal, Lemmy selalu berpendapat bahwa Motörhead adalah band rock n’ roll, bukan band metal, punk atau thrash!

Kedatangan Clarke berdampak pada kekayaan musik Motörhead. Di tahun berikutnya, band ini memulai periode keemasan mereka. Album-album penting mereka lahir dalam kurun waktu empat tahun – mulai dari Bomber (1979), Overkill (1979), hingga Ace of Spades (1980).

Karena permainan gitarnya yang digambarkan bagai penggabungan deru di medan pertarungan rock n’ roll di masa awal itu, Clarke mendapatkan julukan ‘Fast’ Eddie Clarke dari Lemmy. Konon julukan itu diutarakan Lemmy pertama kali dalam sebuah pertunjukan awal Motörhead di Manchester, Inggris.

“Itu masuk akal,” tulis Lemmy dalam otobiografinya. “Eddie adalah pemain gitar yang cepat.”

Selama masa bersama Clarke ini, Motörhead mendapat reputasi sebagai salah satu band paling keras di kancah rock. Bahkan dianggap selaku salah satu pelopor gelombang baru heavy metal di daratan Inggris.

“Itu bukan salah kami,” kata Clarke dalam buku biografi Beer Drinkers and Hell Raisers.

“Saya hanya mencoba untuk mendengar diri saya sendiri. Jadi saya menambahkan amplifier di sisi saya, dan Lemmy menambahkan lebih banyak lagi di sisinya, dan kemudian Phil [Taylor] memiliki monitor yang lebih besar. Masing-masing dari kami tidak pernah terganggu dengan itu,” lanjutnya.

Tidak bisa dipungkiri kalau kecepatan, teknik dan riuh rock n’ roll dalam setiap sayatan gitarnya ikut menetapkan standar untuk semua gitaris band cadas di kemudian hari.

*****

Setelah sukses menghasilkan album-album paling berpengaruh di awal karir Motörhead, ‘Fast’ Eddie Clarke memutuskan hengkang dari Motörhead pada bulan Mei 1982. Dia kemudian mendirikan Fastway, dan merilis debut self-titled pada tahun 1983.

Album terakhir Clarke dengan Motörhead adalah Iron’s Fist yang dirilis pada tahun 1982. Setelah itu gitaris dari Thin Lizzy, Brian Robertson, datang untuk menggantikannya.

Hengkangnya Clarke konon disebabkan karena ketidaksetujuannya terhadap ide Lemmy yang memutuskan untuk bermitra bersama O ‘Williams dari Plasmatics untuk sebuah EP yang menampilkan kover lagu “Stand by Your Man” dari Tammy Wynette.

Clarke menganggap proyek tersebut sebuah bencana. “Itu mengerikan, maksud saya itu sangat buruk. Saya pikir Motörhead dalam bahaya dan akan menjadi bahan tertawaan,” kata Clarke.

“Saya mengerjakannya, dan kami mengadakan latihan tiga hari di studio. Wendy bernyanyi dan terdengar sangat tidak bagus, jadi saya mengobrol dengannya, dan dia bilang dia lebih suka kord yang berbeda. Jadi keesokan harinya kami mengubah semuanya lagi, dan nyanyiannya masih terdengar tidak benar. Terdengar mengerikan bagiku, kupikir lagunya sangat mondar-mandir. Tapi Lemmy tidak mau menyerah, and we had a f*****g row about it,” kisah Clarke mengenang kejadian buruk itu.

Sesi itulah yang jadi pertanda dari akhir perjalanan ‘Fast’ Eddie Clarke bersama Motörhead. Perdebatan sengit kerap terjadi antara Clarke dan dua personil Motörhead lainnya. Sampai pada akhirnya Clarke merasa tidak memiliki pilihan selain meninggalkan band.

“They were already thinking like it wasn’t my band [too] anymore,” pikir Clarke.

Dalam hati Clarke – yang kerap membayangkan kematian di atas panggung bersama Motörhead – sebenarnya tidak ingin hal itu terjadi. Saat itu agennya, Nick Harris, mendatanginya dan menganjurkan Clarke untuk berbicara dengan Phil dan Lemmy. Namun, perbincangan tersebut tidak mampu mengubah apapun. Tekad ‘Fast’ Eddie Clarke benar-benar bulat untuk mengakhiri perjalanannya bersama Motörhead, setelah bersama-sama dalam kurun waktu tujuh tahun.

Setelah hengkang dari Motörhead, Clarke membentuk Fastway dengan bassis UFO, Pete Way. Tapi Clarke selalu menganggap tahun-tahunnya bersama Motörhead sebagai titik puncak kehidupan pribadi dan karir musik profesionalnya.

“Waktu bersama Phil dan Lemmy sangat spesial,” kenangnya. “…dan saya tidak pernah menemukannya lagi.”

Sepeninggal ‘Fast’ Eddie Clarke, banyak penggemar beranggapan jika Motörhead sudah tidak akan pernah sama lagi. Memang benar masih ada Lemmy Kilmister yang menjadi ikon sekaligus otak dari Motörhead. Namun ibarat sebuah kendaraan, Motörhead adalah kendaraan super gagah dengan bodi bernama Lemmy. Namun jika tidak ada mesin apa artinya kegagahan itu?!

