Muse: Drones World Tour

Meski belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi, Muse tetap berhasil menyajikan film konser dengan konsep visual, tata panggung, kualitas sound, serta performa yang mampu menyulap gedung bioskop bagai arena stadion.

1
120
muse drones world tour
muse drones world tour

GeMusik – Suasana langsung mengancam ketika suara perempuan bak merapal mantra seolah berhasil memanggil para trooper bertopeng yang tiba-tiba muncul dari kegelapan, yang kemudian berpencar mengambil posisi ke setiap sisi panggung. Di bawah drone raksasa berbentuk globe yang menggantung, ribuan penonton yang sudah berdiri memadati stadion tampak diberi peringatan akan ancaman yang akan datang.

Namun, mereka tak bergeming.

Dari arah jantung stadion, sinar laser berwarna merah diarahkan ke berbagai sudut. Kemegahan panggung di jantung stadion pelan-pelan mulai tampak kemewahannya dengan monitor raksasa di bagian atasnya menampilkan tulisan “Killed By Drones”. Sampai pada akhirnya suasana mencekam itu pecah ketika Matthew Bellamy, Christopher Wolstenholme dan Dominic Howard muncul dan memberikan hentakan dahsyat pada lagu berjudul “Psycho”.

Momen di atas adalah gambaran adegan pembuka dalam film konser milik band asal Inggris, Muse, yang bertitel Drones World Tour – yang baru saja diputar serentak di seluruh dunia pada 12 Juli 2018 kemarin.

Baca Juga: Muse Sajikan Drones World Tour di Layar Bioskop

Selasa (10/7) harusnya menjadi hari biasa sampai seorang kawan mengirimkan poster film konser yang bertuliskan pernyataan dari Q Magazine,The Greatest Show In The World.” Pernyataan menohok itu bagaikan peringatan jika film konser ini tak boleh dilewatkan begitu saja.

Tak perlu banyak pertimbangan, ajakan untuk nonton bareng pun lekas disepakati. Terlebih jika mengingat film bertajuk Drones World Tour ini akan diputar serentak hanya dalam waktu sehari.

Drones World Tour adalah proyek ambisius dari band alternatif rock asal Inggris, Muse, yang diambil selama rangkaian tur album betajuk Drones di sepanjang tahun 2015 hingga 2016 – ketika Matthew Bellamy (gitar, vokal), Christopher Wolstenholme (bass) dan Dominic Howard (drum) sukses merampungkan 130 konser di seluruh dunia.

Sebelumnya, Drones World Tour sudah lebih dulu dijanjikan akan menawarkan sensasi serta pengalaman yang luar biasa untuk para penonton. Mulai dari efek visual, konsep panggung, hingga penyajian tata suara. Keseluruhannya akan dikemas serta diramu secara apik.

Ketika Muse berkata demikian. Wajar jika penggemar dan calon penonton yang (mungkin) hanya sepintas mengikuti awal perjalanan mereka mulai berekspektasi tinggi. Terlebih selama ini Muse memang dikenal menjadi grup yang hadir dengan ketertarikan besar mereka terhadap teknologi.

Persis seperti yang sempat dikatakan oleh frontman mereka. “Simbiosis antara manusia dan teknologi…” tutur Bellamy. “Selalu menjadi suatu hal yang saya minati.”

Kamis (12/7) film Drones World Tour resmi tayang serentak di bioskop berbagai negara, termasuk juga beberapa kota di Indonesia – seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan Medan.

Seperti film konser pada umumnya, Drones World Tour juga mempertontonkan kemegahan dan kemewahan konser seperti yang dilakukan oleh band-band besar layaknya Muse. Mulai dari tata letak panggung yang berada di bagian tengah stadion hingga sajian sound system yang mampu membuat gendang telinga bergetar. Konsep visual mempesona seperti yang Muse janjikan juga terbukti benar adanya.

Sepanjang penampilan, gemerlap lampu laser, LED, serta efek visual yang apik mampu membuat penonton kagum dan terpesona. Kami, yang hanya menonton lewat bioskop, sudah mampu membayangkan bagaimana kerennya pengalaman menonton konser itu secara langsung bersama ribuan penonton di stadion.