Di situlah peran besar Phil “Philthy Animal” Taylor dan ‘Fast’ Eddie Clarke pada awal karir Motörhead. Mereka menjadi kendaraan gagah karena keterlibatan deru gitar Clarke dan gebukan drum Taylor – selain dari  kegarangan vokal dan dentuman bass Lemmy.

“Motörhead bukan hanya Lemmy,” ujar Clarke suatu ketika.

“Aku yang menulis semua riff. Juga telah menulis beberapa lirik serta menciptakan riff yang bagus. Saya suka Phil, dan yang membuat saya kesal dia tidak menulis [musik] atau memiliki banyak nada. Tapi saya selalu bersikeras bahwa dia memiliki sepertiga dari itu, sehingga porsi kita semua sama. Dan Itu bukan tentang uang.”

*****

Sebagai salah satu (mantan) personel band berpengaruh yang pernah ikut menorehkan nama Motörhead dengan tinta tebal di kancah rock dunia ternyata tak membuat Clarke jadi besar kepala atau sombong. Meski sudah tak lagi bersama, Clarke selalu menunjukkan kepeduliannya terhadap semua personil Motörhead, tidak terkecuali Lemmy. Begitu pula kecintaannya pada penggemar juga tidak berkurang.

Bagi mereka bertiga, penggemar adalah bahan bakar yang terus membuat mesin dan roda Motörhead menggelinding di jalan suci bernama rock n’ roll.

Ketika diwawancarai mengenai kemungkinan dirinya untuk reuni dengan Motörhead, Clarke menyampaikan, “Aku tidak cukup fit untuk melakukan ini, tapi kupikir aku akan melakukannya [reuni] sekali lagi, Saya akan melakukannya untuk mereka [fans].”

Clarke sempat bersatu kembali dengan Motörhead. Pada tahun 2000, ia tampil dalam konser ulang tahun ke-25 Motörhead di Brixton Academy, London. Dia juga bergabung dengan Lemmy dkk pada tahun 2014 untuk memainkan tembang legendaris “Ace of Spades” dalam sebuah pertunjukan di Birmingham Arena, UK.

“Saya berhutang banyak kepada mereka [fans], karena saya selalu mencintai penggemar kami,” aku Clarke. “Begitu banyak orang melupakannya. Tanpa mereka, kami bukan apa-apa…”

Bahkan Clarke mengaku jika Motörhead akan selalu menjadi penggemar berat bagi fansnya sendiri. Karena menurut Clarke, faktanya Motörhead bisa terus berjalan jauh itu berkat semangat yang ditularkan oleh penggemarnya. Terlebih ketika mereka sedang dalam posisi paling rendah.

“…Ketika saya pergi menemui Motörhead di backstage pada tahun 2014, saya masuk dan tahukah anda apa yang dilakukan Lemmy di ruang ganti sebelum pertunjukan? Membaca surat-surat dari fans!” ungkap Clarke bangga. “Saya ingin selalu dikenang sebagai personil band yang sangat menghargai fans mereka…”

*****

Ketiga personil klasik Motörhead itu tentu sudah lekat dengan budaya dan identitas rock n’ roll di jamannya. Kecepatan musik yang diusung ternyata berbanding lurus dengan konsumsi alkohol dan ‘alat bantu’ lainnya. Begitu pula dengan Clarke yang dinilai porsi konsumsi alkoholnya juga seagresif permainan gitarnya.

Kebiasaan itu ditenggarai akibat jadwal tur Motörhead yang padat dan ketat. Itu yang mengharuskan mereka tetap terjaga selama beberapa malam berturut-turut. Bahkan Clarke sempat mengklaim kalau dirinya pernah tidak tidur selama setahun.

Clarke mulai merasakan dampak negatif dari pola hidup yang liar seperti itu. Ia lalu memutuskan berhenti mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan setelah menjalani rehabilitasi. Clarke juga sempat berhenti merokok pada tahun 2008.

Namun itu mungkin agak terlambat. Clarke terlanjur divonis menderita penyakit emfisema, yang membuatnya sulit tampil di atas panggung. Dia juga pernah mengaku kalau tidak suka menjadi tua.

Pada tahun 2016, ketika dirinya menjadi personil terakhir dari barisan klasik Motörhead yang masih hidup, Clarke merenung, “Ini bukan tempat yang patut ditiru, tapi memang begitulah adanya. Saya berhenti berpesta seberat mereka. Lemmy tua tapi kuat, saya berhenti minum bertahun-tahun yang bikin saya mendapatkan keuntungannya.”

Namun, siapa sangka Tuhan berkehendak lain. Pada 10 Januari 2018, ‘Fast’ Eddie Clarke akhirnya menyusul dua koleganya, Lemmy Kilmister dan Phil “Philthy Animal” Taylor, yang telah terlebih dahulu mangkat dari dunia.

Saat ini ketiga punggawa klasik Motörhead itu telah kembali berkumpul di tempat lain. Mungkin di sana Clarke bisa mewujudkan apa yang pernah ia bincangkan dengan Lemmy semasa mereka berdua masih hidup:

“Saya memiliki percakapan serius dengan Lemmy tentang sebuah reuni, dan ini terlihat cukup bagus. Kami akan datang dan berpikir melakukan sesi unplugged, tapi melakukannya dengan cara yang benar-benar berbeda. Jelas, saya akan senang untuk bisa kembali bersama.” (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.