Baca Juga: Muse Rilis Lagu Baru “Dig Down”

Namun, sayangnya, bagi saya pribadi, itu masih belumlah cukup membuat takjub atau memuaskan ekspektasi yang sebelumnya kadung membuncah atas film konser Drones World Tour. Apalagi jika merujuk judul serta gambar sampul album Muse, Drones (2015).

Bayangan yang hadir, Muse akan memberikan pengalaman menonton bioskop yang menakjubkan atau tak terlupakan. Seperti membidik atau merekam aksi Muse lewat drone, misalnya.

Namun, yang terjadi tidak demikian. Kamera hanya berjalan mengekspos tiap personil, kemewahan panggung, termasuk juga menyorot penonton yang tampak histeris, yang diambil dengan teknik pengambilan gambar seperti konser-konser pada umumnya.

Drone berbentuk globe, yang menggantung di bagian atas panggung dan penonton, juga tidak banyak menghadirkan kejutan yang mampu membuat decak kagum selama konser berlangsung. Termasuk juga kemunculan drone raksasa di pertengahan penampilan Muse – yang sayangnya hanya bergerak mengitari stadion dan membuat penonton terkesan hanya karena ukuran serta bentuknya saja tanpa memberikan kejutan lain.

Kendati demikian, dari sisi musik, Muse tetaplah menampilkan performa terbaiknya dan membuktikan kelas mereka sebagai salah satu band terbesar di planet ini. Sekitar 20 lagu yang mereka bawakan sukses menggetarkan telinga dan mendebarkan dada seluruh penonton yang duduk di kursi bioskop. Tak jarang pula penonton bioskop dibuat ikut bertepuk tangan atau menghentakkan kepala seolah mereka tengah berada di antara ribuan penonton konser Drones World Tour.

Baca Juga: The Generaction Lepas Single Perdana “Beranda Maya”

Semua itu memang berkat penampilan Muse. Mulai dari penampilan sang vokalis, Matthew Bellamy, yang memperlihatkan kepiawaian jemarinya dalam memainkan gitar dengan suara modulasi bak datang dari planet lain sambil tetap menjaga stamina vokal. Christopher Wolstenholme yang hampir tak pernah berhenti mencabik bass bagai mengirim gemuruh petir. Sementara Dominic Howard seperti tak kenal lelah memainkan deru drum demi menjaga tempo musik yang diusung Muse.

Kelebihan film konser Drones World Tour juga hadir dari pemilihan setlist yang dibawakan, di mana mereka lebih banyak memilih lagu-lagu dengan tempo athemic. Sekitar 20 lagu yang mereka bawakan tersebar di berbagai catatan diskografi Muse. Mulai dari album Origin of Symmetry (2001), Absolution (2004), Black Holes And Revelations (2006), The Resistance (2009), The 2nd Law (2012), termasuk juga Drones (2015).

Muse juga seakan ingin memberikan gambaran pada tulisan “Killed By Drone” yang hadir di awal film konser Drones Tour World lewat setlist lagu dengan membangun atmosfir mencekam. Sejak awal penonton memang dibuat bertanya-tanya apa maksud dari tulisan tersebut.

Merujuk pada fungsi drone dalam dunia modern sekarang yang tidak hanya digunakan oleh masyarakat biasa, malah sebelumnya jadi peralatan militer. Mungkin saja pesan yang ingin disampaikan Muse bisa dilihat pada film berjudul Eye In The Sky.

Tentu saja ini hanya kesimpulan gegabah, semua penonton berhak memiliki penilaian mereka masing-masing atas konser Drones World Tour

Bagaimanapun juga film konser Drones World Tour patut mendapatkan pujian karena konsep visual serta kualitas sound system yang berhasil memanjakan mata serta telinga. Meski belum memuaskan sebagian ekspektasi penggemarnya, film konser Drones World Tour telah sukses mengubah suasana gedung bisokop bak konser di arena stadion. (*)

1 KOMENTAR

  1. Hi. I see that you don’t update your website too often. I know that writing articles is time consuming and boring.

    But did you know that there is a tool that allows you to
    create new posts using existing content (from article directories or other websites from your niche)?
    And it does it very well. The new posts are
    unique and pass the copyscape test. You should try miftolo’s tools

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.